Fundamentalisme dalam keyakinan semua agama selalu ada. Hal ini menyebabkan kelompok sayap kiri yang mengkritisi kajian humanistik lebih cenderung meninggalkan keyakinan-keyakinan religius karena dianggap tidak memiliki nilai praksis positif dalam perkembangan masyarakat global, selain hanya berkutat pada "si kafir" dengan sederetan sejarah kelam yang melukai nilai-nilai kemanusiaan.

Dengan nada satir, Mark Juergensmeyer merangkum kegalauan dari pejuang sayap kiri tersebut dalam sebuah pertanyaan serius,

“Mengapa agama itu kelihatannya membutuhkan kekerasan dan kekerasan agama? Mengapa mandat suci untuk perusakan diterima dengan keyakinan seperti itu bagi pengikutnya?”

Common sense kita seketika ciut ketika berhadapan dengan posisi dilematis tersebut karena pada prinsipnya tidak ada kekerasan, pelecehan, dan penghujatan yang muncul dari ketaatan dan kesalehan. 

Sebuah paradoks yang sulit dijawab dalam sisi humanistik, namun juga tidak dapat ditolak dalam segi dogmatis dalam konsepsi keagamaan. Manusia beragama seperti diperhadapkan dengan satu pilihan sulit antara Tuhan dan Setan pada persimpangan jalan, antara terang yang juga memancarkan kegelapan.

Sialnya, orasi-orasi kosong yang dilandasi atas semangat fundamentalis itu terus bertumbuh sumbur dan melahirkan paham-paham radikal yang berujung konflik horizontal. Namun anehnya, narsisme berkedok agama demikian terus diserukan oleh kaum fundamentalis buta ini. 

Entah karena “pasar” global juga menggandrungi ceramah-ceramah demikian atau karena sejumlah kepentingan, atau mungkin juga karena terdapat semacam “kesenangan” tersendiri bagi kaum fundamntalis.

Perhatikan saja konten yang diorasikan, seperti kehabisan bahan kajian, kaum fundamentalis yang narsis tersebut mengisi ceramah-ceramah mereka dengan sampah yang berujung pada pelecehan keyakinan lain yang dianggap "kafir" ketimbang menyajikan suatu nilai positif demi kemajuan umatnya dan masyarakat global.

Lucunya, penceramah-penceramah sampah tersebut justru sangat digandrungi oleh kaum milenial karena seolah-olah menghakimi, menertawakan, dan mengutuk simbol-simbol keyakinan agama lain itu mendatangkan kepuasan tersendiri bagi mereka. 

Apakah ini sebuah fenomena baru dalam beragama pada masa kini? Ataukah suatu gejala ganggungan kejiawaan dalam beragama?

Jika hal ini merupakan sebuah fenomena baru, maka mungkin kita perlu piknik sesaat dan mengganti "kacamata kuda" kita. Akan tetapi, jika hal ini merupakan suatu gejala kejiwaan, maka asumsi Feuerbach, Freud, dan Marx mungkin saja benar mengenai kegilaan-kegilaan manusia yang beragama. Separah itukah cara bergama kita hari ini?

Di sisi lain, gejala demikian justru menunjukan secar implisit bahwa terdapat semacam kekurang-PD-an pada keyakinan kaum fundamentalis buta ini, sehingga seolah-olah membutuhkan pembenaran dari keyakinan si kafir sebagai terapi psikologis yang menyenangkan diri. 

Dengan menjatuhkan dan menertawakan si kafir, kaum fundamentalis ini berharap akan memperoleh semacam nilai tambah bagi keyakinan mereka serta hiburan khusus sebagai terapi psikologis dalam beragama. Sangat menyedihkan!

Lebih jauh, hal demikian bukan hanya menunjukkan kegagalan dalam beragama dan berbangsa, namun juga kegagalan dalam berlogika (Strawman—kesesatan dalam logika), hingga mengarah pada gejala-gejala ganguan kejiwaan.

Ketika semangat fundamentalis tertaman pada kalangan yang berotoritas memimpin umat, maka isi ceramahnya pun tidak jauh dari sampah dan sumpah serapah. 

Ketika semangat fundamentalis telah memperbudak hidup serta cara beragama manusia, maka pada saat itu yang tersisa bukan lagi masyarakat agamis namun hanyalah segerombolan setan-setan yang sakit jiwa.  

Sejatinya kebenaran bersifat final dan absolut. Seperti kata Socrates, "Kebenaran tetaplah kebenaran meskipun tidak ada yang mengakui/mendukungnya sebagai kebenaran". 

Jika kita meyakini bahwa kebenaran dalam keyakinan agama kita adalah kebenaran yang sejati, maka seharusnya tidak perlu risau dengan keyakinan kebenaran orang lain yang berbeda, apalagi dengan menggunakan cara-cara sampah serta provokatif untuk membenarkan diri.

Biarlah Sang Kebenaran itu yang akan menyatakan kebenaran mana yang sejati pada waktunya. 

Karena panggilan kita sebagai manusia beragama tidak lepas dari panggilan kita sebagai manusia yang juga bernegara, maka nasihat Blaise Pascal dan Schmitt berikut mungkin dapat menjadi sebuah perenungan dalam beragama dan bernegara.

Pascal berujar, "Berhentilah dengan nafsumu, dan kamu menjadi beriman." Sementara Carl Schmitt menasihati kita agar memiliki kesadaran bahwa, "Setiap pertentangan religius (yang dilandasi atas semangat fundamentalis) akan berubah menjadi pertentangan politis jika cukup kuat untuk mengelompokkan orang secara efektif menjadi kawan dan lawan."

Untuk itu, marilah kita beragama dengan semangat keagamaan sehinga tidak melukai agama, dan berbangsalah dengan semangat kebangsaan, sehingga tidak melukai saudara sebangsa.

Simpanlah keyakinan privasi kita di saku belakang dan semangat kebhinekaan pada saku depan kita, karena masa depan bangsa tercinta ini masih panjang. Salam kemerdekaan dari si kafir, saudara sebangsamu, yang sudah merdeka namun masih terus dijajah oleh para fundamentalis narsis.