Indonesia tak akan pernah habis memproduksi kebudayaan. Sebut saja Lekra dan Manikebu serta Lesbumi, lembaga-lembaga yang dibentuk atas kerja-kerja kebudayaan. Lembaga tersebut mewarnai kontestasi pemikiran, sastra, bahasa, dan kesenian sepanjang perjalanan dekade Orla-Orba. 

Kini, pasca-reformasi, ke manakah arah narasi kebudayaan kita berlabuh? Apakah menuju pada kualitas kebudayaan berperadaban tinggi ataukah hanya mereproduksi kebudayaan bangsa lain akibat globalisme?

Banyak yang sok ngilmiah mengkritik narasi kebudayaan kita hari ini mengerikan. Apa karena neraka, jin, demit, dan sejenisnya ikut meramaikan jagat maya? Bukan. Kata mereka, karena kita kini berada di era post-truth, era di mana kebenaran terlampaui, terkoyak-koyak, hingga hanya menyisakan recehan.

Tapi mereka lupa, recehan itu memang sedikit dan sekilas namun membahagiakan. Daripada narasi kritis nan njlimet dan membingungkan, mendingan lucu dan menggelikan. Kita bisa diajak berpikir sambil tertawa, suatu hal yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh para sastrawan dulu, baik pujangga baru maupun yang berangkatan.

Perbedaan dimensi memengaruhi konten dan isi. Dulu, di era 45, puisi, cerpen, prosa, dan novel menghiasi narasi kebudayaan kita membawa pesan-pesan nasionalisme. Tapi kini, di era jagat Facebook dan Twitter, hal-hal tersebut minim peminat, teralihkan dengan status dan cuitan. Suatu hal yang semestinya tidak untuk diseriusi, tapi memengaruhi. Mudah dibagikan, mudah dicopas. 

Sulit menemukan hal ini di dalam angkatan 60-an yang narasi kebudayaannya bersaing ketat secara ideologis bukan hoaks dan meme, sehingga narasi kebudayaan kita hari ini perlu untuk dirumuskan kembali.

Nah, sebutlah Denny Siregar, Abu Janda, dan Jonru, perlu masuk kategori terlebih dahulu. Jika sepakat, kita nobatkan mereka sebagai pujangga milenial angkatan baru sekali. Entah baru sekali provokatif, atau terjebak sebagai partisan.

Intinya, Denny Siregar, Abu Janda, dan Jonru ini ikut meramaikan narasi kebudayaan milenial yang produksi lambenya lebih cepat daripada koneksi internet di Indonesia. Paling tidak, mereka memberikan sumbangsih bagi orang-orang yang ingin menulis status tapi enggan berpikir. Itu sangat membantu sekali terhadap kemelekan dunia literasi perfesbukan.

Kegigihan Denny Siregar dan Jonru dalam cuit-mencuit perlu diapresiasi. 2x pilpres sudah membuktikan betapa uletnya Denny Siregar dan Jonru menghabiskan waktunya mentengin layar, membalas satu per satu komenis-komenis, dan tentu saja, mengiring opini.

Lebih banyak lagi komentator-komentator spesialis maki dan kontributor hujat yang menanti-nanti. Entah apalagi penampilan yang akan diberikan Denny Siregar dan Jonru ke depannya. 

Apakah tetap bertahan dengan narasi pilpres yang dilanggengkan, tetap saling menjadi oposisi bineri yang saling bersiteru, ataukah ke depannya keduanya bersatu demi masa depan narasi kebudayaan kita?

Narasi kebudayaan memang selalu menarik untuk dibahas. Kata apa sih yang populer hari ini? Yang hari ini digunakan namun tak pernah tercantum dalam kamus KBBI. Terlebih lagi jika berkaitan dengan pilpres, akan lebih bagus lagi.

Sebutlah beberapa istilah yang sudah dilahirkan, Ferguso misalnya. Ferguso pada awalnya tidak membawa pesan apa pun kecuali telenovela tahun 90-an. Namun diubah oleh netizen menjadi parole, kata tambahan yang menggemaskan. Selain itu, ada pula sontoloyo, genderuwo, dan wajah Boyolali.

Era disrupsi memang mencabut segala sesuatu dari akarnya, termasuk kebudayan. Memang berat menyebut status-status Denny Siregar, Abu Janda, dan Jonru itu sebagai narasi kebudayaan, tapi mau gimana lagi? 

Hanya merekalah orang-orang yang memiliki pesona kata menghipnotis ribuan orang. Banyak orang yang begitu kagum dan setuju dengan pemikiran mereka sehingga selalu ditunggu dan dibagikan. 

Sebab hari ini kita tidak lagi memedulikan fakta dan data. Apa pun itu, jika dishare oleh banyak orang, ya kita ikut share. Yang digunakan oleh banyak orang, ya kita ikut gunakan. 

Kata apa saja yang populer dan viral, ya ikut dicuitkan. tanpa sadar, setiap bulan bahkan minggu, selalu ada kata baru yang diproduksi. Paling tidak, jika bukan katanya yang baru, konsep dalam katanya yang dibarukan.

Maka sekiranya perlu ada penobatan atas kerja-kerja kebudayaan yang dilakukan oleh Jonru, Denny Siregar, dan Abu Janda Al-Boliwudi. Kerja keras mereka harus dibayar tuntas. Jangan biarkan status-status yang berharga itu tak diingat sejarah. 

Jangan lupa pula untuk menceritakannya pada anak cucu atau dibuatkan ensiklopedia lengkap. Biarkan dunia tahu bahwa di Indonesia, kekeringan narasi kebudayaan tak mungkin terjadi. Mau dolar naik, Raditya Dika tidak jomblo lagi, atau Ibu kota pindah ke Kalimantan, narasi kebudayaan kita tetap gagap gempita loh jinawe.

Ditambah lagi kini hadirnya para influencer-influencer anyar, produksi kata pasti meningkat tajam. Epos Indonesia milenial akan memasuki babak baru, penuh drama dan nyinyiran. Dunia maya siap-siap bergejolak. Mereka akan saling memperebutkan pengaruh publik dan membangun singgasana follower. 

Saran bagi para netizen, siapkan penobatan terbaik kalian untuk mereka, pujangga angkatan baru sekali.