Pagi di bulan November, terdapat suasana berbeda di sudut kota Yogyakarta. Islamiyanto bergegas menuju mimbarnya, mengisi pengajian rutin yang diselenggarakan ta’mir Masjid Baitush Shudur. Di sisi lainnya Imansyah, salah seorang petugas DLH tengah membersihkan beberapa guguran daun di sisi trotoar jalan.

Tak jauh dari tempat mereka berdua beraktifitas, berdiri seorang tua ber kopyah putih. Tertulis di plakat bajunya nama Ihsan Suprayogo. Ia menunggu bus Trans Jogja seri A2 jurusan Jl. Timoho. Tempat berdiri gedung pengadilan agama Yogyakarta. Di balik kesederhanaannya, ia merupakan seorang hakim yang disegani karena kebijaksanaannya.

Ketiga figur karakter di atas menggambarkan fungsi sosial masing-masing tokoh. Ketiganya memiliki nilai struktur sosial dan sebaliknya memiliki resiko yang menjadi timbal balik dari profesi yang dijalaninya masing-masing. Secara bersamaan, ketiga figure karakter di atas juga menggambarkan tiga sudut pandang dalam mendeskripsikan Islam dan masyarakat muslim (Islam and muslim society).

Figur pertama, seorang penceramah yang mengajarkan fiqih (yurisprudensi Islam) mewakili kelompok Islam pada koridor Islam rukun (praktik teoritis ritus). Figur karakter kedua, seorang yang mengabdikan diri untuk sosial dan lingkungan mewakili representasi kelompok Mukmin. Figur ketiga, seorang hakim tua mewakili representasi kelompok muhsin.

 Sosok Islamiyanto, Imansyah, dan Ihsan Suprayogo menggambarkan trilogi antara islam (“i” kecil), iman, dan ihsan. Islam disimbolkan dengan aktivitas fisik ubudiyah, iman disimbolkan dengan aktivitas hati, dan ihsan disimbolkan sebagai kebijaksanaan untuk bercengkerama dengan Tuhan.

Narasi di atas adalah narasi tentang tiga instrument Islam. Masing-masingnya menjadi mozaik yang satu bagian membutuhkan yang lain untuk menjadi bentuk utuh yang sempurna. Tidak lengkapnya salah satu dari instrument tersebut akan merusak nilai keseimbangan Agama tuhan.

Dari ilustrasi tersebut dapat dinilai bahwa mengapa Islam bisa begitu ekstrim sebagaimana yang ditampilkan di televise dan media lainnya, jawabnya adalah karena ketidakutuhan trilogi Agama tuhan itu sendiri. Orang lupa bahwa agama tidak hanya bicara logika dan perilaku, namun agama berbicara tentang estetika dan rasa.

Seni Memahami Agama Cinta ala Paul Ricoeur

Dalam simiotika bahasa yang menjadi bagian dari studi hermeneutis, nama Paul Ricoeur cukup popular. Seorang Perancis yang setara dengan Jorge J.E. Gracia yang menulis a Theory of Textuality: The Logic and Epistemology. Ia percaya bahwa satu kata dari sebuah bahasa saja, bisa diartikan menjadi bergam makna melalui berbagai perspektif orang yang memahami (interpreter).

Hal tersebut dapat terjadi karena bahasa memiliki dua sisi kutub. Pertama adalah horizon teks dan kedua adalah horizon orang yang memahami (interpreter). Karena itu, Islam bisa ditampilkan begitu indah dan penuh cinta, namun Ia juga ditampilkan begitu kejam dan keras. Tampilan-tampilan tersebut tidak dapat dijastifikasi sebagai Islam, namun adalah pemahaman tentang Islam.

Transmisi yang berlangsung dari generasi ke generasi menunjukkan bahwa Islam terbagi-bagi ke dalam kelompok mazhab, politis, dan gerakan. Ke semuanya mendefinisikan bahwa Islam merekalah yang benar-benar mencerminkan islam yang sesungguhnya. Itu adalah penggunaan horizon interpreter karena mereka berposisi sebagai interpreter.

Seluruh manusia hanya bisa menjadi interpreter subjektif dan Tuhanlah yang benar-benar tahu tentang Islam sesungguhnya. Objektifitas berada pada titik nol yang artinya tidak ada sesuatu yang objektif, yang ada hanyalah kesepakatan bersama untuk legowo dalam mengakui sebuah kebenaran dapat diterima dan inipun bukan objektif, tapi intersubjektifitas.

Klaim kebenaran pada gilirannya akan sangat beresiko di tangan kaum radikal. Puncak dari gambaran itu sebagaimana terlihat melalui peristiwa bom bunuh diri, serangan bersenjata, atau yang baru-baru ini dengan terror tabrak kerumunan masa seperti saat peringatan Bastille di Perancis. Peristiwa tersebut menewaskan 80 orang serta melukai ratusan lainnya.

Arabisasi bukan Islamisasi

Arab dan Indonesia masing-masing memiliki karakter kebudayaan dan nilai pengetahuan masyarakat yang berbeda. Islam berbeda dengan budaya, sebaliknya budaya tidaklah sama dengan Islam. Tidak semua yang ditampilkan sebagai produk budaya Arab adalah Islam itu sendiri. Jubbah misalnya, adalah pakaian tradisional yang dipakai oleh orang Islam dan non-muslim di Semenanjung Arab.

Atribut keagamaan tidak selau identik dengan hadis Nabi. Cara makan, berjalan, duduk, dan berpakaian yang direspons oleh rosulullah tentu memiliki alasan di balik respons itu. Hadis terikat dengan kondisi dan situasi dimana ia disampaikan baik dalam ucapan, perilaku, cita-cita, hingga raut muka yang menunjukkan kondisi emosional Rasulullah.

Membaca secara utuh akar historis, mulai dari keseluruhan peristiwa, alur kronologis, dan kontekstualisasinya dalam zaman yang terus berubah merupakan hal yang perlu dikombinasikan secara baik. Kaum tekstual yang hanya beracuan pada teks akan kesulitan dalam menyentuh nilai seni estetis dari keindahan agama.

Seperti orang yang hanya berislam tetapi tidak menyentuh akar keimanan dan keihsanan akan kesulitan merasakan esensi ketuhanan. Dari sini, seorang sufi abad ke-9 yang dikenal dengan Bayazid atau Abu Yazid Al-Bustami menklasifikasikan tiga tingkat kehidupan beragama.

Menurut Abu Yazid Al-Busthomi, tangga pertama dalam agama adalah takholli; kedua adalah tahalli; dan ketiga adalah tajalli. Mula-mula manusia harus membersihkan diri dari perbuatan dosa (takholli), lalu ia menghalalkan dirinya untuk berbuat kebaikan (tahalli), dan ketika telah bisa menyentuh intisari agama, ia akan mengalami tajalli yakni kenyataan ketuhanan.

Dari seni memahami agama ala Bayazid ini, esensi agama berada pada tataran rasa yang membangun perilaku. Bukan perilaku yang membangun rasa. Diksi-diksi keagamaan dengan demikian terikat dengan bahasa cinta. Kelompok yang mengatasnamakan agama dengan aktivitas kebencian perlu mendefinisikan kembali bangunan konsep jihad yang selama ini mereka percayai.

Konsep jihad tidak selalu sesuai dengan zaman dan tempat. Selain jihad, opsi lain yang bisa dipilih adalah ijtihad (perjuangan akal) atau mujahadah (perjuangan hati). Tiap tempat punya konteks masing-masing, apakah yang paling sesuai adalah jihad, ijtihad, atau mujahadah. Tidak semua Negara merupakan medan pertempuran (daar al-harb), namun terkadang ia adalah rumah perdamaian (daar as-salam).

Agama Kita Agama Cinta

Agama cinta adalah agama kita. Menurut salah satu pemikir Islam Afrika Farid Esack, kemampuan untuk selalu siap membantu orang lain pada saat orang lain tidak pernah bisa berbuat sebaliknya pada kita, itulah jalan cinta.

Seorang sahabat Farid Esack yang bernama Ashiek menyatakan bahwa pepohonan mengembangkan cabang-cabangnya untuk tetap bisa bertahan hidup, namun suatu ketika seseorang datang dan berteduh di bawah pohon tersebut.

Pepohonan telah memberikan keteduhan terhadap seseorang tersebut, padahal pepohonan itu mengembangkan cabang dan dahan dalam proses perimbunan tidak bermaksud menaungi seseorang tadi, namun ia malakukan hal demikian adalah untuk dirinya sendiri.

Deskripsi itu menunjukkan bahwa seseorang yang agamanya telah matang (mature religion) kehadirannya secara spontan dan natural akan mempengaruhi lingkungannya. Sekalipun ia tidak memiliki kehendak berbuat baik pun kebaikan akan tersalurkan dengan sendirinya.

Bagaikan pohon yang meneduhkan musafir saat panas dan hujan, ia tidak berniat melindungi musafir itu. Tapi keberadaannyalah yang memberikan faedah kepada yang lainnya secara natural.