67936_62314.jpg
geotimes.co.id
Politik · 3 menit baca

Nasehat Soekarno untuk SBY
Dialog Imajiner

Marwan Amir mantan anak buah SBY angkat bicara terkait skandal E-KTP, dia menyebut nama bos besar Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Merasa dirinya difitnah, SBY mengadakan konferensi pers. SBY menyatakan banyak mantan menteri yang mau membantunya namun ia mengatakan This Is My War.

Sontak saja pernyataan tersebut menjadi polemik dimedia massa, suhu politik sedikit hangat, apalagi Mirwan sekarang merupakan kader Hanura yang merupakan partai koalisi pemerintahan saat ini. Beragam komentar muncul, ada yang pro terhadap SBY dan ada pula yang kontra serta menganggap pernyataan itu terlalu berlebihan, atau dalam bahasa kaum Dilan dikenal dengan 'lebay'.

Logika sederhana sich memang Mirwan tidak sepenuhnya salah, proyek KTP-El memang dimulai ketika SBY masih Presiden. Menteri Gamawan Fauzi juga diangkat oleh SBY, dan kewajiban pembantu Presiden untuk selalu melaporkan progress kinerjanya kepada atasan (Presiden). Itu artinya SBY tahu bagaimana progress proyek yang belakangan diketahui bermasalah.

Namun SBY dengan penuh keyakinan sudah menyatakan perang, apakah perang Kurawa versus Pandhawa atau perang bagaimana yang dimaksud SBY? menurutnya ia difitnah, dan perang yang dimaksud barangkali terhadap orang atau kelompok orang yang memfitnahnya. 

Satu hal yang pasti, perang tersebut masih perang sesama anak bangsa bukan perang melawan Asing sebagaimana dilakukan Soekarno terhadap korporat Asing yang ingin kuasai SDA kita.

Sehari setelah menyatakan perang, SBY diajak Soekarno ngopi. Sebagai sesama mantan pastinya wajar bila diskusi, dalam diskusi yang disaksikan kopi Aceh, tampak serius walaupun saling canda bercampur didalamnya.

"Susilo kamu kenapa? tanya Soekarno pada SBY yang memakai baju kaos dengan segelas Sanger diatas mejanya". "Saya difitnah, seolah-olah saya terlibat kasus KTP-El", jawab SBY serius. 'Ah kamu jangan lebay dech, baru disebut nama saja sudah serius banget, apalagi sampai menyatakan This is My War segala'. Soekarno dengan sedikit senyum, sementara SBY tampak serius. Kenapa begitu? SBY kembali bertanya.

Soekarno pun dengan berwibawa menjawab, pertama; sebagai publik figur tuduhan bernada fitnah itu biasa. Kita negara hukum, silahkan lapor ke polisi bila merasa difitnah. Lah aku juga pernah difitnah terlibat Gerakan 30 September yang dilakukan PKI. 

Bayangkan saja fitnah itu masih saja muncul setiap kali jelang 30 September, tapi aku tetap tenang-tenang saja. Kedua, kalau mau perang seharusnya pada saat jadi Presiden kamu usir Freeport dan korporat Asing yang menghisap kekayaan alam kita.

SBY menarik nafas panjang

Soekarno kembali melanjutkan, 'kamu masih ingatkan ketika aku panggil korporat Asing untuk ikut aturan kita atau hengkang dari Indonesia'? SBY mengangguk, pertanda masih ingat dengan peristiwa itu, setahun kemudian John F Kennedy ditembak karena dianggap membela Soekarno bukan membela perusahaan Amerika di Indonesia.

Ketiga, Soekarno kembali melanjutkan, 'kalau perang itu jangan dengan sesama anak bangsa apalagi mantan anak buah'. 'Kamu ingat DWIKORA (3 Mei 1963)? aku menyatakan perang dengan Malaysia, karena mereka menginjak-injak kedaulatan kita. Itu baru perang!!! tegas Soekarno.

Kita ketahui bersama Soekarno pernah menginstruksikan gayang Malaysia melalui pidatonya, Soekarno mengatakan;

”Kalau kita lapar itu biasa. Kalau kita malu, itu juga biasa. Namun, kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar! Kerahkan pasukan ke Kalimantan, hajar cecunguk Malayan itu! Pukul dan sikat, jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak Malaysian keparat itu.”

”Doakan aku, aku akan berangkat ke medan juang sebagai patriot bangsa, sebagai martir bangsa, dan sebagai peluru bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.”

”Serukan, serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini. Kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.”

Kita juga masih ingat ketika Gus Dur difitnah kasus Brunei-gate yang kemudian ia dilengserkan. Gus Dur tidak menyatakan perang atau mempidanakan orang-orang yang memfitnahnya. Gus Dur paham bahwa stabilitas nasional itu lebih penting dibandingkan arogansi dan kepentingan pribadi.

Soekarno kembali melanjutkan,

"Jadi kamu tidak usah lebay atau panik menghadapi fitnah, cobaan kamu belum seberapa, kalau nanti dipanggil sebagai saksi bahkan tersangka, kamu datang dan buktikan kamu tidak bersalah, sekarang habiskan sangermu, cepat tarik ucapanmu yang tampak tidak negarawan", tegas Soekarno diakhir nasehatnya.

Sanger adalah campuran kopi, teh, dan susu. Minuman ini hanya ada di Aceh, mirip kopi susu tapi rasanya lebih nikmat.

Keduanya beranjak dari kursi dan bersalaman tanda perpisahan. Sekarang kita tinggal menunggu, apakah SBY mau menuruti nasehat Soekarno atau tetap dengan perangnya sendiri.

Ujian ini akan membuktikan apakah SBY seorang demokrat sejati, negarawan atau SBY hanya seorang mantan presiden yang ingin menunjukkan dirinya masih memiliki kekuatan politik.