Beberapa bulan belakangan, di kampung saya khususnya, selain virus corona ramai dibincangkan, karena menyerang sebagian besar negara-negara di dunia, juga sedang semarak dibicarakan adalah bebungaan.

Aglonema atau Sri Rejeki adalah salah satu jenis paling banyak diminati dan diburu oleh mereka yang baru akan memulai menanam bunga, terlebih bagi yang sudah lama memelihara bunga, baik lokal maupun impor. 

Tidak seperti corona yang menjadi pandemi, musim bunga ini barangkali tidak melanda seluruh negara. Atau boleh jadi hanya berbeda waktu dan lakon tradisi yang melingkupinya.

Jika dulu, dalam pandangan umum, bunga diidentikkan dengan kaum hawa, maka, sekarang ini, pelekatan identitas itu sudah bias gender. Buktinya, beberapa orang kerabat saya, yang kaum adam, pun memelihara bunga, bahkan sudah menggandrunginya sejak lama.

Saya sih baru tahap tertarik memelihara. Dengan memilah dan memilih bunga yang cocok jadi koleksi pribadi. Terkecuali jika untuk ditanam seacara umum, tanpa memperhatikan spesifikasi tertentu, maka bunga apa pun akan saya tanam.

Setiap orang memiliki beberapa alasan yang berbeda untuk memelihara bebungaan ini. Misalnya, ingin mencari kesibukan di tengah wabah Covid-19, ikut-ikutan karena melihat tetangga memelihara bunga. Ada juga yang mengambil kesempatan menjadikan musim bunga sebagai lahan bisnis. Ada pula karena instruksi pemerintah setempat untuk momen perlombaan antar desa. Serta bermacam alasan lainnya.

Tentu alasan-alasan tersebut tidak salah dan dan tidak perlu diperdebatkan. Ya, terserah mereka sajalah, sepanjang tidak merugikan orang lain, dan lingkungan sekitarnya.

Hanya saja, dengan alasan-alasan insidentil tersebut, kecintaan terhadap bunga, memelihara dan merawatnya, tak akan bertahan lama. Tetapi, jika diri seorang pecinta bunga sudah menemukan makna dari menanam bunga dan memeliharanya, maka dedikasinya pasti akan tercurah. 

Setidaknya, demikianlah yang lihat pada mereka yang betul-betul memiliki hati kepada peliharaannya tersebut. Tidak sekadar menanamnya, tetapi memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan dari bunga yang ditanamnya.

Sama halnya dengan sebuah pekerjaan yang dilakoni seseorang hanya akan menjadi rutinitas biasa dan membosankan bila yang dilihat hanya sisi luar dan materinya saja. Tetapi sebuah pekerjaan yang dinikmati dengan sepenuh hati, maka akan menimbulkan passion dalam menjalaninya. Jika sudah ada passion, muncullah fashion, inovasi, dan kreasi setiap mengerjakannya.

Ya, karena alasan mencari kesibukan dan mengalihkan perhatian dari virus jahannam corona, maka, saat virus corona sudah lenyap, kemungkinan besar ketertarikannya pada dunia bunga sudah tak ada lagi. Kecuali setelah membaca tulisan ini, alasannya jadi berubah.

Dalam beberapa referensi yang penulis temukan, mengungkapkan beberapa jenis bunga yang memiliki manfaat untuk kesehatan dan memiliki pengaruh signifikan bagi kualitas udara suatu lingkungan.

Perihal musim bebungaan ini, saya teringat dengan batu akik, batu permata, batu mulia, atau apa pun peristilahan untuk batu yang dianggap sangat berharga dan istimewa ini.

Sekira tahun 2014 hingga 2015, batu akik menjadi primadona bagi siapa pun. Dari pejabat negara hingga rakyat biasa, tak hanya orang tua, dan pemuda-pemudi, pun remaja dan anak-anak ikut menyemarakkan perakikan ini.

Dari batu akik puluhan ribu hingga miliiaran rupiah harganya bersileweran, mewarnai dunia perbatuan di negeri ini. Tidak hanya di kota-kota, demam batu akik pun melanda hingga pelosok desa. Dari peralatan tradisional hingga yang modern dan canggih, dipakai untuk memoles sebuah bongkahan hingga menjadi permata yang berkilau, menyilaukan mata.

Pameran dan konteks batu mulia ini digelar di mana-mana. Yang disponsori oleh pemerintah setempat atau yang baru mau mencari nama untuk menjadi wakil rakyat.

Setiap tempat atau acara keramaian, perhatian pasti akan tertuju pada si Akik. Waktu itu, saya mengenal beberapa nama jenis batu akik ini. Ada ruby, panca warna, zamrud, pecah seribu, safir, pirus, dan yang lainnya.

Akan halnya ketertarikan pada bunga-bunga yang saya bicarakan di atas, pun demikian dengan ketertarikan pada batu akik ini. Dilatari oleh berbagai alasan. Ada yang memakai karena percaya pada kekuatan magisnya, ada yang tertarik karena teman sejawatnya, semua memakai batu akik. Ada pula yang memakai karena warisan orang tuanya. Bahkan ada pula karena alasan mode yang sedang trend saja.

Semua itu sah dan lumrah adanya. Yang salah adalah, saat menginginkan batu akik mahal, tapi kemampuan tak kesampaian, lalu menempuh cara ilegal alias melanggar hukum.

Mesin gerinda yang dipakai oleh salah seorang kerabat saya untuk memoles batu-batunya, kini tinggal teronggok, menjadi mesin tak berguna, dipurnabaktikan. Setelah per-akik-an tak lagi marak. Pun lapak-lapak batu mulia sudah sepi. Hanya 1-2 pelapak saja yang masih setia. 

Yang tetap setia dengan perakikan pun masih mengisi jemarinya dengan batu akik. Sementara yang hanya ikut fashion, hilang ditelan zaman.

Perburuan bunga dan batu akik hingga menjadi mode tidak hanya terjadi 1-2 kali saja. Akankah nasib bebungaan ini akan sama dengan batu-batu akik ini?

Simpulan sementara saya menyatakan bahwa akan banyak vas-vas bunga yang tidak memiliki bunha lagi. Taman-taman akan gersang karena tidak terurus. Rerumputan liar akan mengalahkan pesona aglo, sansiveria, rose dan monstera. Bahkan jenis bunga yang terakhir saya sebut ini, akan kembali ke habitat lamanya, ke dalam hutan.