Penulis
1 tahun lalu · 123 view · 6 menit baca · Budaya 99296_19916.jpg
indiacelebrating.com

Narasi-Narasi Kecil Intoleransi

Masyarakat anti Komunitas di Indonesia memang tidak akan pernah mengerti betapa pemikiran Marxisme berkembang dengan sebegitu pesatnya jauh melebihi apa yang kita perkirakan. Saat ini, sudah ada jutaan buku di seluruh dunia yang tema naratifnya tentang Marxisme dan ide-ide tentang perubahan dalam ekonomi kapital.

Saat ini, Komunisme dianggap satu-satunya ideologi yang memiliki sejarah paling kelam di Indonesia, di samping anti-Tuhan, Komunis juga dipahami sebagai ideologi yang paling berbahaya.

Wabah intoleransi yang diakibatkan oleh serangkaian gerakan ekstremis dan teroris barangkali tidak memiliki arti apa-apa di hadapan keberbahayaan yang paling mengancam dari segenap ide dan sistem Komunis.

Sebagai alternatif sistem, Komunis mungkin tak lebih dari angan-angan kosong dan mimpi buruk bagi Indonesia. Tapi sebagai ideologi, ia akan terus hidup sampai pada periode sejarah tertentu, di masa mendatang, yang tak dapat dipastikan masa berakhirnya. Boleh jadi ia akan terus hidup sampai dunia mengalami tutup usia.

Apa hubungan semua ini dengan khazanah intoleransi di Indonesia yang begitu kaya dengan praktik-praktik kekerasan atas nama keyakinan tertentu?

Kita harus menyadari bahwa ide-ide yang mengarah pada kecenderungan intoleransi beserta dengan gerakan-gerakannya, tidak hanya terbatas pada gerakan keagamaan tertentu. Sikap intoleran memiliki banyak bentuk, dari seluruh bentuk yang ada, tampaknya Komunisme yang paling memiliki khazanah perbendaharaan yang paling kaya dalam menjembatani tata kelola dunia ini.

Segala bentuk gagasan yang mengarah pada cita-cita ideal dari sistem yang diyakini, seperti mendirikan negara Islam, pembaharuan sistem hukum Islam secara total dalam struktur masyarakat, misi-misi keras kaum jihadis-ekstremis, serta Marxisme-Komunisme pasti mengacu pada apa yang kita sebut sebagai grand narrative (narasi besar). Narasi besar ini adalah corak pemikiran yang khas hampir di seluruh gagasan yang membangun peradaban modern kita.

Tidak hanya dalam terminologi filsafat, istilah grand narrative sebenarnya juga berlaku bagi seluruh gagasan besar seperti agama, sistem ideologi tertentu dan cara pandang terhadap segala sesuatu yang muncul dalam rentetan sejarah yang panjang.

Sebagai narasi besar, ia menjadi prinsip tunggal yang dianggap dapat merumuskan nilai-nilai instrumental dalam menghadapi tantangan zaman, terlebih jika narasi besar itu dapat beriringan sekaligus dijadikan sebagai sistem negara.

Narasi besar tentu tidak buruk, hanya mana yang paling dominan dan paling disepakati di antaranya. Seperti ideologi, ia sama sekali tidak buruk, malahan kita membutuhkan seperangkat ideologi untuk membangun tatahan kehidupan kita, baik secara individu maupun kolektif. Karena kita butuh sistem yang dapat mengatur, sistem yang dapat menjembatani tatanan kehidupan ini.

Ideologi apapun, pasti akan dapat hidup jika ia mampu berdampingan dan memiliki akar-akar kesepahaman antar setiap ideologi, bahkan satu ideologi dapat mengayomi dan merangkul ideologi-ideologi lain yang pastinya memiliki keselarasan satu sama lain. Keterjalinan yang erat antara berbagai ideologi bisa disebut sebagai hubungan yang primordial tanpa pada saat yang sama mempersoalkan betapa berbedanya satu ideologi dengan ideologi lainnya.

Di Indonesia, ideologi yang dapat menyatukan secara keseluruhan adalah Pancasila, itulah kenapa ia disebut sebagai ideologi pemersatu.

Tampaknya, sulit menemukan tipikal ideologi semacam ini, bahkan banyak negara-negara luar yang berusaha susah payah belajar Pancasila, seperti Afganistan misalnya, bukan untuk menerapkan Pancasila di negaranya, tetapi untuk memahami grand narrative dari ideologi permersatu ini dan ada kemungkinan harapan bahwa tipikal ideologi seperti Pancasila ini dapat diciptakan di sana.

Sebagai ideologi pemersatu, maka hanya Pancasila yang dapat memenuhi segenap kebutuhan akan terselenggara dan terciptanya tatanan kenegaraan yang stabil dan menuntutnya dalam mencapai tatanan kehidupan yang adil dan sejahtera. Tentu ini masih menjadi harapan besar kita semua dan tugas berat ini tidak boleh hanya dibebankan kepada pemerintah, ini adalah tugas dan peran kita semua.

Ideologi pemersatu tidak lantas dapat mengayomi dan menyatukan seluruh sistem ideologi yang ada, tetapi ada batasan sekaligus ketetapan yang harus dipenuhi. Jika pada saat yang sama ada ideologi yang bertentangan dengan ideologi pemersatu-sebagai aktor tunggal dalam memelihara terselengaranya negara ini-maka dapat dipastikan ideologi itu berbahaya dan tidak layak hidup di bumi damai ini.

Dalam sejarah Indonesia, ada dua bentuk sistem ideologi yang sejak berdirinya telah dianggap berbahaya bagi keutuhan negara ini, yakni Komunisme dan ideologi yang mengarah pada pendirian negara Islam.

Sampai saat ini, dalam berbagai bentuknya, hanya model ideologi yang kedua ini yang masih bertahan hidup. Corak mereka sangat beragam dan tidak mudah untuk mengidentifikasi, mengingat gerakan mereka sangat terbatas dan cukup rahasia.

Di antara bentuk ideologi yang mengarah pada pendirian negara Islam (seperti HTI misalnya), ternyata ada banyak sekali model yang memiliki aspirasi yang serah, mereka ada yang begitu keras, ada pula yang cukup lunak. Dalam bentuknya yang paling keras, mereka disebut sebagai ekstremisme/terorisme. Sementara bentuk yang lebih lunak, biasanya mereka hanya berjuang melalui jalur pendidikan dan dakwah saja.

Pemerintah memang memiliki sikap yang tegas dalam hal ini, segala bentuk ideologi keagamaan atau politik yang mengarah pada perubahan sistem negara sekaligus gerakan-gerakan yang dilakukan dengan cara-cara kekerasan seperti ekstremisme, harus ditolak dengan keras. Karena dari sinilah seluruh sikap intoleransi muncul.

Mereka memang telah banyak yang bubar, tetapi sebagai ideologi, mereka tidak akan pernah mati. Pada akhirnya mereka lebih memilih untuk melakukan gerakan-gerakan dalam volume yang kecil, jika mereka tetap bersikap teguh terhadap keyakinan awalnya, maka konseksuensinya mereka harus bersikap pura-pura untuk mengakui Pancasila. Tapi di luar itu, mungkin telah banyak yang beralih haluan.

Hampir semua gerakan ideologis yang dilarang dan dibubarkan pemerintah, tidak pernah sama sekali mati, seperti Komunis, Islamis, dll. Mereka bergerak pada wilayah yang terbatas, membangun narasi-narasi kecil, meskipun tidak melakukan perubahan-perubahan yang besar, namun mereka sangat signifikan melalui dari akar rumput.

Narasi-narasi kecil inilah yang sebenarnya perlu mendapat perhatian lebih serius, karena banyak ideologi yang berbahaya ini memiliki kepribadian ganda. Kadang mereka kompromi dengan pemerintah, tapi pada saat yang sama mereka mengecam pemerintah dengan segala ideologi yang dibangunnya. Pokoknya apa-apa salah, bahkan dalam kriteria masalah yang paling kecilpun, kadang-kadang pemerintah menjadi korban kebengisan sikapnya.

Kelompok intoleran memang memiliki banyak bentuk, mereka memiliki beberapa tingkatan dan berlapis-lapis. Seperti dikatakan di atas, dalam bentuknya yang paling ekstrem, sikap intoleran mereka mudah terjatuh pada tindakan terorisme.

Jadi, dapat dikatakan bahwa mereka yang telah dilarang ruang geraknya, telah kehilangan ruh grand narrative-nya sebagai sebuah gerakan, tetapi ternyata ini tidak menyurutkan prinsip perjuangannya, justru mereka bergerak pada wilayah yang lebih kecil, mencoba mempertahankan ide yang selama ini mereka bangun.

Orang-orang Komunis mungkin sudah tidak ada, tapi ide-ide Marxisme telah berkembang sebegitu canggih, di kampus-kampus, ide-ide Marxisme selalu menjadi tema yang paling menatang untuk didiskusikan, di mana Marxisme telah menjadi narasi-narasi kecil yang mengisi pergolakan intelektual kontemporer.

Sekarang ini, orang yang hanya berbicara tentang Das Kapital akan merasa begitu ketinggalan zaman ketika pemikiran Marxisme sudah berkembang menjadi gaya baru dalam khazanah filsafat kontemporer, ia bisa bersandingan dengan filsafat Jacques Lacan, Derrida, Altusser, dan ada begitu banyak gagasan kontemporer yang lahir dan berkembang dari perut Marxisme.

Memang harus diakui, dalam banyak bentuknya, ide-ide Marxisme tidak dibicarakan dalam suasana intoleransi, para pengikut dan pengagumnya sangat moderat. Tetapi banyak di antara mereka memiliki sikap yang militan dalam mempertahankan dan memperjuangkan ide Marxisme. Jika Komunisme sudah tidak relevan, maka gerakan mereka terbatas pada wilayah pemikiran, perjuangan sosial dalam porsi kecil, kritik terhadap kapitalisme, dll.

Sementara kelompok Islamis-politis, juga memiliki karakteristik yang mirip, mereka bertahan-meski secara tertatih-tahih-demi mempertahankan keutuhan dan kemurnian gagasannya. Saat ini, narasi-narasi kecil yang mereka bangun kadang-kadang masih sangat signifikan.

Hal ini tampak dari betapa program deradikalisasi begitu susah payah dijalankan, betapapun sudah menunjukkan keberhasilan yang positif, gerakan militan-ekstremis tetap tidak dapat mati.

Segala bentuk tindakan yang mengarah pada sikap dan tindakan intoleransi memang harus ditolak keras, mereka tidak berhak hidup di negara damai ini. Jika yang mereka butuhkan adalah pendirian negara Islam dan hidup di negara Islam, maka hanya ada dua pilihan, yakni antara bertaubat atau memilih untuk pindah kewarganegaraan di negara Islam Timur Tengah. Tapi tentu pilihan yang kedua ini sangat terkesan memaksakan, kita hanya perlu menyadarkan mereka, membawa mereka ke laboratorium Pancasila yang begitu kaya akan nilai-nilai dan cita-cita ideal.

Indonesia adalah rumah kita bersama, sebuah rumah keragaman dan kesatuan. Sudah sepatutnya kita dapat menjaga pencapaian kemerdekaan ini, kita rawat keragaman ini, kita pelihara nilai-nilai yang tumbuh dan hidup di negara ini.

Jangan pernah memberi kesempatan sekecil apapun bagi muncul dan berkembangnya setiap sikap dan gerakan yang mengarah pada intoleransi, lebih-lebih yang membahayakan ketentraman hidup kita dan membahayakan negara NKRI.

Perjuangan kita masih panjang, pencapaian kita masih sedikit, cita-cita ideal kita masih sangat jauh dari harapan. Maka kita jaga negara ini dan tetap terus berjuang dengan segenap hati dan pikiran untuk sampai pada cita-cita itu.

Tidaklah elok jika kita harus memulai sistem baru, apa-apa harus memulai lembaran baru, cita-cita baru yang belum tentu semua itu dapat memberikan pencapaian yang sama seperti sekarang ini, yakni kemerdekaan, keharmonitas, dan persatuan dalam cita-cita yang luhur.

Artikel Terkait