“Museum menjadi lembaga non-profit yang memiliki sifat permanen untuk memberi pelayanan terhadap masyarakat dan perkembangannya, yang terbuka untuk umum, yang memiliki tugas untuk mengumpulkan, meneliti, melestarikan, mengomunikasikan, serta memamerkan warisan dari sejarah manusia.”

Sebuah pernyataan yang diungkapkan oleh International of Museum (ICOM) atau Dewan Museum Internasional―sebuah lembaga swadaya yang memiliki peran untuk menjaga warisan budaya dunia, serta melawan perdagangan ilegal internasional atas semua cagar budaya.

Bertepatan dengan Hari Museum Nasional Indonesia, yang jatuh pada 12 Oktober, maka sudah semestinya kita meretrospeksi peran yang telah banyak diberikan oleh Museum sebagai tempat berskala terjangkau yang kerap dikunjungi.

Bila dikulik dari struktur asal kebahasaan, maka kata Museum berasal dari bahasa Yunani yaitu mouseion yang menggambarkan sebuah nama kuil dari sembilan Dewi Muses atau Musai―yang dilambangkan sebagai Dewi sumber ilmu pengetahuan dan pusat inspirasi seni.

Di mana salah satu dewi, yakni Dewi Kleio yang  kerap dijuluki sebagai “Sang Proklamator” atau Dewi Pencerita adalah seorang Dewi yang dilambangkan sebagai sumber sejarah bersimbol gulungan perkamen atau lembaran kertas-kertas kuno.

Maka tak heran bila museum banyak didirikan di berbagai negara, termasuk Indonesia sebagai perlambang atas penyaksian nyata―perjuangan proklamasi sejarah sebuah negara atas dasar kemerdekaannya.

Sebutlah saja satu di antaranya, Museum Galeri Nasional yang berada di tengah hiruk-pikuk pusat kota Jakarta. Sebuah Museum arsitektur Belanda, berwujud galeri kesenian―tempat dimana para seniman memajang hasil karya seni rupa modern (kontemporer) yang ingin diperlihatkannnya kepada khalayak ramai.

Namun, dengan tetap mengenyam kewajibannya sebagai ruang pendidikan dan tempat bersosialisasi masyarakat yang membutuhkan sosoknya sebagai tempat memperbincangkan budaya―seperti penelitian, workshop, seminar, atau tur galeri yang beberapa tahun kebelakang ini sedang marak dilakukan dan digemari oleh masyarakat kita.

Berbondong-bondong manusia, kerap berkunjung ke museum yang kini berlabel sebagai tempat wisata fungsional dan ringan di kantong tersebut. 

Museum yang semestinya dijadikan sebagai tempat menggali kisah kesejarahan bangsa, kini kerap menjadi wahana pelesir bagi masyarakat yang terbilang terjangkau. Baik dari sisi ekonomi maupun sisi letak yang strategis untuk didatangi.

Dengan tiket masuk yang berkisar antara Rp2.000 hingga Rp10.000 bagi turis mancanegara yang ingin turut menikmati keelokan sejarah Indonesia. Sebuah tempat yang seyogianya dijadikan sebagai sumber inspiratif―pusat menggali pengetahuan sejarah negara, budaya, tradisi ataupun kearifan lokal lainnya.

Di mana begitu banyak artefak, arca, prasasti, maupun naskah-naskah kuno yang berada di dalamnya, hingga selayaknya kita sebagai masyarakat Indonesia yang menjunjung nilai-nilai kebangsaan mampu mengeksplorasi dan menghargai lebih dari sekadar mengagumi ataupun berkunjung ke sana.

Sebuah konsep pemikiran untuk menikmati dan mempelajari kearifan museum yang telah menjadi simbol saksi peradaban bangsa. 

Namun, sebuah kondisi yang tak satu pun menduga kini terjadi. Kondisi dimana hampir semua museum pun harus turut tabah menghadapi situasi yang tengah dialami. Pandemi Covid-19, yang mulai terjadi pada Maret 2020 ini. 

Bukan hal baru, ketika semua instansi ataupun layanan publik mematuhi kebijakan protokol pemerintah untuk tidak mengaktifkan tempat usahanya dalam batas waktu yang telah ditentukan. Suasana Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang kini kembali kita lakukan.

Tak ada lagi keramaian dan pembicaraan langsung para budayawan ataupun seniman di ruang sosial-seni bersejarah tersebut. Tempat di mana pameran seni, hasil karya serta peninggalan sejarah yang dulu padat dikunjungi oleh semua segmentasi masyarakat, kini hanya berdiam pada tempat perkenalannya.

Museum, di mana kisah panjang sejarah dibawa hingga melewati samudra. Seperti kisah beberapa koleksi arca di Museum Nasional yang masih berada di Rijksmuseum milik Belanda.  

Namun melansir dari BBC, segera udara segar negeri pun bertiup. Ketika akhir tahun lalu pihak Belanda telah mengembalikan 1.500 benda budaya Indonesia dari Museum Nusantara di Delft. Repatriasi benda bersejarah, yang akan bermanfaat sebagai sumber informasi peradaban dan dokumentasi bangsa. 

Menjadi satu wadah edukatif yang mengizinkan siapa pun untuk mengakses informasi dan kekayaan sejarah secara ekonomis dan nyata.

Walaupun, akan ada tujuan berbeda pada setiap individu yang mengunjunginya. Tak melulu mengenai perspektif pendidikan, terkadang sebuah pengetahuan dapat pula  menjadi suatu penghiburan bagi mereka yang membutuhkannya. Seperti kehadiran museum di tengah-tengah padatnya kota.

Kini, kembali museum harus berdiri tegap untuk menopang jati dirinya sebagai bangunan bersejarah kebanggaan bangsa. Mengikuti kondisi pandemi yang seperti meluluh lantakkan perekonomian sebagian besar warga dunia. 

Beberapa museum kini bahkan telah mengonversikan sistem publikasinya ke dalam bentuk digitisasi―sebuah proses alih media dimana semua hal yang biasa para penggiat seni dan sejarah lakukan secara langsung, kini turut mengadaptasi sistem era baru dan kekinian tersebut.

Dimulai dari melakukan museum virtual trip seperti yang tengah dilakukan oleh Museum Nasional Indonesia ataupun pembahasan dan pertemuan lain yang dilakukan melalui sistem jarak jauh video conference (video meeting), serta program komputerisasi lainnya.

Ibarat bongkahan emas yang dapat disulap menjadi perunggu, maka tak ada salahnya bila sebuah museum pun kini turut mengambil peran demi berlangsungnya proses penyebaran pengetahuan sejarah, seni, dan budaya bangsa.

Bukan berarti keadaan darurat internasional pandemi ini, malah mengungkung jiwa sejarah yang telah berdiam di dalam tubuh kita. Sebaliknya, bahwa ruang-ruang seni dan budaya haruslah terbuka untuk mengisi kekosongan ide dan pemikiran anak-anak bangsa pada nantinya.

Menuliskan nilai sejarah tersendiri, bahwa museum tidaklah perlu mafhum atas apa yang telah dialami. Kita yang perlu memahami, bahwa museum adalah bagian dari kearifan sejarah yang sepatutnya ditindaklanjuti di negeri ini.