Nasab merupakan jalur penghubung generasi saat ini untuk mengetahui sosok pendahulu dengan garis darah sebagai alat penyambungnya. Dengan kata lain, nasab merupakan garis keturunan. Beberapa kultur memegang nasab dengan nama marga sebagai identitas bahwa seseorang memiliki nenek moyang di masa lalu.

Nasab berfungsi sebagai identitas atau tanda pengenal latar belakang seseorang untuk mengenal para pendahulunya. Sebagian lagi berfungsi untuk menjaga peredaran garis darah agar terhindar dari pernikahan dengan orang yang dianggap tidak pantas untuk bergabung dalam nasab tersebut. Namun untuk saat ini, nasab digunakan sebagai alat untuk mendapat previllege secara instan dalam sudut pandang masyarakat yang awam.

Dengan menjunjung tinggi garis nasab tersebut, maka masyarakat atau kelompok orang yang tidak jelas nasabnya, menganggap orang yang jelas nasabnya dengan kacamata kemuliaan. Apalagi nasab tersebut menyambung kepada sosok yang dihormati atau dihargai pada masanya. Tak ayal garis keturunannya memanfaatkan peluang tersebut untuk dianggap sama, bahkan lebih daripada pendahulunya tersebut.

Padahal hal demikian merupakan cikal bakal feodalisme yang pernah terjadi di masa kerajaan. Kerajaan sendiri dahulu berbentuk sistem monarki, dimana raja menurunkan tahtanya kepada buah hatinya, meskipun secara jelas dalam sejarah bahwa kebanyakan kerajaan runtuh akibat ketidakmampuan garis keturunan dari raja pertama untuk memerintah.

Inilah salah satu kelemahan bentuk pemerintahan dalam sistem monarki. Tak cukup sampai disitu, perbedaan nasab yang diunggulkan dan yang tidak menjadi penyebab perbedaan kelas atau yang lebih buruk yaitu adanya sistem kasta dalam tatanan sosial. Sejarah telah menjelaskan itu semua dengan nyata.

 Lalu apakah saat ini pengunggulan nasab tertentu masih ada? Pertanyaan yang bagus. Memandang dari realitas saat ini, maka pengunggulan nasab tertentu tidak hanya ada, namun juga terasa. Bagaimanapun juga, terdapat kelompok yang masih mempertahankan hal tersebut dengan mengatasnamakan “tradisi”. Begitu banyak permasalahan yang terjadi dikarenakan pengunggulan nasab tertentu.

Dalam hal ini, terjadi beberapa macam pertikaian yang terjadi dikarenakan kelompok yang merasa unggul nasabnya itu, masing_masing menganggap nasabnya sebagai yang paling unggul daripada yang lain.

Jika hal ini terus terjadi, niscaya perbedaan-perbedaan tersebut sulit untuk menyatu. Padahal, penghormatan, penghargaan seseorang seharunya tertuju secara original dan natural kepada pihak yang bersangkutan, bukan malah karena seseorang tersebut memiliki garis keturunan yang hebat pada masa dahulu.

Hal ini harus diperhatikan agar dapat membedakan, bahwa kita sebenarnya cukup memandang seseorang berdasarkan kepribadiannya selama ia berinteraksi kepada kita, bukan terhadap nenek moyangnya. Tetap kita hormati juga nenek moyangnya sesuai sumbangsihnya dahulu.

Namun tak harus kita hormati seseorang karena ia memiliki nenek moyangnya, padahal ia tidak memiliki sumbangsih apapun atas apa yang telah nenek moyangnya lakukan di masa lalu. Sekali lagi, bahwa penghormatan yang berlebihan menyebabkan kontadiksi yang terjadi saat ini, seperti politik etis yang telah mengakar.

Tentu hal ini menyebabkan jurang kesenjangan yang terus-menerus yang dialami oleh generasi selanjutnya yang memiliki nasab yang tidak begitu diperhitungkan, dan cenderung diremehkan. Lalu bagaimana dengan aturan hukum dalam akibat perzinahan yang melahirkan anak diluar pernikahan? Bukankah hal tersebut merupakan salah satu keuntungan dari pengunggulan nasab? Lagi-lagi kita harus melihat hal ini sebagai kontradiksi yang terjadi akibat adanya pengunggulan nasab tertentu.

Bagaimanapun pernikahan merupakan suatu hal yang sakral, buah hati yang terlahir dari pernikahan secara otomatis memiliki garis keturunan secara formil. Hal tersebut merupakan bagian dari pentingnya nasab sebagai jalur pengingat generasi saat ini kepada generasi sebelumnya.

Namun bukan untuk saling mengunggulkan satu sama lain, akan tetapi sebagai bahan perbaikan generasi saat ini ketika menghadapi problematika kehidupan yang ia jalani. Tentu saja anak yang dilahirkan diluar pernikahan tidak tepat untuk disalahkan, jika ingin menyalahkan, ya salahkan saja orang tuanya yang melakukan hal demikian.

Maka untuk mengurangi sikap elitis golongan yang mengunggulkan nasabnya ialah memandang kepada generasi penerusnya atau saat ini. Apakah kita pantas menghormati seseorang karena latar belakang garis keturunannya? Kita harus memandang seseorang berdasarkan kontribusinya terhadap publik, meskipun ia terlahir dengan nasab yang jelas maupun tidak jelas sekalipun.

Hal demikian sebagai rasa terimakasih kita kepada individu tersebut dalam upayanya yang menghasilkan sesuatu manfaat yang dapat kita nikmati secara bersama-sama. Jika hal ini sudah menjadi kebiasaan, maka orientasi kehormatan yang selama ini berasal dari nasabnya, maka akan berganti kepada kemampuan individu tersebut secara mapan tanpa embel-embel nasabnya.

Kesenjangan yang terjadi akibat dari pengunggulan nasab tersebut, akan berkurang sehingga kelompok atau individu yang tidak memiliki nasab yang jelas akan berusaha untuk mendapatkan kehormatannya dengan layak dalam sesuatu yang dapat dirasakan, yakni kontribusi yang ia berikan kepada khalayak umum, yang tentu saja ia akan mendapatkan hal itu jika kontribusi yang ia berikan dapat menyenangkan orang banyak.