Terik siang yang menyengat di Marina Barrage, sebuah area reservoir terindah di Asia Tenggara itu, tak mampu menyurutkan beberapa kru yang hilir mudik bekerja keras membereskan ini dan itu.

Temperaturnya cukup memanggang kulit. Sungguh, membuat banjir keringat dan membuat pigmen kulitku makin menghitam saja.

Adalah sebuah kesejukan tersendiri bagiku saat duduk di samping si Monica itu. Ya, Monica Nicholle Sandra Dewi Gunawan Basri, alias Sandra Dewi. Wah, cukup panjang juga namanya, sepanjang napas hidupnya.

Pesohor yang lahir di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung, pada tanggal 8 Agustus 1983 itu adalah anak tertua dari pasangan Andreas Gunawan Basri dan Chatarina Erliani.

Saya bukanlah seorang Sanders (sebutan fans Sandra Dewi). Namun, tak ada alasan untuk tak respek kepadanya yang cantik jelita itu.

Prestasinya tak perlu diragukan lagi. Keistimewaan watak dan sikapnya yang santun dan segudang prestasinya membuat dia makin enak dipandang. Kalau kelamaan memandangnya, bisa-bisa dari rasa respek menjadi idola, alias berhala.

Ada sedikit perbedaan antara respek dan mengidola. Lirik saja KBBI itu, si gudang istilah, yang mengartikannya sebagai orang, gambar, patung, dan sebagainya yang menjadi pujaan.

Jadi, di siang itu, saya tidak terlahir sebagai seorang fans-nya, yang kadang aneh-aneh tingkahnya, seperti yang kekekinian itu.

Katanya, hingga bisa melibatkan segenap kekuatan emosi yang mampu memulihkan dari kondisi tersedih sekalipun dalam hidupnya. Edan, benar-benar keberhalaan.

Kalau tidak seperti di atas, biasanya lari ke sisi obsesi. Sebuah keadaan yang membuat kita jadi bodoh. Ketika kreativitas pikiran dan nalar kita selalu mengulang-ulang apa saja yang berhubungan dengan idola.

Baik itu gaya berdialog, perilaku, bernalar, hingga sampai level kemiripan kata-kata. Obsesi itu sama payahnya dengan idola. Keduanya membuat obrolan atau tulisan kita hanya memiliki sedikit pilihan.

Ketertarikan terhadap semua alternatif seketika benar-benar dimatikan oleh yang namanya idola dan obsesi.

Okelah, selang sesaat kemudian, beberapa siswa hilir mudik, dan menyeletuklah Sandra Dewi, “Enak, ya, anak zaman sekarang bisa jalan-jalan ke mancanegara. Di zamanku, susah.”

Diucapkan seletuknya itu dengan senyum renyah nan sopan. Dia memang pesohor atau selebritas yang terkenal dengan perilaku ramah dan sopan santunnya.

Dengan sifatnya itu, Sandra Dewi di awal tahun 2015 menjadi satu-satunya artis Indonesia yang terpilih mewakili proyek The Walt Disney company sebagai Cinderella untuk Disney Princess Calendar.

Dia salah satu pesohor tanah air yang memang suka dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Princess Disney. Bahkan, oleh karena sifat eksesifnya dengan hal di atas, ia menjelma menjadi Cinderella di hari pernikahannya yang digelar di Disneyland Jepang.

Sandra Dewi juga kerap menjadi spoke person untuk film-film garapan Walt Disney Picture di Indonesia

Eh, hampir saja lupa dengan penjelasannya, mencerocos saja ngobrol sana-sino seperti emak-emak begini,

“Kok, bisa Mbak?” tanyaku.

“Ya, kagak ada duit dulu,” jawabnya sambil tertawa renyah.

Kemudian dia teruskan penjelasannya dengan redaksi ringan namun berbobot yang intinya bahwa di zamannya, tak mudah untuk menghamburkan uang untuk nge-trip ini dan itu ke luar negeri.

Weleh, ternyata serius juga penjelasannya. Memang pas sekali, sih, penjelasannya. Belakangan si Mbak ini terkenal dengan gaya belanja diskonan, alias superhemat.

Mungkin sudah terdidik dari kecil untuk hemat, hingga keluar narasi di atas. Apalagi dia memiliki dua orang adik, tentunya menjadi harapan tulang punggung keluarganya.

Sandra Dewi adalah artis yang jauh dari gosip miring dan memiliki perilaku yang baik dalam bekerja. Beliau juga termasuk pesohor yang menutup rapat kisah cintanya, alias sulit dideteksi pernah menjalin kisah cinta dengan siapa saja, apa si A atau si B.

Semua itu mungkin hasil disiplin ketaatan ala pemeluk Katolik Roma itu. Dengan mengawali pendidikan di The London School of Public Relations, Jakarta.

Kedisiplinan dan ketaatannya makin tajam saja setelah Sandra Dewi mengawali kariernya di Jakarta melalui pemilihan Miss Enchanteur 2002 dan duta pariwisata Jakarta Barat.

Kemudian Sandra Dewi mulai terjun ke dunia hiburan saat mengikuti Fun Fearless Female Majalah Cosmopolitan 2006. Termasuk lolos casting untuk peran Lila di film Quickie Express (2007).

Film tersebut sukses dan membuat nama Sandra Dewi mulai dikenal publik. Kehadirannya di dunia selebritas makin terkenal juga berkat perannya di sinetron kejar tayang Cinta Indah.

Beliau juga seorang kutu buku yang merupakan salah satu artis papan atas dengan bayaran paling mahal di Indonesia. Beliau dijuluki pula sebagai Ratu Iklan sejak tahun 2008.

Sandra Dewi juga pernah mendapat kehormatan khusus sebagai Duta Anti Narkoba pada tahun 2008 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Akhirnya, pada tanggal 8 November 2016, Sandra Dewi menikah dengan Harvey Moeis di Gereja Kathedral, Jakarta, yang sempat dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta waktu itu, Ahok.

Banyak pelajaran di siang yang panas saat itu, tentang hemat, kerja keras, disiplin, dan rendah hati tentunya. Semua itu cocok bagi Sandra Dewi yang jelita itu.