Motor yang dikendarai Doni hancur tak berupa, setelah ia menabrakannya ke tembok kampus di sisi kiri jalan. Anjing! Seketika ia melontarkan kata tersebut kepada kucing-kucing yang menyeberang sekenanya. Entah karena ia belum memiliki kosa kata “kucing” dalam kepalanya, sehingga kucing pun ia sebut anjing, atau memang dalam penglihatannya sekilas yang menyeberang adalah anjing. 

Nasib, nasib. Saat jam kuliahnya sudah di ambang pintu, kini ia harus berurusan dengan temannya. Sebab motor yang ia kendarai bukan miliknya.

Bukanya tak peduli terhadap kondisi motor temannya itu, tapi ia masih ingin melanjutkan kuliahnya. Ini sudah ke empat kalinya ia mengulang mata kuliah yang sama. Setiap semester selalu sama kasusnya, ia terlambat datang saat ujian. Dan saat motor yang ia kendarai menabrak tembok kampus itu, setelah kucing yang disebut anjing, ia lari menuju lantai dua, ruang teater fakultas tempat ujian dilaksanakan serentak.

Dengan nafas yang terengah-engah ia tiba di depan ruangan. Pintunya sudah tertutup, ia bimbang untuk membukanya, sebab jam sudah menunjukan pukul 07.05, itu artinya sudah lebih lima menit dari jadwal.

Beruntungnya ia sebab saat pintu di buka, dosen belum berada di tempatnya, meskipun semua bangku sudah terisi penuh, dan ia menjadi mahasiswa terakhir yang menempati bangku. Di barisan paling depan, persis di depan bangku tempat dosen akan duduk. Tak apa walaupun di depan dosen, yang penting aku bisa ujian, pikirnya.

Sepuluh soal bisa ia jawab seluruhnya. Belum tentu benar memang, tapi setidaknya ia bisa mengerjakannya dengan penuh. Seluruh baris dalam kertas polio bergaris itu ia bubuhi dengan tinta hitam. Selain mengandalkan ingatannya yang sudah mulai memudar, tapi imajinasinya tidak demikian. Imajinasi menjadi sumber paling mutakhir dalam mengerjakan soal tersebut.

Seluruh soal dan jawaban sudah terkumpul kembali di meja dosen. Setelah dosen keluar pintu, seluruh mahasiswa segera mengikutinya keluar. Bukan untuk membuntutinya, tetapi karena ruangan ini akan dipakai segera oleh yang lain.

Tepat saat keluar ruangan itu, Doni baru teringat hal penting lainnya. Namaku belum di tulis di kertas polio tadi. Goblok, Goblok! Ia mengutuk dirinya akibat keteledoran yang dilakukan. Segera ia berlari menyusul dosen yang masih terlihat berjalan menuruni tangga. Tepat saat di undakan tangga terakhir ia memanggil dosen tersebut. “Tunggu, Pak Indra.”

Seketika Pak Indra menoleh saat kaki kanannya sudah berayun ke depan, dan kita tahu selanjutnya bahwa Pak Indra jatuh tersungkur akibat pijakannya yang tidak kuat. Pak Indra tidak mengaduh saat ia jatuh, justru Doni yang ada beberapa undakan di atasnya yang mengaduh.

“Mari, saya bantu, Pak.” Doni sigap dan segera mendekat ke arah dosennya jatuh.

“Bantu, bantu ndasmu! Gara-gara kamu panggil di saat yang tidak tepat, saya jadi jatuh.”

“Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud demikian.”

“Ngapain bengong? Cepet bantu, tolong angkat saya.”

Pak Indra yang berat badannya sudah melebihi kategori obesitas ini terasa berat sekali saat Doni berusaha mengangkatnya. Tubuhnya yang kurus kerempeng kontras sekali saat bersanding dengan Pak Indra. Beratnya hanya 48 kilogram, sementara Pak Indra kira-kira lebih dari 100 kilogram. Tingginya tidak seberapa, mungkin sekitar 155 sentimeter, yang menambah kesan bulat dalam dirinya.

Setelah berhasil diangkat dan kembali berdiri, Pak Indra menyuruh Doni untuk mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan. Lalu menyuruhnya untuk diantar ke ruangannya. Saat mengumpulkan kertas itu, ia berusaha mencari kerta polio jawabannya. Ia sengaja memperlambat pekerjaannya. Sampai Pak Indra akhirnya berlalu menuju ruangannya dan menyuruh Doni untuk segera ke ruangannya apabila sudah selesai.

Ya Tuhan, terima kasih telah memberiku kesempatan kedua. Doni lantas pergi ke ruang Pak Indra setelah kertas yang berceceran terkumpul dan disusun kembali dengan rapi, juga tak lupa membubuhkan namanya di kertas polio bergaris jawabannya.

“Lain, kali yang pas kalau mau manggil, jangan seperti tadi. Sakitnya tak seberapa, tapi malunya itu yang gak ketulungan. Kamu ga liat tadi mahasiswi saya cekikikan menertawakan saya?”

“Iya, Pak. Maaf, saya tidak sengaja.”

“Maaf, maaf. Yasudah pergi sana.”

Doni keluar ruangan dengan perasaan yang lega. Satu cobaan berhasil ia lewati. Kini tinggal satu yang harus ia selesaikan. Motor!

Di tempat ia meninggalkan motor temannya itu, kini sudah banyak orang berkerumun. Terdengar seseorang sedang menangis tersedu-sedu. Dilihatnya ternyata itu adalah Afif, temannya yang memiliki motor itu. Ia tak berani menampakkan dirinya, perlahan ia melangkah mundur, menjauhi kerumunan dan membalikkan badan. Belum langkah kaki kanannya sempurna, di belakangnya terdengar teriakan, “Doni, Goblok kau, sini!”

Kaki kanan yang masih tergantung 90 derajat itu ia kembalikan ke posisi semula. Ia kembali membalikkan badan, lantas tersenyum kepada Afif dan orang-orang yang melihat kepadanya.

Ia mengaku bersalah, memohon maaf kepada Afif atas motornya yang kini sudah tak berupa. Tapi ia pun tak tahan menahan tawa, sebab Afif yang bertubuh tinggi besar, dengan rambut gondrong sampai ke pinggang ternyata bisa menangis tersedu-sedu seperti itu. Tangisannya seperti rengekan anak kecil yang ingin membeli permen namun tak dibelikan orang tuanya. Menangis sambil duduk di tanah.

Setelah tangisnya mulai mereda, Doni mengajak Afif untuk kembali ke kosnya, kos Jasiri, yang tak jauh dari tempat ia menabrak tembok. Motor yang sudah tak berupa itu dituntunnya, sedangkan Afif mengikutinya di belakang dibantu oleh Habib dengan memegang tubuhnya agar tidak ambruk.

Meskipun tampangnya garang, Afif adalah sosok lelaki yang lemah lembut, mendayu-dayu dan melankolis.

Di kosnya, Afif tak banyak berbicara, setibanya ia langsung merebahkan diri dan tertidur tak berselang lama. Doni dan Habib bingung harus berbuat apa selanjutnya. Sambil menunggu Afif bangun, ia meraih kopi di dekatnya, mengambil dua sendok lalu dituangnya ke gelas. Air panas meluncur dari dispenser, lantas dikoceknya kopi tersebut. Setelah tercampur rata ditambahkannya gula satu sendok, dikocek kembali baru ia minum.

“Anjingg!” Doni berteriak seketika, kopi yang ia minum masih terlalu panas, bibirnya masih menyungging setelah air panas membasahinya.

Menjelang sore, Afif akhirnya bangun. Ia melihat Doni dan Habib sedang tertidur di kamarnya. Ia bingung kenapa kedua temannya bisa tidur disini. Dalam sekejap ia ingat motornya. Ia keluar segera dan meihat motornya yang tadi ia temukan sudah tak berbentuk di samping tembok kampus. Ia kembali menangis, Doni dan Habib terbangun karenanya.

“Kau harus ganti semuanya Don.”

“Iya, Fif. Maaf, nanti akan kuganti semuanya.”

“Ganti yang baru!”

“Loh, ko ganti baru sih Fif, kan tinggal di ganti bagian depannya saja, ban, pelek, dan kaki-kakinya.”

“Pokoknya, harus kembali seperti semula, gimana pun caranya.”

“Iya nanti aku perbaiki Fif, sori.”

Setelah tangisnya mereda, Aif kembali masuk ke kamarnya, membaringkan tubuhnya dan kembali tertidur.

Doni masih jongkok di luar, memandang ke arah motor yang terkulai lemas. Uang semesteran terbayayang di benaknya.

“Dasar, kucing anjing!”

Ternyata Doni sudah mengetahui kosa kata kucing dalam kepalanya, namun, ia merasa kucing belum bisa mandiri, sehingga, anjing masih ia sertakan bersamanya.