Semua manusia dilahirkan bebas dan menjalani hidupnya melalui akal, kesadaran diri, dan kesadaran untuk mewujudkan berbagai potensi yang dimiliki setiap individu. Menjadi manusia juga harus memahami bahwa orang lain juga manusia, sehingga persamaan hak dan martabat harus dihormati.

Namun, saat ini nilai kehidupan manusia harus dipertanyakan, terutama di era media sosial yang penuh dengan tindakan cyberbullying, subkultur, berita hoax, fitnah, dan masih banyak lagi kebobrokannya yang mengancam harkat dan martabat orang-orang di balik penggunaan teknologi. 

Saat ini, hampir dapat dipastikan bahwa setiap orang yang memiliki smartphone juga memiliki akun media sosial seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram, dan seterusnya. Situasi ini seperti kebiasaan komunikasi yang berubah di era digital seperti sekarang ini.

Di masa lalu, hal itu adalah pertemuan yang sangat biasa yang melibatkan pertukaran kartu nama, tetapi sekarang kita cenderung bertukar alamat akun dan berteman di media sosial setiap kali bertemu. Perkembangan di bidang teknologi dan inovasi internet tidak hanya memicu munculnya media baru. Berbagai aspek kehidupan manusia, seperti komunikasi dan interaksi, juga telah mengalami perubahan yang tidak terduga sebelumnya.

Dunia tampaknya tidak memiliki batas (tidak ada batas) serta tidak ada rahasia untuk ditutupi. Kita dapat mengetahui aktivitas orang lain melalui media sosial, meskipun tidak mengenal mereka dan bertemu langsung atau di luar jaringan (offline).

Sebuah studi yang diterbitkan oleh Crowdtap, Ipsos MediaCT, dan The Wall Street Journal pada tahun 2014 yang melibatkan 839 responden berusia 16 hingga 36 tahun menemukan bahwa  waktu yang dihabiskan orang di internet dan media sosial mencapai 6 jam 46 menit per hari, jauh melampaui operasi akses media tradisional.

Meskipun hanya dapat digunakan untuk waktu yang terbatas dan tidak dimaksudkan untuk mengklaim bahwa itu adalah perilaku semua khalayak di seluruh dunia, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media tradisional tidak lagi menjadi sarana akses publik yang dominan.

Kebutuhan untuk menjalin hubungan sosial di Internet adalah alasan utama akses publik ke media. Kondisi ini tidak dapat dicapai ketika publik memiliki akses ke media tradisional. Tak heran jika kehadiran media sosial menjadi fenomena. Facebook, Twitter, YouTube, Instagram, hingga Path adalah beberapa jenis jejaring sosial yang diminati banyak audiens.

Menurut Soeparno dan Sandra, dunia maya, seperti halnya jejaring sosial, merupakan sebuah revolusi besar yang mampu mengubah perilaku manusia saat ini, di mana persahabatan dilakukan melalui media digital.

Realitas menjadi augmented dan virtual, harus disesuaikan dan diintegrasikan di mata penelitian psikososial kontemporer, ubiquitous (di mana-mana), dan pervasive mungkin merambah ke bidang ilmu pengetahuan dan penelitian. Bahkan, jejaring sosial telah mengubah kehidupan sosial hampir di semua tingkatan dan kelas sosial. Perubahan dan perkembangan masyarakat pada hakikatnya diperlukan untuk membuat siklus sosial berputar.


Dua Sisi Mata Uang Media Sosial

Media sosial memiliki dampak positif dan negatif, ibaratkan dua sisi mata uang yang berlawanan. Efek positif dari penggunaan jejaring sosial sebenarnya membawa perubahan sosial yang positif di masyarakat, namun efek negatifnya cenderung membawa perubahan sosial di masyarakat yang dapat menghilangkan nilai-nilai media sosial dan nilai atau norma masyarakat.

Dengan hadirnya media sosial sebagai teknologi baru, tentunya cara hidup masyarakat juga akan mengalami perubahan. Sejumlah perubahan membantu orang mengumpulkan informasi lebih efisien dan efektif tanpa kendala waktu, tempat, dan biaya banyak.

Perubahan hubungan sosial, atau perubahan ekuilibrium hubungan sosial, dan segala macam perubahan dalam pranata sosial suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosial, termasuk nilai, sikap, dan perilaku antar kelompok dalam masyarakat.

Masyarakat dapat berkomunikasi langsung dengan Presiden melalui media sosial untuk menyampaikan saran, kritik, dan pendapat yang membangun. Jika menurut cara konvensional, masyarakat terlebih dahulu harus menjadi wakil rakyat, anggota DPR, atau berdemonstrasi di depan istana presiden untuk menyampaikan keinginannya, dan sekarang cara ini cenderung ditolak.

Dari segi ekonomi, dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap media sosial, banyak dari kita yang mendapatkan keuntungan dari berbisnis melalui media sosial. Orang-orang kemudian akan semakin bergantung pada media sosial, dan itu akan mempengaruhi kehidupan sehari-hari mereka.

Mengakses jejaring sosial setiap saat telah menjadi kebutuhan baru bagi masyarakat untuk tetap up to date dengan informasi karena jejaring sosial telah menjadi sumber informasi yang lebih nyata dibandingkan media lainnya.

Dampak negatif terhadap perubahan sosial di masyarakat antara lain sering terjadi konflik antar suku, ras, atau agama tertentu. Atas nama agama, beberapa kelompok dengan jumlah pengikut media sosial yang besar cenderung menggunakan waktu-waktu tertentu untuk memobilisasi massa dalam kegiatan tertentu.

Media sosial secara langsung mempengaruhi pembentukan kelompok sosial tersebut dengan menanamkan prinsip, nilai, dan keyakinan tertentu untuk menjadi pengubah sistem. Bahkan dengan media sosial, kelompok-kelompok ini dengan mudah mempengaruhi stabilitas suatu negara.

Ada pula latar belakang ketimpangan sosial yang kerap menimbulkan komentar dan berujung pada konflik. Jika dilihat dari interaksi sosial, pengaruh perubahan sosial dalam masyarakat terjadi karena semakin mudahnya manusia berinteraksi melalui jejaring sosial, maka interaksi sosial di dunia nyata juga akan semakin berkurang. Masyarakat tidak perlu lagi bertatap muka untuk berkomunikasi, yang akan membentuk gaya hidup masyarakat yang semakin tertutup.


Nilai-Nilai Kemanusiaan pada Diri Generasi Muda di Tengah Hiruk-Pikuk Media Sosial

Generasi muda adalah masa transisi pemuda untuk kaum muda menuju dewasa, dan mereka belum mencapai stadium matang dan dewasa sehingga mereka harus berurusan dengan tekanan emosional, psikologi, dan konflik sosial. Dengan semua potensi, kepribadian dan, konflik di dalam dirinya, menyebabkan generasi muda menjadi jiwa khusus selama masa transisinya.

Tren generasi muda saat ini dalam psikologi, perilaku, dan gaya hidup segera, hedonis, dan cenderung kehilangan identitas yang berasal dari budaya. Degradasi kualitas nilai kemanusiaan mereka saat ini memasuki tingkat yang mengkhawatirkan, ditandai dengan melemahnya identitas dan ketahanan etika. 

Hal tersebut juga tercermin dari rendahnya kemampuan merespon dinamika perubahan yang didorong oleh kebutuhan zaman yang disoroti oleh pesatnya perambahan budaya global.

Budaya etnis dianggap mampu berperan sebagai katalis dalam adopsi nilai-nilai luhur universal, dan sebagai filter terhadap penetrasi budaya dunia negatif yang telah gagal beroperasi secara normal. Tanpa sikap adaptif yang penting, adopsi budaya negatif, termasuk sikap konsumeristik dan egoistis, akan berkembang lebih cepat daripada adopsi budaya positif dan efektif.

Bagi kalangan muda, media sosial tampaknya menjadi kebutuhan wajib. Tidak ada hari yang diadopsi dengan membuka media sosial, bahkan selama 24 jam, mereka tidak dapat dipisahkan dari smartphone. Masing-masing media sosial ini memiliki keunggulan sendiri untuk menarik penggunanya.

Media sosial menawarkan banyak kenyamanan yang dapat membuat remaja merasa di web berselancar di dunia maya. Media sosial mengundang siapa pun yang tertarik untuk berpartisipasi dengan memberikan komentar yang dijamin untuk berkomentar, serta membayangkan informasi yang diperoleh dengan cepat dan tidak dipukul.

Generasi muda pada jejaring sosial sering memposting aktivitas pribadi, cerita, dan foto bersama teman dan keluarga. Di sana, orang dapat dengan bebas berkomentar dan berbagi pendapat tanpa kekhawatiran. Memang, di Internet, terutama di jejaring sosial, sangat mudah untuk memalsukan identitas dan bahkan untuk melakukan kejahatan.

Selama perkembangan sekolah, remaja berusaha menemukan jati dirinya dengan bergaul dengan teman sebayanya. Namun, remaja masa kini sering berpikir bahwa semakin aktif mereka di media sosial, mereka akan semakin dingin dan canggung. Sedangkan remaja tanpa jejaring sosial seringkali dianggap kuno, terbelakang, dan kurang bersosialisasi.

Hal ini sesuai dengan teori perkembangan remaja yang menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa perkembangan dalam segala aspek. Dengan demikian, menjadi labil atau mudah terpengaruh merupakan ciri dari kalangan muda itu sendiri.

Orang tua beranggapan bahwa anak yang pernah mengalami dan menggunakan media sosial dalam kesehariannya tidak lagi membutuhkan nasihat orang tua untuk menyelesaikan segala permasalahan atau kesulitan yang dihadapi anak dalam proses belajarnya. Alasan klasik yang pada dasarnya menutupi alasan sebenarnya, yaitu ketidakpedulian orang tua terhadap masalah anaknya.

Kurangnya kepedulian orang tua terlihat ketika mereka tidak sempat bertanya bagaimana keadaannya secara lisan atau sekedar bercerita tentang peristiwa yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, di masyarakat, atau di rumah, atau bahkan orang tua yang sibuk dengan gadgetnya sendiri.

Solusi yang diberikan oleh orang tua adalah memberikan kebebasan kepada anak untuk menggunakan gadget. Jika perangkat elektronik ini tidak digunakan dengan bijak, lambat laun akan berdampak negatif. Misalnya, kecanduan karena ketidakmampuan untuk berpisah dari jejaring sosial, gangguan komunikasi dalam keluarga, dan hilangnya sopan santun karena terbiasa dengan bahasa yang digunakan di jejaring sosial.

Orang tua tidak siap menghadapi perubahan perilaku remaja akan merasakan kehilangan atau keintiman bagi anak-anak mereka. Kedekatan remaja semakin berfokus pada teman untuk bermain. Orang tua perlu mendukung dan membimbing anak-anak secara emosional sehingga mereka dapat mengatasi degradasi nilai-nilai kehidupan yang lesap ditengah hiruk-pikuk media sosial. 

Generasi muda harus diarahkan untuk menjadi orang-orang yang unik, dengan minat, kreativitas, dan bakat yang spesial sebagai upaya untuk membentuk identitas diri mereka.

Dalam menyongsong kehidupan abad milenium, generasi muda harus mereposisi perilaku dan perannya dengan menanamkan nilai-nilai religiusitas serta autentisitas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Sudah saatnya generasi muda memposisikan ulang perilakunya dengan menjauhi budaya hedonis dan penuh kepalsuan yang tidak sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Selain itu, generasi muda harus lebih berperan aktif dalam mengakarkan nilai-nilai moral, terutama dalam konteks kehidupan bermasyarakat.

Peran inilah yang harus dimainkan secara aktif oleh generasi muda bersama-sama dengan segmen masyarakat lainnya dengan tidak melepaskan hakikat kita sebagai manusia yang terhormat dan bermartabat.

 

Sumber

Cahyono, A. S. (2016). PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT DI INDONESIA. Publiciana, 9(1), 140-157.

Kusmaryanto, C.B. (2015). Bioetika. Jakarta: Kompas Press.

Soeparno, K. (2016). SOCIAL PSYCHOLOGY: THE PASSION OF PSYCHOLOGY. Buletin Psikologi, 19(1).

Nasrullah, R. (2016). Media sosial : perspektif komunikasi, budaya, dan sosioteknologi. Simbiosa Rekatama Media.