Perhelatan Pekan Olah Raga Nasional (PON) XIX 2016, akan digelar 17-29 September ini. Harian Kompas edisi kemaren (7/9) dalam foto utama di halaman depan memuat foto sarana dan prasarana Arcamanik Sport Center, Bandung yang belum rampung, sementara perhelatan PON akan segera datang.

Apakah pembangunan sarana PON seperti legenda Sangkuriang yang membuat bendungan Sungai Citarum dengan sistem kebut semalam? Foto Kompas itu tampak kontras bila disandingkan dengan baliho-baliho PON yang dijejali foto Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher).

Maskot Pekan Olah Raga Nasional (PON) XIX Jawa Barat adalah dua ekor monyet Surili, tapi yang muncul di baliho-baliho ternyata foto Aher dan perutnya. Saya memperoleh sebuah foto baliho itu dari tirto.id, saat saya lempar di twitter, banyak respon yang masuk yang mengabarkan bahwa baliho-baliho PON Aher juga dipasang di beberapa kota di Indonesia, khususnya di bandara.

Bagi saya baliho PON dengan foto Aher dan perutnya beraroma tak sedap dan terlihat norak. Saya sebut berbau tak sedap karena tak lebih sebagai penyalahgunaan jabatan dan kewenangan. Baliho foto Aher dibuat dan dipasang dengan menghambur-hamburkan duit rakyat.

Acara PON juga perhelatan olah raga nasional bukan hanya Jawa Barat, namun Aher memanfaatkan duit rakyat dan momen nasional ini untuk kepentingan pribadi dan demi menonjolkan dirinya (sialnya yang tampak menjendul hanya bagian perut).

Kalau kita lihat dua sosok di bagian kiri bawah di baliho: dua ekor monyet Surili—itulah maskot PON yang resmi. Tapi yang tampak kuat hanya perut Aher memenuhi seperempat ukuran baliho. Saya yakin warga Jabar atau siapa pun yang melihat baliho itu akan bingung: mana maskot PON yang sebenarnya apakah dua ekor monyet Surili atau Aher?

Terlihat pula dua monyet Surili—yang terpilih sebagai maskot PON karena kelucuan dan kegesitannya—terdesak ruang bergeraknya oleh gembungan perut. Semoga tidak ada yang menganggap dua ekor monyet comel itu sedang bermain sambil menabuh beduk.

Bahwa perut mengalahkan maskot resmi jelas-jelas dipandang buruk dari sisi periklanan. Iklan yang cerdas untuk membangun "branding" yang menarik, positif dan kuat. Tujuan “branding” untuk membangun logo yang ampuh, bukan difokuskan pada bintang iklan yang biasanya akan selalu berganti-ganti. Sebuah logo yang telah kuat, tak lagi tergantung embel-embel tulisan atau bentuk-bentuk lainnya yang biasanya hanya mengaburkan bahkan menutupi sebuah logo.

Garis contreng (checklist) berwarna hitam yang khas adalah logo Nike. Logo dari sebuah garis centang yang mencitrakan gerakan yang gesit dan cepat. Kita tahu tanpa ada tulisan Nike-nya. Orang yang tak bisa membaca pun kalau disodori logo itu akan tahu: Ini produk Nike. Tapi alih-alih baliho-baliho PON itu memunculkan logo dan maskot PON, justeru ditimpuk oleh perut yang jumbo.

Perut yang terlalu menonjol juga tak cocok untuk iklan olah raga, yang dalam bayangan khalayak umum, iklan-iklan olah raga menggunakan model-model yang bertubuh atletis. Maka, baliho PON dengan foto Aher, terlihat buruk dari sisi estetika dan periklanan, karena menutupi maskot resmi dan tonjolan perut yang penuh tabungan lemak tak pernah digunakan sebagai iklan olah raga. Kecuali mungkin, lomba makan kerupuk rambak masuk arena PON.

Kalau pun beleho mau memasang wajah orang, mengapa tidak dipasang para juara atlet olah raga yang sangat banyak dari Jawa Barat. Para jawara baik yang juara nasional hingga dunia. Dari bulu tangkis ada Susi Susanti, Taufik Hidayat, Ricky Subagja. Dari Sepak Bola ada Djajang Nurjaman, Adjat Sudrajat dan Robby Darwis serta masih banyak lagi.

Kalau mau wajah yang sedap dipandang, bisa dipilih Susi Susanti, Taufik Hidayat, Ricky Subagja, atau pembalap muda Alexandra Asmasoebrata. Meskipun Djajang, Adjat dan Robby tak kalah--kata urang Sunda—kasep; ganteng) yang memancarkan kewibawaan.

Tentu saja iklan tidak hanya soal fisik. Yang sangat dibutuhkan adalah terbentuknya suatu citra. Para juara yang menua bentuk tubuhnya tidak lagi seperti muda dulu. Namun citra dan popularitas mereka sebagai juara dan pahlawan tidak pernah luntur yang terus memancarkan kebanggaan. Citra pahlawan dan juara sangat kuat memancar dari para atlet jawara nasional dan dunia itu.

Iklan yang kuat memang bertujuan membangun suatu citra yang tak selalu sebanding dengan kenyataan. Iklan lahir untuk menawarkan khayalan. Misalnya iklan rokok yang disebut merusak kesehatan, kalau lihat iklan-iklannya dipenuhi model-model yang bertubuh atletis, sehat dan cerdas. Produk dan bintang iklan tidak selalu berhubungan langsung, maka yang penting bagaimana membentuk dan membangun suatu citra sebagai jembatan penghubung antara produk dan konsumen.

Sedangkan foto Aher dalam baliho-baliho PON itu tidak memenuhi dua kriteria ini, baik dari sisi fisik dan citra.  Selama ini kita teriak-teriak soal apresiasi terhadap para juara yang telah mengharumkan nama bangsa dan daerah, kalau tidak dalam momen olah raga seperti PON ini, kapan lagi? Dengan melihat wajah-wajah para juara itu, saya yakin, para atlet PON yang akan berlaga nanti akan terus termotivasi, mereka ingin mengejar prestasi para juara olahragawan itu.

Bagi saya baliho Aher itu tidak lebih dari upaya memanfaatkan duit rakyat dan acara nasional untuk kepentingan diri, demi menonjolkan diri. Narsisme yang menggunakan duit rakyat. Kalau narsisme untuk suatu tujuan, mungkin masih dimaklumi. Misal, narsisme para politisi yang ingin dipilih dengan memasang banyak baliho dan spanduk yang kita melihatnya saja sudah jeri, apalagi mau memilih, tapi para politisi itu gunakan uang sendiri dengan tujuan agar terpilih.

Setahu saya, Aher tidak bisa lagi mencalonkan diri dalam Pilkada Jawa Barat 2018, mengapa ia masih mengumbar baliho narsistis? Narsisme yang berlebihan tanpa tujuan bisa dianggap sebagai gangguan kejiwaan. Apalagi narsisme ini menghambur-hamburkan duit rakyat.

Tapi Tuhan Maha Adil, Aher ingin pamer dan menonjolkan diri namun yang tampak menonjol justeru bagian perutnya. Dari sisi estetika foto juga buruk, dari sisi esterika periklanan juga buruk, karena perut mengalahkan maskot. Terbitlah baliho-baliho yang boyak dan norak.

Bagi saya, para juara, jawara olah raga dan pahlawan dari Jawa Barat dan Indonesia, lebih layak dipasang fotonya di baliho PON, daripada foto Aher.