51234_60745.jpg
Ilustrasi tentang korelasi kertas dan internet (Sumber: google.com)
Pendidikan · 6 menit baca

Narasi Sendu dan Relasi Kecerdasan dari Kertas
Era Serba Digital, Kertas-kertas Memompa Akal

Dialektika tentang eksistensi kertas tiada henti, hingga akumulasi gerak kertas dimutasi sampai pada titik kulminasi. Presuposisi yang menyatakan kertas berada di ujung tanduk, kian hari seolah melanggengkan hegemoni. Digital diklaim berhasil menginvasi. Internet dipandang sebagai zona ekonomis, ketimbang dengan kertas. Persis, ketika paradigma filsafat sosial memandang, bahwa apapun yang beraroma ekonomi adalah determinan paling berpengaruh terhadap masyarakat, tanpa mengenyampingkan dominasi ideologi.

Kita diperhadapkan pada diktum-diktum, lalu kehabisan cara membangkangi geliatnya. Kebutuhan berubah drastis, serba digitalisasi. Pemikiran-pemikiran manusia yang selalu menerobos pada perubahan dan perbaharuan merupakan bukti konkret. Masyarakat menyambut euforianya. Ternyata, produksi sosial internet perlahan menjadi genderang perang bagi kertas. Kuasa internet kini menemui kejayaan di zaman ini.

Konstalasi zaman akhirnya berbuah pada gerakan-gerakan serba modern dan plural. Virtual, diversitas, network, konektivitas, transnasional, transkultur dan energi lainnya, berimbas pada cara pandang berbeda. Era ini kita sebut dengan transmodernisme. Sebuah gerakan filsafat dan budaya terbuka yang diharapkan tanpa bentuk sentralitas, hegemoni, dominasi. Namun, gerakan yang dipelopori oleh filosof Argentina, Enrique Dussel sebagai manifestasi dari kritik era modernisme dan posmodernisme, justru menjerumuskan narasi-narasi sendu dari pencaturan global.

Narasi panjang kertas telah menjadi perbincangan yang alot. Tanpa dinafikan, kertas memang sedang berada dalam situasi genting. Secara simplistis, internet menggerogoti dimensi fungsi kertas. Padahal, kertas selama ini berhasil mengukuhkan pancang prasasti peradaban di dunia ini. Setidaknya postulat itu, menjauhkan kita dari dilematis. Memformulasikan perbedaan sebagai suatu kepatuhan regulasi sosial. Sebab, bagi filsuf dan sosiolog Prancis Pierre Bourdie (1987), satu-satunya yang nyata dalam realitas sosial adalah ruang sosial yang berjalan sebagai ruang-ruang perbedaan. Maka teranglah, bahwa ruang sosial sejatinya hanyalah konstruk dan kita dihadiahi kadar kepekaan dan otoritas menentukan.  

Rangkaian dan retakan-retakan di atas, boleh jadi berakhir krusial. Oleh karena itu, fenomena ini setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama, sejauh mana internet mampu membuat kertas berada di ambang batas, sementara kelakuan manusia tak pernah mengalami keajekan. Kedua,  internet memang tidak bisa dibendung, kendatipun di Indonesia kita sudah lancar berselancar sejak 2001 dan menjadi candu pasar, eksistensi dan kebutuhan manusia berkotinuitas terhadap kertas. Ketiga, entitas kertas jangan hanya dipandang berfungsi tunggal. Wilayah-wilayah kemungkinan yang pragmatis akan tetap menjadi fokus, agar lepas dari stigma dan siklus yang membosankan.

Sejak zaman T’sai Lun (105 Masehi), kertas telah bersinggungan dengan kehidupan manusia. Kertas menjadi satu-satunya alat yang menyimpan kronik perjalanan kita. Kisah sejarah, citraan masa lampau, juga tentang reaksi-reaksi romansa dan aksi-aksi heroik, tercatat dalam label-label yang dibaca dengan kata-kata. Itulah yang menguatkan keyakinan Emil Durkheim (1858—1917), bahwa peradaban dicirikan dengan kata-kata dan tak pernah lepas dari relasi sosio-kultural. Budaya membaca, menulis, juga budaya komunikasi transaksi, alat kebutuhan sehari-hari (tisu, pembungkus, pembersih) dan sejumlah kemudahan-kemudahan lainnya, menjadikan kertas tak bisa lepas dari aktivitas hidup.

Ada sejumlah hal yang menarik dari berbagai penelitian, kaitannya kertas dengan perkembangan digital. Carrie B. Fried dari Jurusan Psikologi di Winona State University, mencoba melakukan penelitian In-Class Laptop Use and Its on Student Learning pada tahun 2006. Hasilnya, menimbulkan kecemasan yang akut dari peneliti. Pasalnya, pola pembelajaran dengan menggunakan laptop ternyata mengganggu kemampuan siswa untuk memperhatikan dan memahami materi. Hal itu diakibatkan terlalu banyak informasi yang diserap dari dalam laptop. Inferensi yang muncul, bahwa ketergantungan laptop sangat berbahaya terhadap kecerdasan siswa.

Begitupula penemuan yang mengagumkan dan sangat populer dari  penemuan Pam Mueller dan Daniel Oppenheimer yang jurnalnya berjudul The Pen Is Mightier the Keyboard: Advantages of Longhand Ovr Laptop Note Taking (2014). Mereka berhasil mengatasi kejumudan pikir manusia yang selama ini dininabobokan benda-benda elektronik. Hal yang ditemukan, selain memeroleh keunggulan dari sisi pembelajaran yang tinggi dengan menggunakan catatan pena dan kertas, dibanding dengan laptop. Parahnya, laptop disinyalir akan mempercepat datangnya penyakit pikun seseorang.

Bryan Kerr Direktur Garden Street Academy di California menuliskan catatan penelitian Taking Notes in Class: Laptop vs Handwriting (2016) di websitenya. Dalam tulisannya, dipaparkan ia pernah melakukan riset dengan menggunakan tiga contoh eksprimen yang terkait efektivitas penggunaan laptop dan catatan tangan pada saat pembelajaran berlangsung.

Dari penelitian tersebut, diperoleh fakta, bahwa dengan melakukan pencatatan di kertas, otak melakukan pemrosesan kognitif jauh lebih banyak dan memudahkan pemahaman konseptual. Dengan catatan tangan, penulis secara tidak langsung mengurai informasi yang akan dicatat. Sementara laptop, justru kesulitan menyesuaikan dan mengurai pemahaman konseptual yang diperoleh di kelas. Hal itu dikarenakan, dengan mencatat melalui laptop memicu seorang siswa untuk mengetik semua yang mereka dengar. Hanya saja di sisi lain, justru dengan menggunakan laptop memungkin siswa memeroleh informasi yang lebih banyak, sebab mereka mencatat hingga tidak ada yang terlewatkan.

Namun di akhir tulisan, Bryan Kerr menyimpulkan, bahwa kecenderungan yang mesti dilakukan agar semua kemungkinan-kemungkinan potensi tercapai, yakni mengkombinasikan penggunaan catatan tangan dengan laptop. Jadi, setelah menggunakan catatan tangan, siswa diminta untuk mencatat ulang di laptop. Hal itu dimaksudkan, agar peserta didik membaca ulang. Dengan demikian, penemuan ini menjadi salah satu bukti bahwa alat elektronik atau internet dan kertas tidaklah saling memangsa. Keduanya berjalan beriiringan.

Riset dari University College London  oleh Cecilia Bembibre dan Matija yang berjudul Strlic Smell of Heritage: a Framework for the Identification, analysis, and Archival of Historic Odours (2017), mengungkap keunikan lain dari kertas, bahwa buku-buku lama ternyata memiliki bau kertas yang bisa merangsang saraf sensorik untuk bekerja. Kedua peneliti ahli bau pusaka itu, mengurai bahwa sama seperti ketika kita mencium bau museum, dengan mencium bau kertas buku bisa berkontribusi terhadap peningkatan pembelajaran dan membuat seseorang merasa nikmat dan tenang. Ini menandakan, mengapa orang lebih senang membaca buku cetak, sebab sensasi seperti demikian tidak akan diperoleh dengan membaca buku elektronik(e-book) yang terdapat laptop ataupun gadget.

Tak sampai di situ, dalam konteks Indonesia penting dipikirkan oleh kita. Kertas dipercaya tidak hanya semata-mata menjadi alat yang memudahkan manusia dalam menjalani aktivitas. Tetapi, secara psikologi diilhami banyak manfaat. Khususnya dalam pembelajaran. Riset menemukan, bahwa anak-anak yang menggunakan kertas dalam aktivitas bermain dapat meningkatkan keterampilan motorik halus anak. Penelitian tersebut, pernah dilakukan oleh Rosika Aprilia dari Universitas Lampung pada tahun 2015. Rosalia mengungkap, bahwa dengan kertas anak-anak sangat aktif untuk menulis dan mewarnai, khususnya usia 5-6 tahun.

Pendidikan di Indonesia, juga kian hari semakin membutuhkan buku. Tiap tahun, ribuan produksi buku-buku pelajaran yang didistribusikan pemerintah ke berbagai sekolah maupun perguruan tinggi. Dilansir dari Kompas,  dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional 2017, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) mengirim 10 ribu buku ke daerah-daerah tertinggal, terluar, dan terdepan (3T). Sebuah angka yang cukup fantastik dan sekaligus menguak tabir bahwa buku masih menjadi prioritas. Di tengah gempuran internet, pemerintah malah lebih memilih buku dibanding meningkatkan ruang-ruang dunia maya. Ini penampakan luar biasa, bahwa buku cetak memiliki dampak positif dibanding buku-buku yang berseweleran di internet.  

Selama ini wajah suram kertas pascamunculnya internet, sebenarnya hanyalah bentukkan interpretasi diskursus. Identitas kertas masih saja dipandang dengan menggunakan kacamata tunggal. Kertas bukanlah suksesif, kehadirannya tidak bisa digantikan dalam kondisi apapun. Tak peduli gempuran zaman. Kertas akan tetap bertransformasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia.   

Dari beberapa fakta kegunaan kertas di luar fungsi umumnya, setidaknya ini menjadi hipotesis yang perlu diperhitungkan. Seharusnya kertas tetap berada pada lokus dan forosnya, tanpa harus ada selaan-selaan yang menggoyangkan penopanngnya. Untuk itu diperlukan desensitisasi sistemik yang merujuk pada respon-respon yang berlebihan terhadap perubahan, khususnya preferensi internet yang acapkali dikonfrontasikan. Patut diakui, kertas begitu tekun menjelajahi masa. Kertas selalu menjaga keseimbangan waktu dengan segala wujud kreativitas dan inovasi yang diciptakan oleh para pemilik industri dan pelakon kertas

Akhirnya, simpulan yang lahir dari hasrat penulis, bahwa kertas akan selalu ada dalam melayani kebutuhan manusia. Praktik-praktik yang bernada puitis, keputusan-keputusan yang bombastis, juga seleweran informasi di papan-papan pengumuman yang kritis dan eufemistis, kerap kali lahir dari lembaran kertas. Olehnya itu, janganlah menaruh pesimistis akan keberadaan kertas.

Mari sama-sama meredam kepanikan dan kecemasan dari riuh disertai riak-riak internet. Sebab, dari data yang diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Aryan Warga Dalam, hasil ekspor menempatkan Indonesia sebagai  produsen pulp terbesar ke-9 dunia, dan produksi kertas, Indonesia berada posisi ke-6. Begitulah kata Aryan dalam workshop dan pelatihan menulis “Kertas dan Peradaban” dari diinisiasi Asian Pulp and Paper (APP Sinarmas) dan Qureta, yang dilansir dari okezone.com tertanggal 10 Januari 2018. (*)