Gegap gempita bulan Ramadhan yang mulai memasuki hari-hari terakhir menuju lebaran semakin meriah. Eufoira tersebut dikarenakan akan dibagikan thr dan liburan panjang akan rutinitas keseharian.

Termasuk para buruh yang turut senang akan hal tersebut. Setidaknya para buruh dapat mengistirahatkan badan maupun pikiran dalam sementara waktu. Serta dapat berkumpul dengan sanak keluarga dalam rangka cuti bersama hari raya yang akan datang.

Namun bukan itu pembahasan kali ini, melainkan tentang nasib buruh dalam bekerja selama bulan Ramadhan. Sudah kita ketahui bersama bahwa selama bulan Ramadhan, pekerjaan sehari-hari dilakukan dengan berpuasa dari adzan subuh menjelang adzan maghrib, termasuk para buruh yang harus tetap bekerja di bulan Ramadhan.

Bekerja dengan berpuasa merupakan hal yang berat, dikarenakan untuk bekerja diperlukan tenaga serta fisik yang memadai untuk melakukan hal tersebut. Apalagi tanpa makan dan minum yang mengharuskan tenaga terkuras habis tanpa adanya suplai pendorong dalam bekerja.

Dalam agama Islam, bulan Ramadhan mempunyai beberapa keistimewan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan yang lainnya. Seperti keutamaan menjalani ibadah puasa sebagai rukun Islam yang ke-3, sholat sunnah tarawih yang hanya ada di bulan Ramadhan serta keutamaan-keutamaan yang lainnya.

Maka dari itu, bulan Ramadhan menjadi ladang amal yang di panen oleh berbagai muslim dengan latar belakang, termasuk buruh yang beragama Islam. Mereka berbondong-bondong menjalani berbagai amalan ibadah di bulan Ramadhan.

Dengan bekerja sekaligus berpuasa serta melakukan berbagai amalan yang istimewa tersebut, para buruh melakukannya dengan suka cita, kesibukan antara urusan lahir dan urusan bathin dengan harapan mendapat pertolongan dari Tuhan setidaknya nasib mereka lebih baik dari sebelumnya.

Namun kenyataan mengatakan sebaliknya, kesulitan demi kesulitan harus ditempuh oleh para buruh. Seperti kebijakan larangan untuk mudik membuat mereka harus menjalani liburan di perantauan, bukan di kampung halaman.

Apalagi jika thr tidak jadi diberikan kepada para buruh, hak buruh yang wajib dipenuhi. Di bulan Ramadhan sendiri, waktu kerja buruh masih seperti biasanya. Dari pagi sampai sore hari. Tidak adanya pengurangan waktu jam kerja membuat para buruh kesulitan untuk menjalani khidmatnya ibadah di bulan Ramadhan.

Seperti tidak adanya jeda waktu saat pulang kerja dengan menyiapkan menu buka puasa, apalagi jika tempat kerjanya jauh dari rumah yang sekiranya membutuhkan waktu lama untuk samapi rumah.

Serta semakin terbatasnya waktu untuk istirahat karena adanya ibadah di bulan Ramadhan yang istimewa. Maka dari seharusnya ada pengurangan waktu kerja khusus saat bulan Ramadhan agar buruh bisa juga fokus beribadah serta memiliki waktu istirahat yang cukup agar berdampak terhadap kesehatan dan daya tahan tubuh yang bagus.

Bahkan biasanya di bulan Ramadhan harga kebutuhan pokok akan meningkat, entah mengapa namun yang jelas hal tersebut sangat membebani para buruh yang memiliki upah rendah. Maka diperlukan kebijakan yang memiliki substandi meningkatkan upah buruh saat kebutuhan pokok meningkat.

Pekerjaan buruh di pabrik merupakan suatu hal yang berat dan melelahkan. Tenaga akan habis apalagi saat jam istirahat tidak bisa makan karena berpuasa merupakan suatu ujian tersendiri bagi buruh yang beragama Islam.

Maka pembagian waktu jam kerja dengan tepat di pabrik merupakan hal urgent agar setidaknya para buruh memiliki tenaga untuk menjalani berbagai ibadah di bulan Ramadhan. Dan tidak mengalami dehidrasi yang parah sehingga menyebabkan sakit.

Karena jika buruh sakit, maka mereka akan mengalami kerugian dalam dua hal, seperti upah yang dipotong karena tidak masuk kerja dan juga tidak menjalani ibadah-ibadah yang ada di bulan Ramadhan.

Para pemilik pabrik atau usaha harus bisa melihat kondisi para buruh dengan jernih serta tidak mencari-cari keuntungan pribadi yang merugikan para buruh. Untuk itu, diperlukan beberapa strategi seperti adanya partai politik yang berbasis anggotanya dari para buruh yang mengawasi jalannya pekerjaan para buruh di Indonesia.

Dan sebisa mungkin pekerjaan yang berat dipindah alihkan kepada mesin-mesin pabrik agar tenaga buruh yang sejatinya juga merupakan manusia memiliki batas.

Dan oleh karena itu, ulama-ulama seharusnya bersama-sama mengawal jalannya pekerjaan para umat Islam yang menyebabkan mereka kesulitan menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Termasuk para buruh yang bekerja di pabrik.

Dengan pengaruhnya, ulama mampu memberikan anjuran maupun peringatan kepada para pemilik pabrik sehingga mampu membatasi jam kerja buruh di pabrik. Ataupun para ulama juga bisa mengingatkan kepada pemerintah agar adanya kebijakan untuk buruh khusus di bulan Ramadhan.

Dengan demikian, hal tersebut mampu merubah iklim pekerjaan buruh di pabrik saat ini menjadi lebih bersahaja serta tidak mengeksploitasi para buruh dengan tidak berlebihan serta secara manusiawi.

Karena hal-hal tersebut juga merupakan perintah dari agama untuk berbuat baik terhadap sesama. Maka seharusnya perintah tersebut juga dilakukan dengan baik di berbagai aspek termasuk antara buruh dengan pemilik modal.

Semoga adanya terobosan baru yang mempermudah para buruh dalam bekerja sehingga menciptakan ruang aman bekerja dan juga agar para buruh dapat menjalani kegiatan rohaniyah sesuai agamanya masing-masing.

Gegap gempita bulan Ramadhan yang mulai memasuki hari-hari terakhir menuju lebaran semakin meriah. Eufoira tersebut dikarenakan akan dibagikan thr dan liburan panjang akan rutinitas keseharian.

Termasuk para buruh yang turut senang akan hal tersebut. Setidaknya para buruh dapat mengistirahatkan badan maupun pikiran dalam sementara waktu. Serta dapat berkumpul dengan sanak keluarga dalam rangka cuti bersama hari raya yang akan datang.

Namun bukan itu pembahasan kali ini, melainkan tentang nasib buruh dalam bekerja selama bulan Ramadhan. Sudah kita ketahui bersama bahwa selama bulan Ramadhan, pekerjaan sehari-hari dilakukan dengan berpuasa dari adzan subuh menjelang adzan maghrib, termasuk para buruh yang harus tetap bekerja di bulan Ramadhan.

Bekerja dengan berpuasa merupakan hal yang berat, dikarenakan untuk bekerja diperlukan tenaga serta fisik yang memadai untuk melakukan hal tersebut. Apalagi tanpa makan dan minum yang mengharuskan tenaga terkuras habis tanpa adanya suplai pendorong dalam bekerja.

Dalam agama Islam, bulan Ramadhan mempunyai beberapa keistimewan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan yang lainnya. Seperti keutamaan menjalani ibadah puasa sebagai rukun Islam yang ke-3, sholat sunnah tarawih yang hanya ada di bulan Ramadhan serta keutamaan-keutamaan yang lainnya.

Maka dari itu, bulan Ramadhan menjadi ladang amal yang di panen oleh berbagai muslim dengan latar belakang, termasuk buruh yang beragama Islam. Mereka berbondong-bondong menjalani berbagai amalan ibadah di bulan Ramadhan.

Dengan bekerja sekaligus berpuasa serta melakukan berbagai amalan yang istimewa tersebut, para buruh melakukannya dengan suka cita, kesibukan antara urusan lahir dan urusan bathin dengan harapan mendapat pertolongan dari Tuhan setidaknya nasib mereka lebih baik dari sebelumnya.

Namun kenyataan mengatakan sebaliknya, kesulitan demi kesulitan harus ditempuh oleh para buruh. Seperti kebijakan larangan untuk mudik membuat mereka harus menjalani liburan di perantauan, bukan di kampung halaman.

Apalagi jika thr tidak jadi diberikan kepada para buruh, hak buruh yang wajib dipenuhi. Di bulan Ramadhan sendiri, waktu kerja buruh masih seperti biasanya. Dari pagi sampai sore hari. Tidak adanya pengurangan waktu jam kerja membuat para buruh kesulitan untuk menjalani khidmatnya ibadah di bulan Ramadhan.

Seperti tidak adanya jeda waktu saat pulang kerja dengan menyiapkan menu buka puasa, apalagi jika tempat kerjanya jauh dari rumah yang sekiranya membutuhkan waktu lama untuk samapi rumah.

Serta semakin terbatasnya waktu untuk istirahat karena adanya ibadah di bulan Ramadhan yang istimewa. Maka dari seharusnya ada pengurangan waktu kerja khusus saat bulan Ramadhan agar buruh bisa juga fokus beribadah serta memiliki waktu istirahat yang cukup agar berdampak terhadap kesehatan dan daya tahan tubuh yang bagus.

Bahkan biasanya di bulan Ramadhan harga kebutuhan pokok akan meningkat, entah mengapa namun yang jelas hal tersebut sangat membebani para buruh yang memiliki upah rendah. Maka diperlukan kebijakan yang memiliki substandi meningkatkan upah buruh saat kebutuhan pokok meningkat.

Pekerjaan buruh di pabrik merupakan suatu hal yang berat dan melelahkan. Tenaga akan habis apalagi saat jam istirahat tidak bisa makan karena berpuasa merupakan suatu ujian tersendiri bagi buruh yang beragama Islam.

Maka pembagian waktu jam kerja dengan tepat di pabrik merupakan hal urgent agar setidaknya para buruh memiliki tenaga untuk menjalani berbagai ibadah di bulan Ramadhan. Dan tidak mengalami dehidrasi yang parah sehingga menyebabkan sakit.

Karena jika buruh sakit, maka mereka akan mengalami kerugian dalam dua hal, seperti upah yang dipotong karena tidak masuk kerja dan juga tidak menjalani ibadah-ibadah yang ada di bulan Ramadhan.

Para pemilik pabrik atau usaha harus bisa melihat kondisi para buruh dengan jernih serta tidak mencari-cari keuntungan pribadi yang merugikan para buruh. Untuk itu, diperlukan beberapa strategi seperti adanya partai politik yang berbasis anggotanya dari para buruh yang mengawasi jalannya pekerjaan para buruh di Indonesia.

Dan sebisa mungkin pekerjaan yang berat dipindah alihkan kepada mesin-mesin pabrik agar tenaga buruh yang sejatinya juga merupakan manusia memiliki batas.

Dan oleh karena itu, ulama-ulama seharusnya bersama-sama mengawal jalannya pekerjaan para umat Islam yang menyebabkan mereka kesulitan menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Termasuk para buruh yang bekerja di pabrik.

Dengan pengaruhnya, ulama mampu memberikan anjuran maupun peringatan kepada para pemilik pabrik sehingga mampu membatasi jam kerja buruh di pabrik. Ataupun para ulama juga bisa mengingatkan kepada pemerintah agar adanya kebijakan untuk buruh khusus di bulan Ramadhan.

Dengan demikian, hal tersebut mampu merubah iklim pekerjaan buruh di pabrik saat ini menjadi lebih bersahaja serta tidak mengeksploitasi para buruh dengan tidak berlebihan serta secara manusiawi.

Karena hal-hal tersebut juga merupakan perintah dari agama untuk berbuat baik terhadap sesama. Maka seharusnya perintah tersebut juga dilakukan dengan baik di berbagai aspek termasuk antara buruh dengan pemilik modal.

Semoga adanya terobosan baru yang mempermudah para buruh dalam bekerja sehingga menciptakan ruang aman bekerja dan juga agar para buruh dapat menjalani kegiatan rohaniyah sesuai agamanya masing-masing.