Penulis
3 minggu lalu · 63 view · 3 min baca menit baca · Gaya Hidup 87032_39782.jpg
Ilustrasi: ShopBack

Nasib Kertas Undangan

Kita semua sepakat bahwa era digital telah menjadi era yang ikut berperan menghilangnya beberapa produk kertas. Kalaupun tak hilang, secara kuantitas mengurangi penggunaan kertas. 

Sebut saja kartu pos dan kartu ucapan selamat lebaran. Dahulu sangat populer, namun kini sangat minim digunakan bahkan nyaris tak ada lagi yang menggunakan.

Selain kedua kartu tersebut, undangan rapat organisasi maupun LSM kini sudah jarang digunakan. Dengan mengirimkan pesan singkat via WhatsApp maupun media sosial sejenis, undangan kertas sudah tergantikan. 

Akan tetapi, ada satu undangan yang hingga kini tak tergantikan dengan media sosial. Kalaupun pesan sudah tersampaikan melalui media sosial, undangan dalam bentuk kertas tetap diberikan.

Berdasarkan pengalaman saya beberapa hari yang lalu ketika keponakan saya akan melangsungkan pesta pernikahan, undangan dalam bentuk kertas harus disebarkan. Padahal, sudah ada undangan melalui media sosial. 

Saya kurang tahu apakah tradisi menggunakan kertas undangan masih digunakan di daerah lain. Kertas undangan dianggap undangan resmi yang tidak tergantikan meski dengan pesan elektronik.

Kertas undangan sebagai representatif orang yang akan mengadakan hajatan. Menggunakan SMS, WA, serta instant messenger dianggap kurang hormat atau sopan. Jika jarak tidak memungkinkan untuk mengantar kertas undangan, menelepon langsung sebagai penggantinya. Ternyata kertas memiliki aspek kultur bukan sebatas media perantara.


Melalui kertas undangan pesta pernikahan, talian persaudaraan tetap erat. Kini dengan smartphone, ikatan tersebut makin luntur. Kita lebih sering berkomunikasi dengan media sosial. Tak salah memang, namun komunikasi bertatap muka langsung lebih mengeratkan hubungan kekeluargaan maupun pertemanan.

Saya sudah merasakan sendiri ketika mengantarkan undangan pesta pernikahan. Barangkali Anda juga merasakan hal yang sama ketika mudik maupun ketika bertemu langsung dengan relasi kerja. Tradisi undangan secara tertulis menggunakan kertas bukan hanya sebagai perantara, tetapi sebagai pengingat dari banyaknya acara yang harus dihadiri.

Kerap kali kita lupa setelah membaca pesan di media sosial. Apalagi ratusan bahkan ribuan pesan kita terima setiap harinya. 

Menurut saya, tradisi mengundang dengan kertas patut dipertahankan. Namun, di sisi lain, muncul problem; setelah acara berlangsung, nasib kertas undangan menjadi tak jelas. Sebagian kertas berakhir di tong sampah, ada pula yang tercecer. Barangkali hanya pengantin dan keluarga yang menyimpannya sebagai bukti sejarah maupun sebatas kenangan.

Jika kita ikuti proses pembuatan kartu tersebut, kiranya tak pantas hanya menjadi sampah tak berguna. Mulai design kartu, pemilihan jenis kertas, warna, yang kesemuanya memiliki pesan tersendiri. 

Makna filosofis sebuah kertas undangan pesta pernikahan bukan hanya tak mampu dibaca oleh keluarga dan para undangan. Kedua mempelai pun kadang tak mampu menguraikan filosofisnya.

Pemilihan warna biasanya hanya disesuaikan dengan warna kesukaan mempelai. Aspek makna memang kurang diperhatikan. Wajar bila sebuah undangan dibuat dengan harga supermahal demi harga diri keluarga, namun 'miskin' makna. Selain mubazir, undangan dengan tujuan tersebut telah misorientasi.

Baru-baru ini, Walhi Aceh merilis hasil temuannya. Menurut mereka, hutan Aceh telah hilang akibat praktik kejahatan kehutanan lingkungan. Aceh telah kehilangan 175 hektare luas hutan (serambinews). 

Menurut Walhi Aceh, praktik illegal logging di Aceh terdapat di 17 kabupaten/kota dan tersebar di 35 kecamatan. Praktik itu salah dan sebaiknya tidak kita tambah dengan perilaku mubazir sebagai pengguna kertas. 


Penghematan kertas undangan pesta pernikahan tanpa menghapus tradisi itu. Misalnya satu undangan bisa diberikan untuk keluarga besar. Saat mengantar undangan saya sampaikan begitu. Kita beri penjelasan bahwa undangan diberikan atas nama kepala keluarga tertua dan keluarga besar. 

Saat mengantarkan undangan, kita menyatakan bahwa anak dan anak menantu bapak/ibu sudah termasuk di dalamnya. Melalui penghematan ini, terutama di musim kawin pasca lebaran, kita menjaga dua hal penting. Pertama, tali silaturahmi. Kedua, bersikap efisien demi masa depan hutan dan lingkungan kita.

Faktanya, selama ini pemborosan kertas undangan sering kita lakukan. Bayangkan bila bapak/ibu 'A' memiliki anak 7 - 8 orang yang sudah berkeluarga. Bila setiap anak dari bapak/ibu tersebut harus dicetak undangan padahal rumah mereka bersebelahan, tentu akan menambah biaya cetak maupun kertas undangan. 

Bukan soal pelit, tetapi efisiensi itu penting. Apalagi nasib kertas undangan setelah acara selesai hanya menjadi sampah atau dibuang ke got depan rumah.

Menurut saya, jika ada hubungan kekerabatan satu rumah dengan rumah lainnya, cukuplah dicetak undangan satu untuk semua. Hal-hal kecil begitu, menurut saya, tetap memiliki pengaruh. Demikian pula undangan untuk sebuah instansi/organisasi, sebaiknya tak perlu per individu, tetapi ditambah keluarga besar setelah nama instansi/organisasi tersebut.

Bayangkan berapa penghematan kertas maupun biaya yang didapat. Sikap boros kertas harus kita hindari tanpa harus mengorbankan tradisi.

Artikel Terkait