99701_31138.jpg
https://www.google.co.id
Budaya · 3 menit baca

Narsisme Gratis dan Representasi Tubuh

Seno Gumira Ajidarma pernah menyoal kecenderungan masyarakat modern yang gemar melegitimasi selembar foto sebagai perwakilan otentik manusia. Fotografi, menurutnya, kini dianggap representasi dari realitas. Potret tubuh dipampangkan jelas berikut segenap gaya ekspresifnya. Seno mendedah fenomenologi mutakhir itu lewat esainya bertajuk Kalacitra (2000).

Banjir foto yang memenuhi linimasa Instagram, sebagai contoh, merupakan bukti kenapa manusia abad ke-21 rajin mengeksploitasi aktivitasnya. Kebanyakan foto-foto itu diambilkan dari potret wajah masing-masing. Mimik sedih dan bahagia seakan menjelaskan keadaan pengguna akun. Di balik foto, secara semiotik, menandakan suatu momen partikular yang difungsikan untuk diumbar bebas.

Aplikasi termutakhir gayung bersambut dan justru ditambahkan fitur-fitur pemersolek lain yang tak kalah ciamik. Manusia dengan bebas menggunakannya untuk menunjang kreativitas: perjelas efek cerah, hapuskan noda hitam, perkontras resolusi warna. Sekali klik, wajah pas-pasan sekalipun, terkonversi tambah elegan.

Media sosial melampaui layanan komunikasi jarak jauh. Percakapan di era ini bukan lagi diwakili oleh bahasa verbal, melainkan citra visual. Gambar maupun foto telah menjelaskan secara detail sebuah situasi-kondisi seseorang. Melihat unggahan foto, karenanya, dapat langsung diterka keadaan pengguna—walaupun absen narasi-deskripsi.

Meneguhkan Keakuan

Jamak artis kemarin sore bermunculan dari media sosial. Bila dekade lampau orang butuh media massa untuk mengangkat citranya, baik diberitakan lewat televisi maupun surat kabar, kini orang hanya mengandalkan etalase tubuh. Istilah seperti selebgram sekarang dikenal luas, meski kata itu belum maauk kitab suci KBBI.

Instagram ditengarai menjadi penyebab kemunculan selebram secara masif. Mengiklankan diri tak perlu saingan. Bahkan tak perlu pula menunggu antrean. Ia cukup meluangkan waktu membonsai akun pribadinya ke arah tren yang sedang dijadikan buah bibir. Selang beberapa bulan, berkat ketekunan dan pintar mengambil momen, ketenaran akan segera disabet.

Ambil contoh para penjual kerudung modern itu. Modalnya sebatas wajah cantik dan keberanian memamerkan tutorial. Jika ia konsisten melakukan hal serupa, plus membubuhkan hashtag tertentu, akun miliknya akan dirubung bagai semut melihat gula.

Parameter selebram, setidaknya, terdiri atas tiga aspek: pengikut, jempol, dan komentar. Ratusan ribu pengikut datang dengan sendirinya. Peluang ini kemudian digunakan untuk promosi barang maupun jasa dalam rangka komoditas. Banyak orang tertarik membeli karena konsumen ingin seperti apa yang difigurkan.

Selebram mendadak kaya seiring dengan rekening yang bertambah digit. Kerja semacam ini mudah dilakukan siapa pun. Forum Ekonomi Dunia mengakui keadaan ini dan mewartakan peluang usaha di abad Revolusi Industri 4.0. Jagat maya dirasa empuk untuk meningkatkan pendapatan finansial.

Fulus hanya instrumen tambahan dari politisasi foto. Uang akan datang dengan sendirinya setelah orang mengkampanyekan diri sendiri. Realitas modern di era digital ini juga menampik anggapan ekonomi klasik: membangun usaha tak perlu bermodal fantastis, cukup dengan modal fisik dan ketelatenan.

Kepemilikan Tubuh

Gelombang swafoto dilakukan tiap jam secara manasuka. Apalagi fitur kamera kini tersedia integral di telepon pintar. Tren kepemilikan Smartphone lanbat-laun bergeser. Yang dulu hanya dipunyai oleh kelas menengah ke atas, sekarang turun menjadi menengah ke bawah. Benda canggih itu dewasa ini dikategorikan ekonom sebagai barang primer.

Bergesernya prioritas juga sampai pada kepemilikan tubuh. Potret tubuh yang diunggah ke media sosial itu secara struktural telah menyetujui bahwa dirinya sudah diserahkan kepada massa. Dengan kata lain, pengunggah foto memberikan tampilan visualnya untuk dikonsumsi publik. Baik disadari maupun tidak, ia menghadapi sebuah kontestasi tubuh.

Manakala foto dipublikasikan, nasibnya seperti apa yang dikatakan Roland Barthes, yakni kematian pengarang. Ia juga bisa diamsalkan seperti "pengunggah" karena secara kultural memiliki pola yang sama. Sebagaimana tulisan, foto pun memiliki kecenderungan sama ketika ditayangkan: bebas ditafsirkan orang lain sesuai kapasitas sosial masing-masing.

“Kematian foto” di arena media sosial ini memberikan peluang bagi pengguna lain untuk memproduksi makna partikular. Nasib foto ditentukan oleh kecenderungan massa yang secara monumental bersemuka dan memberi atensi terhadapnya. Penilaian tiap individu, karenanya, bebas dikemukakan—apakah ditolak atau diterima.

Jebakan para selebgram atau orang yang dipopulerkan itu, antara lain, meliputi tertembusnya batas-batas antara yang tertutup dan yang terbuka. Foto yang seharusnya mewakili ketertutupan (milik privasi) seseorang kini dimaknai sebagai keterbukaan (milik umum). Eksploitasi atas tubuh kemudian menjadi sebuah keniscayaan.

Perubahan paradigma dimensi visual telah berubah mengikuti tren zaman. Media sosial mengawali sekaligus penyebab utama perubahan itu. Fenomena ini menjalar di benak manusia modern, sekalipun ia tak menyadari keberadaannya.

Pada praksisnya eksploitasi tubuh melalui representasi foto diselebrasikan besar-besaran. Pihak yang tak bertanggung jawab menggunakan peluang tersebut untuk melakukan tipu daya guna mengais kepentingan khusus. Maraknya penggunaan akun artifisial bukti dari realitas itu. Foto curian dipakai demi kepentingan destruktif. Benar-benar mengerikan.