71966_91910.jpg
http://jogja.tribunnews.com/2018/03/23/mcdonalds-kombinasikan-ayam-dengan-nasi-uduk
Agama · 4 menit baca

Nasi Uduk McDonald's dan Islam Nusantara

Setahun lalu, di terminal dua bandara Soekarno Hatta, sebelum take-off ke singapura (cie), saya makan pop mie di Circle K. Sementara meramu bumbu, seorang bule duduk di kursi depan saya. Untuk kepentingan membuat pembaca penasaran, sebaiknya nama si bule tidak saya sebut (haha).

Kami saling diam sambil menikmati pop mie masing-masing. Namun, tidak lama kemudian, kami telah terlibat dalam pembicaraan yang dalam, tentang agama. Saya mengaku muslim, dia mengaku ateis, berasal dari Republik Ceko dan sedang kuliah ekonomi di Vienna, Austria.

Negaranya adalah salah satu yang menakjubkan, dengan praha dan tradisi bohemiannya yang memikat. Saya sangat ingin mengunjunginya. Namun, tetiba dia mengatakan dengan serius, “Anda muslim, jika serius ingin mengunjungi Ceko, datanglah secepat mungkin, sebelum muslim dilarang masuk.”

Tentu saja saya tidak kaget. Dinamika minoritas muslim di Eropa memang memiliki pasang surut. Terlebih di Ceko, presidennya berasal dari partai pro sayap kanan, Milos Zeman, yang juga merupakan tokoh yang dikenal gencar menyuarakan sikap anti-Islam dan anti-Imigran, khusunya dari negara-negara muslim.

Saya iseng bertanya alasannya, dan dia menjelaskan panjang lebar. Termasuk mempertegas dirinya sebagai yang tidak sepakat dengan pemerintah jika menerapkan larangan itu, walaupun beberapa kali juga, dia menceritakan ketidaksukaannya pada para imigran muslim, terlebih yang berasal dari timur tengah.

Dia menganggap mereka kurang bersosialisasi dan susah terlibat interaksi dengan budaya lokal Eropa. Masih terlalu egois dengan kulturnya dan cenderung memilih terisolasi, begitulah menurutnya.

Islam Nusantara dan Usaha Moderasi Islam  

Saat ini, muslim juga tersebar ke berbagai belahan dunia. Tidak ada satu negara yang tidak ada muslim di dalamnya (koreksi jika saya salah, secara data memang ada yang tidak memiliki, tapi bagaimana dengan para diplomat dari negeri-negeri muslim). Di Eropa, muslim mencapai sekitar 3 persen dari total seluruh penduduk Eropa, dan diprediksi akan bertambah hingga 10 persen pada 2025.

Di Indochina (Vietnam dan Kamboja), dahulu dihuni banyak muslim champa, namun berkurang seketika, ketika terjadi genosida dan pembantaian kepada para muslim. Sekarang perlahan bertambah dari segi jumlah dan kesejahteraan semakin membaik dari segi kualitas hidup.

Di Korea, pada sebelum 1920an, belum terlacak keberadaan muslim. Namun, ketika perang korea berkecamuk, tentara muslim Turki berdatangan sebagai sekutu Korea Selatan. Pasca perang, banyak dari mereka yang menetap dan berinteraksi dengan masyarakat Korea, membuat warga Korea banyak masuk Islam, dan dari tahun ke tahun jumlahnya semakin bertambah hingga saat ini.

Melihat kenyataan di atas, kita patut senang, namun juga patut khawatir akan ke mana arah keberislaman para muslim yang semakin banyak jumlahnya itu? Apalagi di tengah radikalisasi yang berlangsung di dalam tubuh Islam itu sendiri. Perlu ada pencegahan ideologi untuk menangkal semakin merebaknya ideologi radikal tersebut. 

Islam nusantara adalah salah satu counter ideology yang tepat untuk melancarkan program deradikalisasi pada tataran global yang lebih luas. Ide Islam nusantara yang dimaksud adalah usaha membangun keberislaman yang ramah terhadap budaya dan masyarakat lokal, sebagaimana yang dituliskan Prof. Nadirsyah Hosen, di mana manhaj Islam Nusantara-lah yang dibawa ke konteks global. 

Usaha tersebut adalah usaha untuk membentuk keberislaman yang dibangun berdasarkan budaya lokal, khususnya di wilayah-wilayah minoritas muslim. Seyogianya muslim bersikap dengan mempertimbangkan, apa yang disebut Prof. Azyumardi Azra sebagai “sensitivitas multikultur”.

Kita ambil contoh di barat, tujuannya agar muslim dan Islam bisa menjadi bagian integral dan identitas barat, tidak menjadi kelompok asing, “yang lain”, dan membuatnya teralienasi hingga terdiskriminasi dari kelompok mainstream.

Nasi Uduknya Mana, Bang?

Oh iya, nasi uduknya masih utuh di depan saya, baru abis difoto, saya masih sibuk insta-story dulu (yaelah bang).

Gini, nasi uduk ini adalah menu baru yang diluncurkan oleh McDonald’s. Lagi-lagi sebagai usaha penyesuaian diri dengan lingkungan lokal dimana McDonald’s ini berada. Tentu saja, terobosan semacam ini hanya ada di Indonesia, khususnya di Jakarta yang akrab dengan Nasi Uduk.

Saya sendiri, tahu dan betul-betul memiliki hubungan intim dengan nasi uduk hanya semenjak tinggal di Jakarta. Sejak bertahun-tahun di Makassar hanya kenal nasi putih dan nasi kuning.

Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan, menu itu juga akan ada di luar Indonesia. Kapan? Ketika sinetron-sinetron dan tayangan televisi Indonesia bisa mendunia dan menguasai layar negara-negara tertentu. Teriyaki dan bulgogi bisa mejeng enak dalam daftar menu mereka di negara kita, salah satunya karena konstribusi anime Jepang dan drama Korea yang sangat dinikmati mata muda-mudi kita.

Fenomena tersebut disebut juga oleh para sosiolog sebagai glokalisasi (glocalization), merupakan sebuah proses penyesuaian yang dilakukan perusahaan global, seperti McD, IKEA, KFC, Starbucks, dll terhadap kebutuhan lokal negara tujuan. Walau demikian, usaha penyesuaian sedemikian rupa tidak menghilangkan ciri khas utamanya. Burger tetap ada, dengan ragam topping, yang lagi-lagi lokal-sentris, seperti burger di Korea yang ditambah kimchi.  

Dan akhir kalam, lebih jauh dari itu, kehadiran McD dan usaha-usaha penyesuaiannya dengan lokalitas telah menjadi salah satu tema utama dalam diskursus tentang globalisasi hingga ke teori pencegahan konflik. Tentang ini saya sempat menyinggung sedikit dalam tulisan saya sebelumnya. McD bukan hanya sebagai tempat makan cepat saji (fast-food), melainkan sudah menjadi gaya hidup (life-style). 

Kehadiran Islam Nusantara dalam kontestasi perebutan arus utama Islam global menjadi penting, berekspansi sejauh mungkin, melewati benua, melintasi batas-batas teritori negara, dengan tetap menyediakan menu-menu Islam moderatnya, dan menyesuaikan diri dengan lokalitas setempat.

Beragama itu tak usah muluk-muluk, entar kita gampang suntuk, mudah diadu dan diaduk-aduk. Lebih baik menikmatinya, seperti sedang menikmati nasi uduk. Wallahu a’lam bishawab.