Semenjak virus corona datang ke Indonesia pada 2 Maret sampai sekarang, dinamika kehidupan berbangsa dan bermasyarakat kita cukup ramai, riuh rendah oleh segala kebijakan pemerintah dan respons masyarakat. Mulai dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), reaksi masyarakat yang beragam, tenaga medis yang berjibaku, sampai sekarang mulai diwacanakan new normal.

Semua yang terjadi merupakan potret kondisi bangsa kita, baik sebagai masyarakat sipil ataupun pemerintah. Dari sekian banyak fenomena yang mewarnai kehidupan masyarakat kita tempo lalu ketika corona hadir hingga hari ini, terdapat beberapa hal yang patut dijadikan refleksi bersama sebagai sebuah upaya menciptakan tatanan sosial yang lebih baik, kondusif, solutif, dan menyenangkan semua pihak.

Ketika diterapkannya kebijakan PSBB di beberapa daerah, kita melihat dengan nyata bahwa masih banyak masyarakat yang tetap beraktivitas seperti biasa; keluar rumah tanpa masker; tetap berkumpul dalam jumlah massa yang banyak. Ada beberapa kejadian yang cukup menggelitik, unik, sekaligus mungkin termasuk konflik.

Di Bogor, beberapa waktu lalu ada seorang pengendara mobil yang ngamuk-ngamuk karena ditegur agar mengikuti standard berkendara ketika PSBB. Ia tidak mau memindahkan istrinya ke kursi belakang mobil dikarenakan memegang ajaran dan nilai-nilai tertentu, katanya, dan memilih mencak-mencak kepada petugas Dinas Perhubungan (Dishub) yang sedang mengamankan keadaan lalu lintas.

Di Kabupaten Bogor, khususnya di Kecamatan Jonggol, ada anak muda pengendara motor yang menyenggol dan memukul petugas PSBB karena tidak enak hati ditegur lantaran tidak menggunakan masker. Dengan beringas dan penuh amarah, ia menonjok petugas PSBB setempat sampai mengakibatkan luka sobek di bagian mata.

Di Kabupaten Pasuruan, ada seorang relawan Covid-19 lengkap berpakaian Alat Pelindung Diri (APD) berteriak-teriak di jalan melakukan aksi tunggal semacam teatrikal menyuarakan keresahan hatinya tentang tenaga medis yang terus bekerja sementara warga masih banyak yang keluar rumah tanpa mengenakan masker, berkumpul dan berkerumun di tempat-tempat umum. Seketika video aksi orang itu viral di media dan cukup menarik perhatian netizen.

Tagar #IndonesiaTerserah yang dibagikan para tenaga medis di media sosial sempat meramaikan pemberitaan, suatu imbauan sekaligus campaign tentang keadaan masyarakat Indonesia yang masih saja gatal untuk melanggar aturan dan standard protokol ketika sudah ada kebijakan tertulis dari pemerintah.

Menjelang lebaran kemarin, Walikota Bogor melakukan inspeksi mendadak ke pasar setempat. Setelah mendatangi warga yang sedang berbelanja, didapatkan warga yang menerima dana bantuan sosial dari walikota sedang menggunakan uang bantuan itu untuk membeli baju lebaran. Ironi. Terakhir, kemarin ada sekolah tinggi yang menyelenggarakan halal bihalal dengan berkumpul bersama, seperti keadaan sedang normal tidak terjadi apa-apa saja.

Kalau ditelisik lebih dalam, melihat tingkah laku masyarakat kita yang seolah sulit sekali menaati peraturan, sebenarnya ada masalah yang lebih serius dan mendasar ketimbang menyalahkan pemerintah yang seperti tak tegas menindak para pelanggar atau menyudutkan masyarakat sampai mencap mereka bebal, dangkal, serta egois, menurut saya permasalahannya tidak sesederhana itu.

Kita sebagai bangsa harus menyadari bahwa peradaban dan pemikiran kita belum maju. Masalah yang ada di lapangan, mulai dari yang hanya tidak pakai masker sampai letupan konflik yang cukup besar di beberapa tempat, saya kira bermuara pada persoalan yang sangat mendasar, yaitu nalar bangsa yang belum dapat berlogika secara jernih dan sehat.

Bagaimana bisa kita menyebut masyarakat dungu sementara mereka belum sadar bahwa corona merupakan virus yang mematikan? Bagaimana bisa kita terus berteriak menyampaikan imbauan kalau masyarakat belum sadar akan pentingnya pakai masker dan menjaga jarak?

Jadi, terlepas segala bentuk amarah dan protes baik kepada pemerintah ataupun masyarakat, masalah yang lebih mendasar dan mengakar adalah tentang nalar dan pola pikir masyarakat kita yang belum terbangun dengan baik. Sederhananya, kita belum cerdas. Adapun yang sebagian sudah cerdas belum bisa mendistribusikan kecerdasan dan kekayaan intelektualnya kepada masyarakat secara menyeluruh.

Kita punya intelektual dan peneliti yang cerdas bukan main, tapi ketika melihat masyarakat tetap enjoy keluar rumah tanpa masker bahkan kelihatannya mereka merasa seperti tidak ada apa-apa, di mana letak kecerdasan kita sebagai bangsa? Kita tidak berdiri secara sendiri-sendiri, karena dunia melihat kita sebagai bangsa Indonesia. Maka kalau ada sebagian yang peduli sementara yang lainnya tak acuh, kesatuan kita sebagai bangsa masih patut dipertanyakan.

Masalah nalar adalah persoalan historis yang sangat kompleks, yang tidak bisa satu-dua hari diselesaikan. Membangun peradaban bangsa terletak pada pembangunan sumber daya manusianya, khususnya kemampuan intelektual bagaimana kita membangun jalan pikiran, bukan hanya merakit jalan tol atau mendirikan pembangunan fisik.

Hari ini, ketika new normal mulai dipelajari setiap instansi, pemerintah pun seperti sudah yakin menerapkan itu, kewaspadaan kita terhadap corona justru harus ditingkatkan. Kewaspadaan pada corona bisa direfleksikan setiap orang dengan pertanyaan sederhana tapi menghunjam: bagaimana kalau kita yang terkena corona? Bagaimana kalau keluarga kita yang terkena kemudian meninggal karenanya?

Angka kematian karena corona sudah mencapai 1.500 lebih jiwa, terdiri dari masyarakat biasa, orang tua, anak kecil, termasuk tenaga medis. Masihkah kita akan mengaburkan kesadaran sampai kita sendiri yang dinyatakan positif? Ataukah harus menunggu anggota keluarga meninggal baru kemudian kita aware?