Dari Teluk Guinea hingga Tanduk Somalia, dari Gurun Sahara hingga Tanjung Harapan, setiap sudut adalah perang. Setidaknya, itu gambaran umum - atau yang paling populer - bila membicarakan, menulis, membaca apapun tentang kondisi sosial dan politik Afrika. Perang berkepanjangan itu bukan hanya membuat Afrika menjadi benua termiskin - atau dimiskinkan -, tetapi juga mendorong masa depan anak-anak Afrika kepada kemiskinan di masa depan.

Selain keragaman fauna endemik yang sering didokumentasikan oleh media, perang adalah sesuatu yang tak dapat ditinggalkan begitu saja bila mendiskusikan Afrika. Benua hitam yang memang benar-benar hitam kelam, karena asap dari mesiu hingga cerobong industri kapitalis yang mengekploitasi benua yang sebenarnya kaya raya itu.

Lantas apakah dengan kondisi seperti itu, anak-anak Afrika masih dapat meraih kehidupan yang lebih baik atau justru terjebak dalam pilihan sulit, tetap menderita di tanah kelahiran atau pergi ke negara lain menjadi imigran ilegal demi meraih hidup yang lebih baik?

Berlian dan Tentara Anak

Dalam thesis yang ditulis oleh akademisi dari Universitas Wilfrid Laurier, Lansana Gbire berjudul War and The State Collapse: The Case of Sierra Leone, perang saudara di Sierra Leone setidaknya menelan korban sebanyak 50.000 jiwa. Tetapi ada hal yang paradoksial yang jelas dalam konflik itu, yaitu peran berlian dan juga dampaknya pada rekrutmen tentara anak.

Bagi orang-orang di negara non-konflik, menggunakan berlian sebagai perhiasan menunjukkan kelas ekonomi mereka yang mapan, tetapi bagi orang Sierra Leone - khususnya anak-anak - berlian adalah malapetaka. Perang Saudara di Sierra Leone pada dekade 1990-an hingga awal 2000-an adalah bukti nyata berlian menjadi "bahan bakar" konflik antara pemberontak Revolutionary United Front (RUF) dengan pemerintah di Freetown. Melimpahnya sumber daya berlian di Sierra Leone - meminjam istilah Richard Auty - justru menjadi "kutukan sumber daya" bagi negara itu.

Penduduk sipil, baik anak-anak ataupun dewasa dipaksa bekerja ke pertambangan berlian, bila bukan perintah dari tentara negara, maka milisi RUF yang memanfaatkan. Di Sierra Leone, berlian yang berhasil ditambang kemudian secara ilegal diseludupkan ke negara tetangga mereka, Liberia untuk "dibersihkan". 

Berlian yang telah "dibersihkan" di Liberia itu kemudian diekpor menjadi berlian legal ke negara-negara maju, termasuk Inggris - mantan penjajah Sierra Leone. Ironisnya, Inggris adalah pihak yang mendukung pemerintah Freetown memerangi RUF, tetapi justru membeli berlian yang sebenarnya digunakan RUF untuk membiayai perang mereka melawan pemerintah. Seperti lingkaran setan.

Bagi anak-anak yang tidak menjadi pekerja paksa di pertambangan, kemudian diberikan tugas lain, bahkan lebih berat, yaitu menjadi tentara. Pemberontak RUF adalah aktor yang paling bertanggung jawab atas rekrutmen anak-anak Sierra Leone untuk dijadikan "umpan peluru". RUF biasanya menculik anak-anak dari desa-desa yang mereka lalui, kemudian mendoktrin mereka untuk berperang, bahkan dalam beberapa kasus RUF juga memaksa anak-anak untuk membunuh orang tua mereka sendiri sebagai bukti kesetiaan kepada organisasi.

Kondisi yang terjadi di Sierra Leone itu bahkan juga difilmkan dengan judul Blood Diamond (2006). Film yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio itu setidaknya menjadi gambaran kejinya perang saudara di Sierra Leone, sekaligus membuka mata tentang sisi gelap industri berlian di negara-negara maju alias negara Dunia Pertama.

Dari Perang ke Perang

Bila di Sierra Leone, ekonomi menjadi aktor utama dalam perang, lain halnya dengan Sudan. Perang saudara di Sudan melibatkan banyak pihak dan cenderung bersifat konflik sektarian antara; pemerintah Sudan di ibukota Khartoum melawan kelompok separatis Sudan Selatan atau Sudan's People Liberation Army (SPLA) yang dipimpin oleh John Garang, ditambah lagi dengan keberadaan milisi Lord's Resistance Army (LRA) yang dipimpin Joseph Kony yang sebelumnya bergerak di Uganda. 

Perang kemerdekaan Sudan Selatan memang telah berakhir dengan diproklamirkannya Republik Sudan Selatan oleh John Garang pada 9 Juli 2011, tetapi perang kemudian masih berlanjut, terutama melawan milisi LRA yang masih merongrong Sudan Selatan dan juga konflik yang tak pernah habis di wilayah Darfur. Konflik di Sudan menjadi salah satu konflik terpanjang dalam sejarah.

Menurut International Criminal Court (ICC), milisi LRA bertanggung jawab atas rangkaian kejahatan kemanusiaan - termasuk terhadap anak-anak - di Sudan dan juga negara sekitarnya, seperti Uganda. Kejahatan kemanusian yang dilakukan oleh LRA juga tertulis dalam laporan koresponden BBC, Will Ross pada 2004 lalu. Ross menuliskan, LRA telah menyebabkan sedikitnya 100.000 warga sipil meninggal, dan juga menculik 20.000 anak untuk dijadikan tentara atau budak.

Penderitaan anak-anak di Sudan bahkan membuat seorang mantan biker asal Amerika Serikat  - yang bertaubat dan menjadi seorang pendeta -, Sam Childers turun tangan, terutama untuk menyelamatkan anak-anak yang diculik oleh LRA. Kisah perjuangan Sam Childers itu tertulis dalam buku otobiografi yang berjudul Another's Man War, ia juga difilmkan dengan judul The Machine Gun Preacher (2011) dibintangi oleh Gerard Butler.

Mengapa Anak-Anak?

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), separuh dari angkatan bersenjata anak-anak di seluruh dunia berada di Afrika. Selain itu, menurut komisi tentara anak atau Child Soldiers International (CSI) memperkirakan ada 100.000 lebih anak-anak Afrika yang menjadi tentara, jumlah itu masih mungkin bertambah karena masih banyak tentara anak-anak yang belum dapat teridentifikasi di wilayah lainnya.

Perang saudara yang berkepanjangan membuat biaya perang meningkat, hal ini membuat pihak-pihak yang bertikai memanfaatkan segala sumber daya untuk menekan cost of war, dan salah satunya adalah dengan merekrut anak-anak sebagai tentara. Menurut African Centre for The Constructive Resolution of Disputes (ACCORD), anak-anak direkrut menjadi tentara karena mereka "murah", tak perlu digaji anak-anak rela mengangkat senjata atas nama kehormatan - yang sebenarnya belum mereka pahami juga.

Analisis ACCORD tentang tentang anak-anak juga setali tiga uang dengan pendapat seorang akademisi Amerika, Roger Rosenblatt dalam bukunya yang berjudul Children of War. Menurut Rosenblatt, anak-anak mudah direkrut karena memang mereka "murah" alias non-profit, anak-anak rela berperang meski tak dibayar, selain itu juga karena anak-anak merasa memiliki prestige yang tinggi bila berhasil menunaikan tugas dari komandan.

Perekrutan anak-anak menjadi tentara sebenarnya memiliki banyak resiko. Menurut seorang akademisi Universitar Rutgers, Simon Reich, anak-anak yang direkrut menjadi tentara memiliki kemungkinan besar akan tumbuh menjadi pribadi yang mengerikan saat dewasa. Bahkan, menurut Reich, anak-anak yang sudah di dalam kamp pengungsian PBB sekalipun dapat direkrut menjadi tentara anak, dikarenakan kurangnya regulasi yang mengatur tentang perlindungan terhadap anak-anak.

Faktor-faktor itulah yang kemudian membuat para pelaku konflik terpikat dengan anak-anak untuk dijadikan konbatan, selain efektif secara kuantitas, anak-anak memiliki kemampuan yang terkadang tidak dimiliki oleh orang dewasa, misalkan untuk misi-misi penyusupan atau bahkan digunakan untuk human shield agar tentara musuh merasa segan dan tidak jadi menyerang. 

Konflik yang terus berlanjut itu juga membuat banyak anak-anak Afrika yang kemudian pergi bermigrasi ke benua lain, dengan naluri alamiah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Bila kondisi ini masih berlangsung, diperlukan aksi nyata dari aktor-aktor politik yang berpengaruh untuk segera bertindak. Bahkan masyarakat biasa pun sebenarnya juga bisa turut ambil bagian dalam hal ini, misalkan hentikan membeli barang-barang ilegal yang menjadi "bahan bakar" perang di Afrika - seperti berlian -, demi satu tujuan dasar yang mulia, selamatkan masa depan anak-anak benua hitam.

Referensi