Kalau kakek saya masih hidup dan mengetahui bahwa Jokowi --anak desa yang tampak lugu itu-- menjadi presiden, pasti dia akan bilang bahwa itu akibat Nasi Lengket. Lho? Apa hubungannya? Hubungannya karena Jokowi pernah singgah ke warung Nasi Lengket dan menyantap nasi uduk paling terkenal di seantero Klender itu.

Iya, tapi masak sih karena singgah ke rumah makan itu saja bisa menjadi presiden. Enak banget. Emang ada apa dengan Nasi Lengket? Atau ada siapa di warung Nasi Lengket sehingga bisa membawa Jokowi menjadi seorang presiden?

Jangan terlalu serius mencari tahu tentang hubungan Jokowi dan Nasi Lengket. Saya sendiri tidak tahu mengapa Jokowi tahu keberadaan Nasi Lengket dan sempat singgah di sana. Yang saya tahu dari almarhum kakek saya dan para orang tua segenerasi dengan kakek saya, Nasi Lengket sangat istimewa dan punya khasiat khusus.

Tentu saja, bisa menjadikan orang presiden bukanlah khasiat Nasi Lengket. Tidak pernah ada cerita tentang itu. Lagi pula, ketika kakek saya hidup dan Nasi Lengket sedang berada pada puncak kejayaannya pada awal hingga pertengahan tahun 1980an, hampir mustahil membayangkan orang menjadi presiden. Soeharto tengah kuat-kuatnya berada di puncak kekuasaan negeri ini. Membayangkan menjadi presiden adalah sebuah ide makar, apalagi lewat sebungkus nasi uduk.

Tapi, bahwa Nasi Lengket memiliki khasiat khusus adalah cerita nyata yang beredar di kalangan para orang-orang tua di kawasan Klender, tempat saya lahir dan dibesarkan. Setidaknya di lingkungan keluarga besar saya.

Ketika saya terkena demam atau ada anggota keluarga kami yang sakit, ide pertama yang dilontarkan kakek saya adalah menyuruh salah satu anak-menantunya atau cucunya pergi ke PLN (lokasi di mana warung Nasi Lengket berada), membeli dua atau tiga bungkus Nasi Lengket. Biasanya, setelah makan nasi itu, demam hilang dan saya kembali sehat seperti sedia kala.

Jangan suruh saya menganalisa ingredient nasi uduk buatan Haji Mat Lengket yang di kalangan orang Betawi dikenal cukup dengan sebutan Nasi Lengket itu. Sudah pasti tak ada parasetamol atau anti-biotik di dalamnya. Sebagaimana umumnya nasi uduk di muka Bumi ini, ingredient utama Nasi Lengket adalah nasi, bawang goreng, tahu, tempe, dan sepotong ayam goreng.

Yang membuatnya berkhasiat, setahu saya, adalah bahwa nasi uduk Mat Lengket, rasanya yang luar biasa lezat. Begitu lezatnya sehingga orang-orang sakit yang umumnya tidak punya selera makan, terdorong untuk makan dan menghabiskannya.

Setelah saya dewasa, saya menyadari aspek itu. Hubungan kesembuhan orang sakit dengan Nasi Lengket adalah ini: orang sakit yang tak mau makan menjadi berselera makan sehingga dia mendapat asupan energi, tubuhnya bekerja kembali, dan dia segera pulih.

Kata “lezat" mungkin tak cukup mewakili keistimewaan nasi uduk yang lokasinya persis di ujung jalan layang pasar Klender itu. Teman saya punya deskripsi lain untuk menggambarkan kelezatan nasi uduk itu. Menurutnya, nasi uduk Mat Lengket menjajah lidah. Sekali makan seperti tak mau berhenti, bahkan saat ketika kita sudah merasa kenyang.

Warung nasi uduk Mat Lengket kini dikelola oleh Ibu Sutinah, anak Haji Asmat Lengket alias Mat Lengket yang sudah meninggal dunia pada 1994. Saya berkali-kali mengusulkan  kepada Yayat Supriyatno, cucu Pak Haji Mat Lengket yang kini menjadi teman saya, agar membuka cabang warung yang tampilan sederhananya sampai sekarang tak pernah berubah itu. Menurut Yayat, ide itu pernah terpikir tapi tak pernah direalisasikan karena ingin menjaga kualitas dan sulitnya mencari orang yang bisa menjaga kualitas.

Selain nasi yang memiliki rasa dan aroma yang khas, ayam goreng adalah andalan utama Nasi Lengket. Ini bukan sembarang ayam, tapi ayam kampung yang diternak para penduduk di kampung-kampung. Sehari, warung Mat Lengket yang baru buka pada jam 5 sore ini menghabiskan rata-rata 200 ekor ayam kampung. 

Soal ayam kampung itu ada ceritanya sendiri. Ayam-ayam itu semuanya konon died as virgins alias mati dalam keadaan perawan. Inilah salah satu rahasia mengapa ayam goreng Mat Lengket sangat lezat. Tidak begitu jelas, apa hubungan ayam perawan dengan kelezatan. Saya sendiri tak pernah mengecek dan tak tertarik untuk mengecek apakah ayam-ayam itu sungguh masih perawan.

Selain ayam goreng, andalan Mat Lengket selanjutnya adalah semur jengkol. Meski ada ati ampela dan sate telur yang juga kerap dipesan para pembeli, semur jengkol, saya kira, adalah magnum opus Haji Mat Lengket yang mesti dicoba, sekalipun Anda tak suka makan jengkol.

Saya sudah lama berhenti makan jengkol, kecuali semur jengkol Nasi Lengket.

Saya selalu merasa berdosa jika makan jengkol. Saya tidak suka baunya, terlebih bau residu yang dihasilkannya. Tapi, percayalah, jengkol yang diolah warung Haji Mat Lengket tak menimbulkan bau. Saya tidak tahu apa penjelasannya. Yang jelas, memakannya tidak membuat saya merasa berdosa.

Di atas semua itu, yang membuat warung Nasi Lengket dikunjungi banyak orang dan selalu ludes terjual dalam kurang dari 12 jam adalah harganya yang relatif murah. Dengan khasiat dan semua kelezatan yang diberikannya, kita cukup membayar tak lebih dari 25 ribu rupiah untuk seporsi nasi dan sepotong ayam goreng plus sayuran. Jika Anda ingin mencoba semur jengkol, Anda cukup menambah 8000 rupiah.

Jika ada tujuh rumah makan di muka Bumi ini yang patut dikunjungi sebelum Anda meninggal, saya merekomendasikan warung makan khas Betawi Mat Lengket sebagai salah satu yang wajib Anda kunjungi. Dan jangan lupa, semur jengkol Haji Mat Lengket sangat layak diusulkan ke UNESCO menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

Warung Nasi Uduk Mat Lengket
Jl. Raya Bekasi KM 17 Klender
Jakarta Timur
Telp: 021-47869747