Selamat tahun baru 2022. Semoga senantiasa bahagia. Hari ini ketika saya menulis artikel ini cuaca cukup cerah. Hari tidak hujan seperti kemarin. Banyak hal yang bisa dilakukan di hari seperti ini, di tahun baru yang masih basah. Misalnya makan nasi goreng sebagai sebentuk perayaan. 

Tentu kita berterimakasih pada tahun 2021 yang telah kita lewati. Banyak tantangan besar yang sekiranya telah kita berhasil lalui. Seperti bencana pandemi di seluruh dunia juga ketidakstabilan politik sepanjang 4 tahun terakhir. Demonstrasi dimana-mana dan juga usaha-usaha perbaikan iklim yang juga diwarnai protes-protes kepada pemerintah. 

Agaknya kita harus mengapresiasi diri kita sebab di tahun 2022 kita masih bisa menjalani hari-hari kita sebagaimana biasa dan lebih baik dari kemarin. Juga rencana-rencana yang baik. 

Kali ini saya tidak akan berbicara tentang konsep Gastro diplomasi dalam artikel saya ini. Meski beberapa waktu lalu koki favorit saya, Gordon Ramsey terbang ke Indonesia untuk makan rendang dan kabarnya juga sate Bali. Kali ini saya akan berbicara tentang Nasi Goreng, makanan yang Indonesia banget. 

Meski nasi goreng juga menjadi makanan favorit mantan Presiden Obama sejak ia tinggal di Jakarta. Oya, saya jadi ingat ketika Obama mengunjungi Borobudur sebagai kawasan heritage yang terbaik dari zaman dahulu yang terbaik yang dimiliki satu-satunya oleh dunia. 

Ketika kita berbicara nasi goreng, kita mungkin akan berbicara tentang pertanian atau agriculture. Sebab bagaimana kita bisa membuat nasi goreng kalau kita tidak punya nasi? Dan bagaimana hubungannya dengan tokoh dunia di atas. Tentu saja secara politik Obama adalah orang yang pro dengan system Agriculture kita di mana setiap hari itulah mata pencaharian utama penduduk Indonesia. 

Rasa-rasanya cukup adil juga setelah negara Amerika menjadi penyumbang karbon terbanyak di antara negara-negara dunia. Dimana itu berarti negara ini ada di dalam urutan pertama negara kapitalistik. Semua adalah tentang asap pabrik dan industri. 

Maka biarkanlah Indonesia tetap seperti ini, menjadi negara agriculture dan biarlah kami yang menjadi kapitalis. Kira-kira begitu yang saya tangkap secara subtil, seperti jargon film; "biar aku saja sebab kapitalisme itu berat!".

Bercerita soal nasi goreng. Saya membayangkan kebiasaan kita makan nasi goreng setiap hari hujan. Bawang putih ditumbuh dengan ketumbar dan juga garam. Lalu dimasukkan ke dalam wajan panas yang sudah diberi minyak. Lalu digoreng bumbu itu dan dimasukkanlah nasi satu dua piring ke dalam wajan.

Beberapa sawi dipotong dan dimasukkan sebagai sayur juga pemanis tampilan nasi goreng. Ditambah dengan kecap maka sempurnalah nasi goreng sederhana tanpa telur. Lantas, apa yang saya pikirkan adalah tentu adilnya saya berdo'a atas berkah yang telah dilimpahkan pada saya berupa satu piring nasi goreng ini.

Dalam perenungan saya, saya juga harus berterimakasih pada petani di desa sebab telah bekerja keras karena menanam padi dan menjadi beras dan nasi di piring saya ini. 

Bagaimana pun, nasi asalnya dari beras, beras berasal dari gabah sebelum diselep, lalu dari pohon padi. Ia menjadi bibit dahulu. Ia tumbuh di sawah di pedesaan, ditanam oleh petani. Lalu ditanam, dan dirawat sesuai masanya oleh para petani di desa-desa sebelum akhirnya masuk waktu panen. 

Ia memang tidak tumbuh di kota besar, pusat pertokoan, apalagi di pusat perbelanjaan. Oleh sebab itu kita harus membelinya. Hal ini sering dilupakan orang. Kita tidak melihatnya di kota-kota penuh aktivitas industri. 

Akan tetapi pada akhirnya pada siapa mereka, pedagang dan penjual nasi goreng mengambil bahan jualan, dari tengkulak beras yang didapat dari para petani di desa-desa. Polos saya menjelaskan bagaimana nasi goreng dipiring berasal. Itu sebenarnya hal paling sederhana yang bisa diungkapkan diceritakan. 

Kita harus makan nasi setiap hari. Lantas sejauh mana kebijakan pemerintah Indonesia untuk penguatan sektor pertanian? Alasan diajukannya pertanyaan ini adalah tentu saja bukan hanya karena banyaknya pedagang nasi goreng di seantero negeri ini yang membutuhkan stabilitas pasokan beras setiap kali akan berjualan. 

Akan tetapi juga estimasi peningkatan populasi penduduk Indonesia yang akan terhitung lebih dari 300 juta pada tahun 2024. Dimana angka tersebut adalah tiga kali lipat dari total populasi pada tahun 1960. 

Selain itu masalah ditemukan, bahwa ada penurunan secara signifikan lahan pertanian selama sepuluh tahun terakhir. Konversi lahan secara masif meningkat. Hal ini juga disebabkan karena urbanisasi, pembangunan rumah dan pemukiman, ekspansi lahan untuk perluasan lahan kota, serta peningkatan infrastruktur. 

Permasalahan seriusnya adalah, adanya gap atau ketimpangan antara ketersediaan pangan, ketahanan pangan, dan self-sufficiency. Maksudnya adalah kemampuan negara dalam memproduksi bahan makanannya sendiri tanpa ekspor impor untuk bahan tersebut. Meskipun pemerintah Orde Baru dikenal dengan prestasi swasembada pangan, akan tetapi ternyata hanya bertahan selama 10 tahun. 

Prestasi ini kemudian banyak dipertanyakan sebab setelah itu Indonesia menjadi negara pengimpor gandum dan gula terbesar di dunia. 10 tahun prestasi menjadi negara swasembada pangan rasanya tidak cukup oke, jika terus menerus digaungkan sebagai prestasi negara supranational. Kita harus menilik lainnya ada berapa kerusakan dan riots infrastruktur di 20 tahun selama Suharto menjabat sebagai presiden. 

Oleh sebab itulah kita seharusnya tidak de javu dengan kebijakan ini, meski tampaknya populer. Populer, itu hanya perasaan kita saja. 

Sementara itu, upaya swasembada pangan di era Susilo Bambang Yudhoyono agaknya masih sangat jauh sebab justru Indonesia tidak siap dalam mengalami krisis tahun 2007 dan 2017 dengan cara memberlakukan kebijakan "intensitifitas lahan pertanian di luar Jawa" seperti Sulawesi dan Kalimantan juga Papua. 

Selain itu, pada saat yang sama Indonesia justru dikenal sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia yang justru malah mengancam keberlangsungan (sustainability) dari pertanian dan keanekaragaman pangan di Indonesia. Hal ini sebab ultimate staple food dari Indonesia sebenarnya beragam, ada; sagu, jagung, ketela, gandum, pisang dan dikonsumsi oleh masyarakat di Papua, Moluccas, Kalimantan, dan Nusa Tenggara. 

Dan itu telah menjadi pilihan serta gaya hidup dalam pangan mereka sehari-hari. Agaknya adilnya kita tetap membiarkan mereka seperti itu. Tanpa mengganti bahan pangan mereka. 

Di sini saya tidak akan membicarakan kebijakan dan peraturan perundangan terkait pertanian secara mendalam. Saya juga mungkin kurang udzur untuk menjelaskan soal tanam menanam padi. 

Akan tetapi mungkin urgensi dari ketahanan pangan dan kebutuhan akan beras itu. Dari sudut pandang penikmat nasi goreng, anak-anak muda di kota besar. Salah satunya dari pedagang nasi goreng dan para konsumen pencinta nasi goreng di seluruh jagad negeri juga luar negeri.

Saya sendiri bahkan pernah terpikir untuk membuka usaha catering, setelah banyaknya pedagang nasi goreng yang sukses dari jualan nasi goreng. Itulah salah satu kehebatan nasi goreng. Seperti pedagang nasi goreng yang saya temukan di Solo. 

Selama 11 tahun ia dan suami berdagang nasi goreng, telah meraup untung hingga membeli kendaraan roda empat, sebuah mobil Innova warna hitam untuk mengangkut segala keperluan dagangannya dari rumah ke warung. 

Sebuah usaha konvensional yang sangat menjanjikan dan dilakukan banyak orang di Jawa. Keuntungan murni dari berjualan nasi goreng yang dibuka malam hari hingga pagi. 

Apakah kemudian yang dapat meningkatkan secara riil, ketahanan dan sustainability bahan pangan kita yakni nasi? Saya hanya melempar random question. Secara awam, saya berpikir bagaimana jika peningkatan teknologi pertanian itu lebih ditingkatkan dari mulai bibit, perawatan kualitas tanah pertanian, pengadaan subsidi pupuk organik, pengurangan pajak-pajak di sektor pertanian. 

Misalnya seperti yang dilansir oleh VOA Indonesia tentang adanya upaya pemerintah dalam penggunaan teknologi informasi untuk mengurangi perbedaan harga komoditas dari petani di desa ke konsumen di kota. Selain dari usaha dari Kementerian Pertanian dalam Upsus atau program Upaya Khusus peningkatan produksi padi. 

Tentu kita juga patut mengapresiasi realisasi program ini melalui bantuan pemerintah berupa pemberian benih padi varietas Inpari 42 kepada para petani Desa Sukawangi Bogor. 

Apakah pernyataan saya sudah benar? Meskipun infrastruktur jalan ke area persawahan masih rusak dan belum diperbaiki. Mungkin, pemerintah masih ingin lebih dulu fokus pada perbaikan irigasi. 

Pada penutup, kita patut cukup berbangga dengan Subak yang ada di Bali dan Jawa Barat, yang juga sempat menjadi ikon google doodle Juni tahun 2020.

Subak, telah ditetapkan sebagai; teknologi irigasi terbaik dan Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO sejak tahun 2012. Ini berarti bahwa pertanian bukanlah sektor atau hal yang ketinggalan jaman. 

Ia akan tetap menjadi sesuatu yang up to date sekeren nasi goreng makanan favorit Mantan Presiden Obama. Selamat tahun baru 2022 dan selamat menikmati nasi goreng di mana pun Anda berada! 


Referensi

Voa Indonesia. 2019. Dalam https://www.voaindonesia.com/amp/pemerintah-akan-tingkatkan-penggunaan-teknologi-pertanian/4861543.html. Diakses 16 Agustus 2019.