Peredaran narkoba di negara kita saat ini sangat mencemaskan. Saya tidak akan menggunakan data-data statistik, yang berujung pada kejenuhan bagi pembaca artikel ini. Tapi, harus kita akui bersama bahwa kita pernah mendengar, membaca, dan melihat kata "narkoba", setidaknya satu kali dalam sehari.

Reportase tentang peredaran narkoba secara bertubi-tubi kita lahap setiap hari. Tapi, narkoba tetap berkeliaran, bahkan hingga ke kamar tidur kita.

Yang harus dimafhumi adalah pemahaman kita tentang narkoba itu sendiri. Kita harus berusaha mencari tahu kenapa seseorang menggunakan narkoba.

Narkoba dapat digunakan oleh siapa saja, termasuk Anda! Sehingga harus dipikirkan untuk menemukan cara lain untuk membendung peredaran narkoba saat ini. Sebab cara yang kita gunakan selama ini telah terbukti tak efektif. Ini era globalisasi. Semua terjadi begitu cepat dan tanpa batas wilayah. Termasuk juga peredaran narkoba.

Memahami kenapa seseorang menggunakan narkoba sama sulitnya dengan memahami kenapa seseorang mencintai jenis tertentu dalam sebuah kesenian. Tapi, kita dapat belajar untuk itu.

Memang, seperti kata psikiater dan psikolog, banyak penyebab kenapa seseorang terbit niatnya untuk menggunakan narkoba. Ini semua dimulai dari niat.

Narkoba adalah sebuah "rekreasi" semu tanpa batas. Tidak ada kata "cukup" dalam menggunakan salah satu jenis narkoba. Seperti obat-obatan lainnya, dosis dari penggunaan akan terus bertambah setiap saat.

Para pengguna narkoba adalah mereka yang berani menantang maut untuk mendapatkan efek "senang" yang lebih dari penggunaan sebelumnya. Kematian, akibat dosis yang berlebihan pada tubuh pengguna, adalah sebuah keniscayaan.

Terkecuali ganja, jenis ini diklaim beberapa pihak tidak akan menyebabkan kematian bagi penggunanya. Tidak juga menyebabkan ketergantungann pada fisik. Hanya saja, ketergantung terhadap psikis penggunanya. Di negara maju, ganja disebut soft drug.

Tapi, dengan pikiran yang "aneh" ketika berada di bawah pengaruh asap ganja, tentu saja hal-hal yang tidak diinginkan dapat terjadi. Semisal, kecelakaan kendaraan bermotor karena si pengemudi pikirannya lagi ngelantur.

Untuk itu, mari kita melembutkan hati dan pikiran kita. Mereka harus kita obati. Kita? Tentu saja. Sebab efek kekacauan akibat penggunaan narkoba tidak hanya dialami oleh penggunanya saja, tapi juga lingkungannya.

Pembenahan pola pikir kita terhadap narkoba harus kita lakukan secepatnya. Saya tidak akan menggunakan slogan-slogan apa pun, tapi kondisi ini benar-benar emergency.

Bahan narkoba yang masuk ke negara ini berbanding lurus dengan penggunanya. Istilah pasar, harga sesuai dengan permintaan. Pertama, para pengguna mencari narkoba. Kedua, mereka menjadi "pasar" bagi penjual.

Realitas yang terjadi saat ini, "pasar" narkoba ada di mana-mana. Pada jaman di bawah tahun 2000, peredaran narkoba berada dalam tahap sangat rahasia. Narkoba hanya diketahui segelintir orang. Mereka umumnya berperekonomian lumayan dan terdidik.

Tapi, di era di atas tahun 2000 hingga sekarang, saya mohon maaf untuk mengatakannya, tidak bisa dikontrol lagi. Siapa saja bisa terlibat dalam peredaran narkoba, baik sebagai penjual atau pun pembeli.

Anda bisa saja berkata, "Anak saya tidak menggunakan narkoba." Itu kondisi ketika ia berada di rumah. Tapi, ketika ia berada di luar rumah, adakah Anda tahu akitivitas yang dilakukannya? Atau, aktivitas yang dilakukannya di dalam kamarnya yang tertutup rapat, yang Anda tidak tahu?

Persoalan-persoalan terkait masalah kejiwaan dan sikap mental harus kita telaah. Orang tidak hanya menggunakan narkoba di saat susah saja, tapi juga di saat senang. Mereka menggunakan narkoba untuk mendapatkan "ketenangan". Itu yang saya sebut sebagai "rekreasi" semu.

Intinya, kita harus mengganti "ketenangan" yang mereka dapatkan dari aktivitas "rekreasi" itu. Ayo, mari kita pahami mereka terlebih dahulu. Untuk menyelami hati dan pikiran mereka secara perlahan, selanjutnya menggugah mereka untuk berhenti menggunakannya.

Jangan menjustifikasi mereka. Sebaiknya buatlah mereka nyaman di samping kita. Selanjutnya, biarkanlah mereka bercerita. Jangan membantahnya, dan jadilah pendengar yang baik.

Setelah mendengar keluh kesahnya, maka giring ia secara perlahan untuk memahami bahwa narkoba yang digunakannya itu tidak baik untuk dirinya. Ini dapat kita lakukan secara bertahap, hari demi hari. Hingga ia menyadari "bahan" yang digunakannya itu tidak baik. Memang, butuh waktu lama.

Sebab kita hanya mencoba, tidak ada solusi lain. Berhenti atau tidaknya seseorang dari penggunaan narkoba sepenuhnya terletak pada dirinya sendiri.

Seperti saya katakan tadi, tidak ada efek jera bagi penggunaan narkoba. Hari ini, anggaplah, mereka tertangkap oleh polisi. Proses hukum berjalan dan mereka didera hukuman. Besoknya, cari lagi. Dan itu terulang, maaf, sampai nyawa tidak lagi di badan. Mereka kambuhan. Dan cara pemikiran inilah yang sering kita lupakan.

Jika seseorang berhenti menggunakan narkoba, baik dengan menyertakan obat dan terapi, mungkin ia memang akan berhenti. Tapi, tidak tertutup kemungkinan ia akan kembali menjadi pengguna.

Ini sangat mungkin terjadi karena ia belum bisa melepaskan lingkungan narkobanya, yakni teman-teman yang sama-sama menggunakan, atau pun penjualnya. Sehingga, jika ia tidak keluar dari lingkungan itu, sugesti berlaku. Kejadian penggunaan narkoba akan terulang lagi. Dan, akan lebih parah dari sebelumnya.

Maka bantulah ia untuk keluar dari lingkungan itu, selamanya. Jadilah teman pengganti baginya. Biarkan ia mencari kita setiap ia ingin menggunakan narkoba. Dan kita persiapkan diri kita untuk kembali mendengar kisah-kisahnya. Selang beberapa waktu, ia tidak lagi merasa tertekan.

Bersyukurlah bagi mereka yang telah terlepas dari jerat narkoba. Banyak pengguna yang melakukan itu, dan banyak dari mereka yang menjadi sehat. Jadi, semua dapat terjadi. Semua diawali oleh niat, dan diakhiri oleh niat. Tugas kita, adalah menciptakan niat itu untuk mereka.