Prolog

Ini adalah kisah seorang teman yang memintaku untuk memublikasikannya di Qureta, dengan harapan dapat memberi motivasi bagi kaum gay muda sehingga tidak putus asa dengan keadaannya, dan juga sebagai informasi tentang hidup seorang gay untuk semua orang.

Versi panjang tulisan ini dapat di baca di apaja.

***

Perjalanan hidup yang panjang dan berliku membawaku menetap dan menikahi partnerku yang berkewarganegaraan Jerman. Aku bahagia karena pada akhirnya bisa menikah dengan orang yang kucintai, sebuah pernikahan yang diangankan oleh setiap gay.

Saat ini aku dan partnerku tinggal di Jerman. Bagaimana aku bisa sampai di sini?

Ada baiknya aku menceritakan secara singkat perjalanan hidupku agar pembaca, terutama kaum gay muda, bisa mengambil hikmahnya. Aku berasal dari keluarga sederhana di sebuah kampung. Sejak remaja aku menyadari bahwa aku berbeda dengan anak lelaki lainnya, dan karena itu aku selalu menjadi objek perisakan (bully).

Masih segar dalam ingatanku betapa sedihnya aku saat menyadari bahwa aku gay. Ada penolakan besar dalam diriku atas orientasi seksualku. Aku membencinya.

Seiring waktu, lewat proses yang menyakitkan, akhirnya aku bisa berdamai dengan diriku sendiri. Aku bisa menerima bahwa aku adalah seorang gay.

Saat remaja, aku pernah sangat taat menjalankan ajaran agama dengan harapan bisa mengubahku jadi heteroseksual. Tapi gagal. Pernah juga ingin mengakhiri hidup karena merasa kotor dan banyak dosa. 

Suatu saat aku memutuskan untuk mengatakan kondisiku (coming out) kepada keluarga. Penerimaan mereka tidak baik, malah cukup memukulku. Kakak perempuanku ketika itu berkata, “Aku patah hati…” 

Aku tahu dia berusaha mencari kata-kata terhalus yang bisa dia katakan. Tapi tetap saja menyakitkan bagiku. Kemudian kakakku mulai menangis sambil mengingatkan dalih-dalih agama.

Sesungguhnya coming out tidaklah berat; yang terberat justru pada masa pencarian jati diri dan proses menerima diriku apa adanya. 

Percayalah, tahap itu bukanlah rentang hidup yang mudah. Penuh dengan pergolakan batin. Ingin berubah atau “sembuh”, tapi gagal, kemudian depresi, lalu mencoba bunuh diri.

Coming out sebagai gay adalah awal, bukan akhir dari segalanya. Aku harus pergi dari rumah untuk menjaga nama baik keluarga. Bertahan hidup, sendirian, dan menderita di luar sana. Kaum heteroseksual mungkin akan susah memahami semua ini, tapi hal umum bagi kaum gay.

Aku suka traveling dan tidak betah berdiam diri di rumah. Pada suatu ketika aku janjian bertemu dengan seorang pria Jerman di Gili Air. Pertemuan itu adalah liburan dua minggu yang sangat menyenangkan. Setelah dia kembali ke negaranya, baru kami menyadari bahwa kami saling jatuh cinta. Sejak itu kami bersepakat menjalin hubungan jarak jauh.

Secara berkala kami bertemu di suatu tempat, seperti Paris, Hurghada, Antalya, dan lain-lain. Hubungan kami sangat menyenangkan. Akhirnya kuputuskan untuk mengikutinya dan pindah ke Jerman. Sayang sekali, hubungan kami hanya bertahan lima tahun. Dia melanjutkan perjalanannya dan menetap di Phillippina. Dan aku memilih tetap tinggal di Jerman.

Pikirku ketika itu, untuk apa aku kembali ke Indonesia bila tak ada seorang pun yang menginginkanku? Gay masih dianggap sebagai kaum yang tidak baik, dan negara belum bisa memberikan perlindungan hukum. Sementara aku bukanlah tipe pejuang yang bisa memperjuangkan persamaan hak gay, misalnya. Jadi kuputuskan lebih baik menetap di Jerman, meskipun sendiri.

Putusnya hubungan kami membuatku terpuruk. Saban pagi, aku tidak punya alasan yang menyenangkan untuk bangun dari tidur. Rasanya berat untuk memulai hari. Malam hari terasa sangat panjang. Terkadang aku terbangun pada tengah malam dengan perasaan pilu karena ngeri membayangkan hari esok.  

Berbulan-bulan aku berada pada titik terendah itu. Hingga aku menyadari kondisi ini tidak baik untuk jiwaku. Akhirnya muncul kembali kesadaran untuk berjuang mencari kebahagiaan, karena kebahagiaan tidak akan datang dengan hanya menunggu.

Aku mulai membuka diri dan melakukan pendekatan dengan tiga pria sekaligus. Setelah beberapa kali pertemuan dan mempertimbangkan semuanya, aku putuskan hanya berpacaran dengan salah satu dari mereka, yaitu Thomas. 

Kepada dua orang lainnya, aku katakan tidak ingin melanjutkan hubungan. Mereka adalah orang-orang dewasa yang bisa menerima keputusan pihak lain.

Setelah berpacaran selama dua bulan, Thomas memperkenalkanku pada keluarganya, keluarga yang sangat menyenangkan dan ramah. Setelah dua tahun berpacaran, Thomas melamarku.

Kami akhirnya menikah. Pernikahan yang sempurna, sehingga masih menjadi bahan pembicaraan di desa kami selama berbulan-bulan. Makanan dan minuman yang berlimpah dan pesta dansa sepanjang malam. 

Semua keluarga Thomas, teman, dan warga kampung datang. Sayang sekali keluargaku tidak ada yang datang karena mereka semua belum pernah ke luar negeri dan takut naik pesawat.

Oh iya, aku lupa menceritakan bahwa keluargaku akhirnya mau menerima diriku apa adanya. Saat aku pulang dengan Thomas, sebelum menikah, mereka menyambut kami dengan hangat. Saat itu kami sempatkan pergi berliburan bersama keluarga besarku. Sejak itu, mereka sering bertanya, kapan kami datang lagi. Aku bisa merasakan bahwa mereka sangat menyayangi kami. Perubahan yang luar biasa, ya?

Satu hal lagi, setelah tinggal di Jerman, aku berusaha mengejar ketinggalan pendidikanku yang cuma lulusan SMA. Aku mempelajari teknologi informasi sembari bekerja paruh waktu sebagai roomboy di sebuah hotel. Pernah juga bekerja di dapur-dapur restoran. 

Saat ini aku mengelola sebuah toko online yang dapat kulakukan dari rumah. Keuntungan dari pekerjaan itu kuinvestasikan lewat trading saham. Pekerjaan yang menyenangkan karena bisa kulakukan sembari mengurus rumah.

Sejak menikah, aku pindah ke rumahnya Thomas. Tempat tinggal kami kini adalah sebuah desa yang asri nan indah, terletak di pantai North Sea, Jerman Utara. Di sini kami hidup seperti pasangan lainnya. Satu-satunya yang membedakan kami adalah bahwa kami pasangan gay. Itu saja.

Hubungan kami dengan tetangga sangat baik, meskipun jarak terdekat dengan mereka sekitar satu kilometer jaraknya. Warga di sini secara berkala mengadakan acara sosial. Kami selalu berusaha terlibat sehingga berkesempatan mengenal semua orang dan bisa menjalin persahabatan dengan mereka.

Di Jerman, pernikahan berbeda jenis atau pernikaan sejenis diperlakukan setara. Dengan menikah, kita akan mendapat kemudahan dan keringanan. Bisa mendapat potongan pajak penghasilan berdua, menggabungkan asuransi sosial agar menjadi lebih murah, membuat rekening bank bersama, dan banyak lagi keuntungan lainnya.

Tapi bukan itu tujuan kami menikah. Kami menikah karena kami saling mencintai dan menyayangi. Dengan status menikah, kita merasa memiliki keluarga yang saling menjaga satu sama lain dalam suka maupun duka.

Tentang anak, sesungguhnya kami bisa mengadopsi bila kami mau; tapi setelah berdiskusi, kami memutuskan tidak. 

Hari tua tanpa anak tidak masalah di sini. Jerman adalah negara kaya dengan sistem sosial terbaik di dunia. Dari segi finansial, kami sudah mempersiapkannya. Lagi pula, di sini semua orang sudah terjamin hari tuanya.

Kehidupan pernikahan kami sangat menyenangkan. Kami bersyukur dan menikmati setiap detik kehidupan kami. Karunia hidup yang sangat indah.

Pesanku buat kalian semua, terutama gay muda: dunia ini luas sekali. Bila engkau merasa terpuruk, pergilah ke luar, di sana ada kebahagiaan yang sedang menunggumu! Jangan takut dan jangan menyerah dengan keadaan sekitar.

Bagi yang ingin mengetahui perjalanan hidupku saat ini, silakan mengunjungi blog-ku: www.ketimpringan.com. Aku dan Thomas suka traveling keliling dunia, dan aku menuliskan perjalan kami secara teratur di blog tersebut. Dapat juga follow akun twitter-ku @ketimpringanDC atau akun instagram @ketimpringan. Semoga menginspirasi.