Saya tak ingat siapa yang pernah mengatakan kalimat itu kepada saya. Saya juga tidak tahu siapa pencipta kalimat itu. Tapi saya akhirnya percaya dan mengalami apa yang dimaksud kalimat itu. 

Suatu malam, melalui Facebook, saya diminta untuk menjadi juri lomba karikatur oleh karikaturis handal Maulana Wahid Fauzi. Semasa masih bekerja di koran Radar Banten dan Banten Raya Post (sekarang berganti nama menjadi Banten Raya), 

Maulana Wahid Fauzi setiap hari membuat karikatur yang kemudian diletakkan diatas artikel kiriman pembaca. Karikaturnya saat itu tidak hanya dimuat di Radar Banten Group, melainkan juga di belasan media massa koran di bawah bendera Grup Jawa Pos.

Saya tentu kaget menanggapi permintaan Maulana Wahid Fauzi itu. Saya pikir permintaan itu hanya bercandaan. Sebabnya, saya tak pandai membuatkarikatur. Bila diminta menggambar, paling-paling saya hanya bisa menggambar 2 gunung dengan matahari di tengah dan sawah di bagian bawah. Tentu saja ada juga beberapa ekor burung yang sedang terbang di atas langit. 

Karena heran dan tak percaya dengan tawaran itu, sekaligus menegaskan apakah permintaan itu hanya bercanda atau serius, saya bertanya untuk meyakinkan. "Serius, Pak? Jangan becanda," tanya saya kepada Maulana Wahid Fauzi melalui Facebook.  

Pak Fauzi (demikian saya memanggil beliau) meyakinkan bahwa permintaannya adalah serius. Ia kemudian memberi tahu jam berapa saya harus datang ke lokasi di mana lomba digelar. Saya akhirnya mengiyakan permintaannya, meski dengan perasaan heran mengapa karikaturis handal seperti beliau mau mengajak saya menjadi juri karikatur? 

Dua hari kemudian saya mendapatkan jawabannya. 

Pada saat hari H lomba digelar, Pak Fauzi menerangkan kepada belasan peserta lomba karikatur tentang apa saja yang perlu diperhatikan dan dinilai pada sebuah karikatur. Saya yang datang terlambat beberapa menit langsung nimbrung dengan peserta sambil ingin mendengar apa yang disampaikan Pak Fauzi. Tiba-tiba ia memanggil dan meminta saya maju ke depan menemaninya. 

"Ini namanya Kang Tohir dia akan jadi juri karikatur bersama saya," katanyala ngsung pada pokok persoalan. 

Ia menyampaikan kepada peserta bahwa saya sengaja dimintanya menjadi juri karena satu alasan. Saya pada tahun 2010 pernah membuat artikel berjudul "Karikatur Siuzi"yang kemudian dimuat di koran harian Banten Raya. 

Artikel itu membahas sejumlah karikatur yang dibuat Maulana Wahid Fauzi yang dipamerkan di Rumah Dunia dalam rangka peringatan hari ulang tahun Provinsi Banten Ke-10. Berdasarkan penilaiannya, saat itu tafsiran saya mengenai sejumlah karikatur miliknya (dalam artikel itu) telah sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pembuat karikatur. 

"Tidak mudah menerjemahkan maksud karikatur. Tidak semua orang bisa," katanya.

Saya yang mendengar agak tersanjung juga. Saya tidak menyangka artikel itu masih ia ingat. Setelah saya tahu alasan Pak Fauzi meminta saya menjadi juri, saya teringat kembali artikel yang saya buat ketika masih mahasiswa dan tinggal di Rumah Dunia itu. 

Sekarang saya akan cerita proses kreatif sampai artikel itu kemudian lahir. 

Setiap hari Minggu Rumah Dunia berlangganan koran Kompas dan Tempo. Sebagai komunitas yang konsen pada sastra, tujuan berlangganan koran akhir pekan itu tentu saja agar relawan Rumah Dunia membaca dan mengetahui perkembangan seni dan budaya yang terjadi di Indonesia. 

Saya memang suka melihat karikatur yang dimuat di koran KOMPAS berlama-lama. Maka, saya hafal beberapa nama karikatur KOMPAS, seperti GM Sudarta, Jitet Kustana, dan Tommy Thomdean.

Saya juga senang membaca berita, artikel, atau esai yangmengulas karikatur, komik, pameran lukisan, dan semacamnya. Dari proses bacaan itu saya sedikit memahami karikatur. Maka, ketika Maulana Wahid Fauzi menggelar pameran karikatur, saya mencoba menganalisanya dengan pemahaman saya.

Analisa saya itu kemudian saya tuangkan dalam sebuah tulisan dan saya kirimkan melalui surat elektronik (e mail) ke Banten Raya Post dengan menggunakan nama pena Gading Tirta. 

Saya lupa berapa hari setelah tulisan itu saya kirim kemudian dimuat di Banten Raya Post. Yang saya ingat tulisan saya dimuat satu halaman penuh (biasanya sehalaman memuat 2 artikel) dengan ilustrasi beberapa karikatur yang saya singgung dalam tulisan itu. 

Alangkah sudah lama tulisan itu. Tapi efek yang ditimbulkannya masih saya rasakan sampai 6 tahun kemudian, dengan penunjukan saya sebagai juri karikatur oleh Maulana Wahid Fauzi itu. Saya sangat terharu diminta menjadi juri karikatur oleh karikaturis cemerlang itu meski saya tidak bisa menggambar. 

Maka, saya kemudian percaya bahwa tulisan memang akan memiliki nasibnya masing-masing dan membawa penulisnya pada sebuah perjalanan yang tidak pernah disangka-sangka. Bisa jadi tulisan itu juga akan membawa penulisnya ke tempat-tempat yang terpikirkan pun tidak.

Ya, setiap tulisan akan menemukan nasibnya, memberi manfaat pada penulisnya, entah efek yang ditimbulkannya bekerja cepat atau perlahan. 

Karena itu, menulislah. (*)