Sebagai anak rantau Jambi di Jakarta, saya memiliki banyak cerita yang unik, lebih-lebih ke menjengkelkan ketimbang uniknya. 

Contohnya bahasa, meskipun bahasa Indonesia sudah dideklarasikan lebih kurang sembilan puluh satu tahun yang lalu, masih banyak kosa kata yang – kata tersebut masuk ke dalam KBBI - hanya dimengerti atau umum di sebagian daerah saja atau umum digunakan di daerah tertentu.

Sebagai perantau dari kawasan Melayu, tentu saja saya PD ngomong menggunakan bahasa ibu saya. Akan tetapi, karena Jakarta adalah kota yang perkembangan bahasanya begitu cepat sehingga kami yang notabene masih menggunakan bahasa melayu kadang tidak mengetahui bahwa kata yang kami gunakan itu sudah ketinggalan zaman. 

Seperti kata tengok, toleh, bahkan saya pernah ditegur kawan karena bilang ‘mau nyuci pakaian’, yang rupanya kata pakaian terlalu baku di Jakarta.

Belum lagi selesai masalah bahasa, saya sering kesulitan mengenalkan asal saya kepada orang yang baru berkenalan. Saya adalah orang Jambi, salah satu provinsi di pulau Sumatera. 

Akan tetapi, sangat disayangkan dan menjengkelkan karena ada saja yang tidak tahu Jambi itu terletak di pulau yang mana. Saya sangat yakin pembaca yang berasal dari Jambi pernah mengalami betapa tidak terkenalnya provinsi kita.

“Jambi itu sebelah mananya Kalimantan ya?” kata seorang kawan dengan PD-nya bertanya kepada saya suatu ketika.

Atau, “Jambi itu, sebelah mananya Sulawesi ya? “ Jambi itu di mana sih?” atau yang agak betul “Jambi itu Sumatera bagian apa ya?”

Dengan sabar saya mejelaskan bahwa Jambi itu berada di pulau Sumatera, bukan Kalimantan apalagi Sulawesi. Jambi ya Jambi. Tidak ada embel-embel Sumatera di nama Provinsinya. Sama kok kaya Aceh, Bengkulu, Riau dan daerah lainnya.

Saya kira hal ini terjadi karena jarangnya media meliput Jambi. Siapa yang tidak mengingat tsunami Aceh, siapa pula yang tidak mengenal nasi Padang atau supir angkot dari Medan. Bahkan provinsi-provinsi ini punya segudang khas yang dapat mereka tonjolkan, sehingga media sering meliput mereka. Sangat berbanding terbalik dengan tetangga mereka di tengah pulau Sumatera itu.

Bahkan untuk pertanyaan yang lebih spesifik kami kesulitan untuk menjelaskannya, seperti pertanyaan makanan khas.

“Apa sih makanan khas Jambi? Tanya seorang kawan suatu ketika.

Saya yakin semua orang Jambi secara kontan akan menjawab, tempoyak. Tempoyak itu semacam bumbu yang dibuat dari permentasi durian. Bentuknya agak seperti pup yang berwarna kuning. Rasanya asem dan segar. Biasa diolah menjadi gulai, sambel atau pepes. Rasanya tak usah diragukan lagi. Kalau ga percaya, coba deh!

Akan tetapi, rupanya tidak cuma Jambi yang menjadikan tempoyak sebagai bumbu. Tetangga sebelah selatannya (buka petamu kalau gak tau tetangga selatannya Jambi) yang lebih populer juga menjadikan tempoyak sebagai bumbu. Dan, sialnya mereka juga menganggap tempoyak sebagai salah satu khasnya. Sialnya lagi kami tidak dapat serta merta mengakui pempek seperti yang diakui oleh mereka.

Memang tetangga kami yang satu itu sering berebut khas dengan kami. Selain dua hal yang saya sebutkan di atas, kami juga kalah dalam perebutan makanan khas lainnya, duku. Siapa yang tidak mengenal duku Palembang (ehh, kesebut) atau duku Komering. 

Dua nama tersebut telah memonopoli dunia perdukuan di Indonesia. Bahkan, walaupun si duku tidak berasal dari daerah tersebut tetap saja ditulis besar-besar : DUKU PALEMBANG.

Padahal Jambi juga dikenal akan kemanisan buah dukunya, setidaknya itu menurut orang Jambi sendiri, hehe. Di Jambi, kami mengenal duku Kumpeh yang besar-besar dan manis dan duku Sungai Manau yang tiada duanya (masih di daerah Jambi :D).

Sayangnya duku tersebut dijual ke Palembang dan kemudian dikirim ke Jawa. Sehingga nama Palembang-lah yang populer dan memonopoli dunia perdukuan di Indonesia.

Saking senangnya Palembang mencari masalah dengan kami, bahkan identitas bahasa kami pun ingin ‘dicaploknya’ juga. Bahasa kami memang sangat mirip dengan Palembang. Terutama bahasa kota Jambi. Akan tetapi keduanya memiliki beberapa perbedaan yang mencolok, yang akan tetapi tidak semua orang dapat membedakannya. Ini seperti kami yang kesulitan membedakan bahasa Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Baca Juga: Sang Anak Rantau

Akan tetapi, mau gimana pun juga kami kesel ketika sedang asyik masyuk berbicara bahasa Jambi tiba-tiba dengan PD-nya orang di sebelah kami nyeletuk : Mas, dari Palembang ya?

Palembang. Palembang. Raimu Palembang!

Pada akhirnya Jambi ya Jambi. Sebuah provinsi yang tidak terkenal di Indonesia. Padahal di sana ada salah satu puncak tertinggi di Indonesia, gunung Kerinci. Ada komplek percandian terluas di Indoneisa, komplek candi Muaro Jambi. Tetapi tidak banyak yang tahu tentang ini. Lagi pula siapa juga yang mau mengorek-ngorek gunung apalagi candi di Jambi.

Karena sudah merasa putus asa, akhirnya saya selalu mengenalkan Jambi melalui kasus korupsi gubenur Jambi Zumi Zola beberapa tahun silam.

“Oh, yang gubenurnya ketangkap KPK itu, ya!” kata kawan saya baru notice tentang Jambi.

Makasih, Pak Zumi Zola.