Setelah rivalitas tak kunjung padam antara Tim Bubur Ayam Diaduk melawan Tim Bubur Ayam Tidak Diaduk, antara Klepon dan Onde-onde, beberapa waktu yang lalu muncul diskusi tentang bagaimana nasi soto dihidangkan. Apakah nasi dan soto dihidangkan secara terpisah, atau keduanya bersatu di mangkok yang sama. Netizen Indonesia memang nggak ada matinye, ya.

Berawal dari sebuah cuitan di twitter oleh akun [at]taufichhilman pada 24 Desember 2020 yang lalu, yang membuat utas berisi tips untuk Bu Risma, Menteri Sosial yang baru. Taufich Hilman memberikan 10 tips pada Bu Risma agar Bu Mensos tidak kaget ketika nanti pindah ke Jakarta, menemukan hal-hal yang berbeda dari kampung halamannya, Surabaya.

Dari 10 tips yang dibagikan Taufich, empat diantaranya berkaitan dengan per-kuliner-an, yaitu: nasi bebek, nasi goreng (merah VS pucat/kecap), pecel lele, dan tentang bagaimana soto dihidangkan. Ini yang ditulis Taufich:

Bu Risma kalau pesen soto ayam jangan lupa bilang nasinya dicampur, orang Jakarta suka aneh bu, semua jenis soto nasinya dipisah. Gak masuk akal”

Cuitan Taufich mengundang ratusan komentar yang saling berbalas. Ada penggemar nasi soto ala Jakarta (nasi dipisah dari soto), ada yang menganut nasi soto ala Surabaya (nasi dan soto dihidangkan di satu mangkok). Mereka tidak hanya memberikan konfirmasi tentang perbedaan yang ditulis Taufich, tetapi juga membagikan cerita tentang dampak dari perbedaan tersebut.

‘Tidak menikmati nasi yang mekar gara-gara terendam kuah soto’ atau sebaliknya ‘tidak berasa nasi soto karena makan nasi terpisah dari sotonya’, sampai ‘gak jadi makan karena nasi yang sudah bercampur kuah daging tidak menggugah selera lagi’. Itu antara lain yang ditulis netizen yang menanggapi.

Hal menarik lain dari cuitan para komentator adalah ‘pembagian wilayah’ persotoan dilihat dari aspek cara penyajiannya. Rupanya penghidangan nasi soto dengan memisahkan soto dari nasinya bukan hanya ada di Jakarta, tetapi juga di wilayah Jawa Barat pada umumnya. Sementara itu, mazhab nasi dan soto yang bersatu dalam satu mangkok lazim ditemukan di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sebetulnya soto tidak hanya menyebar di Pulau Jawa. Hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki soto versi mereka. Kalau ada lomba pemilihan masakan nasional, yang mewakili rasa Indonesia, saya kira soto layak menyandangnya. Meskipun demikian, penyebutan masakan berkuah dengan daging dan sayuran ini berbeda-beda menurut daerah tempat asalnya. Selain soto, ada pula yang menyebut sauto, tauto, atau coto.

Jenis daging yang digunakan untuk soto biasanya ayam atau sapi (dari dagingnya, jerohannya, sampai kikil). Memang ada juga soto berbahan dasar daging kambing, tetapi saya kira soto kambing kalah populer dibanding soto ayam dan soto sapi.

Di Kudus, Jawa Tengah, kita bisa menjumpai Soto Kerbau. Daging kerbau dipilih sebagai bentuk toleransi pada penduduk setempat yang tidak mengonsumsi daging sapi karena kepercayaan mereka. Konon itu terjadi sejak masa Sunan Kudus mewartakan agama Islam di daerah itu.

Warna kuah soto juga beragam. Ada yang bening, kuning, hitam, atau bersantan. Namun, kesamaan warna kuah tetap membuka adanya perbedaan rasa. Sama-sama berkuah bening, coba bandingkan antara soto dari Solo dan Soto Bandung. Berbeda. Nah, bisa dibayangkan ‘kan betapa beragamnya soto di Nusantara ini?

Jenis sayuran yang menemani daging, umumnya kalau bukan taoge, ya kol/kubis, atau keduanya. Soto Bandung sedikit berbeda, bukan kol dan taoge, tapi mereka menggunakan lobak putih. Namun demikian, penambahan sayuran tidak merupakan kewajiban. Banyak juga soto yang tidak memakai sayuran, hanya berisi daging.

Panamaan macam-macam soto cukup sederhana. Default-nya adalah dengan menempelkan kota asal makanan tersebut di belakang kata ‘soto’. Maka kemudian kita mengenal: Soto Betawi, Soto Bandung, Soto Medan, Sroto Sokaraja, Soto Banjar, Soto Kudus, Soto Boyolali, Soto Lamongan, Soto Madura, Coto Makassar, dan masih banyak lagi.

Setelah daging dan sayuran diracik di mangkok, kuah diguyurkan lalu ditambah taburan bawang goreng, irisan daun bawang dan seledri, soto siap disantap. Jangan lupa tambahkan sambal dan kucuran air jeruk untuk menambah kenikmatan. Soto Betawi menambahkan emping (sebagai pengganti krupuk) di dalam sajiannya.

Selain krupuk, warung soto biasanya juga menyediakan makanan pendamping soto (saya menyebutnya asesoris), seperti tahu dan tempe goreng, perkedel kentang, sate telur puyuh, sate kerang, dan lain-lain. Tak jarang, makan soto daging sapi pun masih ditambah dengan asesoris empal daging. Double beef rupanya tidak hanya untuk burger, tapi juga dikenal di dunia per-soto-an.

Ah, jadi terbayang nasi soto yang murah meriah di area Car Free Day (CFD) setiap minggu pagi di kampung halaman. Semangkok soto harganya cuma Rp.3.500,-. Porsinya memang mangkok untuk makan cendol/dawet, tetapi bagi saya justru ukuran yang pas untuk sarapan.

Di kota saya memang masih mudah ditemukan nasi soto seharga di bawah lima ribu. Jadi meskipun sejak Maret tahun lalu CFD belum digelar lagi, semangkok soto seharga Rp.3.500,- masih mudah ditemukan di sekitar rumah saya di Solo.

Nah, kembali ke cara menghidangkan nasi soto: dipisah atau dicampur, dan saya masuk Tim yang mana? Saya yang dibesarkan di Jawa Tengah dan Yogyakarta, dan kemudian bekerja di Bandung sebetulnya tidak terlalu ngeh dengan perbedaan tentang cara menghidangkan nasi soto. 

Setelah baca cuitan di twitter yang membahas tentang bagaimana perbedaan penghidangan soto, saya baru sadar. Oh iya, beda ya; dan baru ingat juga cara saya makan soto selama ini: selalu saya tuang nasi yang ada di piring ke mangkok sotonya.. Hahaha ...

Apa nama soto di daerahmu? Bagaimana nasi soto tersebut dihidangkan? Dipisah atau dicampur? Barangkali menarik juga melakukan penelitian tentang alasan di balik penghidangan nasi soto yang berbeda-beda ini.