Pagi itu langit begitu cerah. Hari ini berbeda dari hari sebelumnya di mana tepat hari ini adalah awal mulai semester baru setelah libur kenaikan kelas selama dua minggu. Semua siswa baru telah berbaris rapi di lapangan upacara. 

Sambil menunggu siswa lain berbaris dengan rapi saya melihat suasana SMA kami begitu ramai. Anak-anak kelas XI dan XII tampak berbisik-bisik sambil melirik dan memilih-milih siapa siswa baru yang paling cantik menurut versi mereka. 

Sebagian siswa baru tampak risih dan tidak nyaman dengan tingkah abang dan kaka kelasnya. Ada yang mukanya kusut karena malu dan ada sebagian yang tampak bahagia karena menjadi pusat perhatian. 

Saat itu perasaan ku biasa saja dan menurut ku semua siswa baru tidak ada yang menarik untuk ku perhatikan. Aku mengambil posisi di barisan paling kanan. Mengambil ancang-ancang dan berlari(komando) ketengah barisan. 

Aku menyadari bahwa seluruh pandangan tertuju padaku saat itu dan aku berusaha tampil semaksimal mungkin. Menyiapkan barisan, laporan pembukaan mos, dan kembali lagi ke barisanku semula di paling kanan. "huhhh" nafas ku lega setelah selesai menjadi pemimpin upacara hari itu. 

Setelah semua acara pembukaan selesai, semua siswa baru dibagi menjadi empat kelompok dan di tentukan lokasi untuk setiap kegiatannya. Mulai dari kegiatan di kelas, lapangan, dan sebagainya, semua itu dilaksanakan dalam rangka masa orientasi siswa. 

Semua kegiatan telah kami rancang jauh hari sebelum mos ini dilaksanakan dimana aku terpilih sebagai ketua pelaksana kegiatan. Setelah menerima daftar kegiatan dari kantor akupun kangsung bergegas ke salah satu kelas yang sudah di isi siswa baru. 

Dari daftar kegiatan yang di berikan, aku menjadi pemberi materi di kelas tersebut dan menjadi penanggung jawab kelompok itu. Aku berjalan cepat karena rasaku aku sudah terlambat masuk. Setelah melangkah dari pintu dan masuk ke kelas tersebut mataku langsung tertuju terhadap satu perempuan yang duduk di sebelah kanan ku. 

Aku mengenal perempuan tersebut gumamku dalam hati. Setelah selesai perkenalan dan kemudian aku memberi materi, perhatianku masih tetap sama perempuan yang duduk di bangku paling depan sebelah kananku itu. 

Sambil mengingat-ingat baru lah aku teringat bahwa dia adalah mantan dari seorang(laki-laki) yang kukenal yang mana laki-laki ini adalah satu kampungku. Sepanjang aku memberikan materi ternyata dia juga memperhatikanku. 

Ntah itu perhatian biasa atau tidak aku tidak terlalu peduli saat itu. Hal yang membuat ku merasa tertarik adalah senyumannya dan juga rambut hitam bercampur sedikit pirang bergelombangnya. 

Hari itu pun berlalu dengan semestinya dan menurut ku itu lumayan berkesan sampai-sampai semangatku seakan bertambah dan ingin berlama-lama memandanginya. 

Besoknya aku bangun cepat. 

Menyelesaikan pekerjaan pagiku dan bersiap berangkat kesekolah dengan semangat yang sangat menggebu-gebu dan semua hanya karena dia.

 "Ho ho ho ho" tawaku dalam hati sambil menyalakan motor. 

Semenjak berangkat dari rumah dalam hati aku telah berencana bahwa nanti percakapan kami harus lebih panjang dan lama. Segala pertanyaan baik itu yang penting sampai pertanyaan basa-basi yang sama sekali tidak penting  telah kususun rapi dalam lubuk hati paling dalam hanya untuk si perempuan ini. 

Bel telah berbunyi. Yang artinya kegiatan mos kembali di lanjutkan. Berhubung karena aku adalah penanggung jawab kelompoknya sudah dapat di pastikan bahwa aku harus mendampingi kelompok itu sampai kegiatan mos berakhir. 

Hari ini adalah kegiatan dilapangan dan seluruh peserta mos berkumpul di lapangan. Pandanganku tetap terfokus sama dia dan sesekali aku mengalihkan perhatianku ketika dia juga melihat kearahku. 

Ketika melihat dia ada perasaan nyaman yang kurasakan dalam hati dan itu tidak bisa ku pungkiri. Setiap kali aku melihatnya aku selalu melihat kertas daftar nama kelompoknya dimana di situ tertulis namanya hernita siregar. 

Menurutku nama itu cantik dan memang sesuai dengan orangnya. Hari kedua berlalu dengan kebahagiaan yang tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata. Semakin waktu berjalan, aku semakin tertarik padanya. 

Rasa penasaranku pun mulai memuncak mencapai ujungnya. Dan langkah yang kulakukan adalah meminta no hpnya dari temanku yang berteman denganya. Sebenarnya bisa saja kuminta sendiri langsung padanya tapi, aku takut ditolak dan disamping itu juga aku sedikit malu. 

Kumulai SMS pertama ku dengan kata "hay". 

Setelah menunggu kurang lebih setengah jam sms ku berbalas.

"Juga, maaf siapa yah?". 

Dan pada saat ini jantungku berdebar kencang seakan ikut terguncang karena balasan sms itu. Percakapan kami pun berlanjut dengan sangat menyenangkan. Saling memperhatikan, bertanya, bercanda, semua kami bahas. 

Hari, waktu dan keadaan terus berjalan dan berubah. Dari yang pertama jumpa hanya sebatas  tertarik, kemudian berubah jadi suka, dan sekarang akhirnya harus kuakui bahwa aku jatuh cinta padanya. 

Namun ada hal yang membuatku ragu untuk tetap menaruh hati padanya yaitu perbedaan. Perbedaan diantara kami terlalu banyak dan juga rumit. 

Mulai dari ekonomi keluarga, dimana dia adalah seorang anak polisi dan terlahir di keluarga yang berada sementara aku dan keluargaku hanyalah petani kecil, sampai pada agama yang menjadi perbedaan terbesar kami. 

Akan tetapi, aku akhirnya percaya bahwa cinta bisa membuat orang menjadi kuat dan bertindak diluar logikanya. Malam itu tepat malam minggu dimana mos telah di tutup hari itu juga. 

Akupun memberanikan diri untuk mengajaknya ketemuan di sebuah lapangan sepakbola tepat di belakang rumahnya. Awalnya dia menolak dan tidak mau. Akan tetapi dengan kerja keras dan usaha akhirnya dia pun setuju. 

Akan tetapi dia punya syarat dimana pertemuan kami tidak boleh lebih dari setengah jam karna dia beralasan susah mendapatkan ijin orangtuanya. Malam itu pun sudah kurencanakan bahwa aku akan mengutarakan perasaanku padanya. 

Setelah menghitung-hitung peluang dan juga kemungkinan diterima atau tidaknya, akupun menarik kesimpulan bahwa ini pasti akan gagal dan dia pasti menolakku. Aku sebenarnya tidak yakin bahwa dia mau menerima perasaanku dengan alasan yang sudah kujelaskan tadi. 

Menurutku dia terlalu cantik, terlalu baik, terlalu pintar, dan terlalu kaya untuk anak petani sepertiku. Tapi apa mau dikata bahawa cinta memang kadang diluar logika. Dia pun akhirnya mau menerima perasaanku malam itu. 

Dan itu adalah salah satu hal tergila yang pernah terjadi dalam kehidupan ku. Berpacaran dengan perempuan yang di inginkan hampir semua laki-laki di sekolahku dan dia malah memilihku. 

Sampai akhirnya dia masih setia menemaniku sampai sekarang ini dengan segala keterbatasan dan kekuranganku. Terhitung kami memulai hubungan kami pada tanggal 12 bulan 07 tahun 2015 sudah hampir 5 tahun. 

Sekarang kami sudah sama-sama kuliah dan mulai fokus mengurus masa depan, dia dengan kedokterannya dan aku dengan pertanianku. Kami berjanji bila Tuhan mengijinkan untuk tetap bersama sampai jalan cerita kami berakhir dari dunia ini. 

Semua kebaikanya hampir tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Hanya kalimat ini  yang bisa terucap dan berulang kali dari mulut ini. Aku bersyukur Tuhan mengirim dia untukku.