Sejak dulu mendengar dan menyandang gelar sebagai mahasiswa merupakan hal yang sangat luar biasa. Selain di idolakan oleh banyak orang mahasiswa juga dikenal sebagai penyambung lidah rakyat. 

Karena hanya mahasiswa lah yang berani menyuarakan keadilan di hadapan para penguasa. Mahasiswa juga kategorikan sebagai barisan tersepan dari kalangan sipil, untuk bergerak dan membasmi kedzoliman. Sebagaimana dalam buku yang ditulis oleh Eko Prasetyo dengan judul “Bergeraklah Mahasiswa” sekilas membaca buku ini bisa dikatakan sebagai buku provokatif.

Bagaimana kemudian buku ini memberikan narasi-narasi yang membangkitkan nalar yang membeku akibat banyak ruang-ruang diskusi yang hari ini dianggap kurang dan jarang. 

Buku dengan sampul berwana kuning ini, yang terbit pada tahun 2017 oleh Intrans Publishing dan Social Movement Institute mengambarkan realitas keadaan mahasiswa yang kemudian semenjak ditahun 1998 dilelapkan dengan keadaan, dalam artian ditidurkan dengan keadaan.

Dibuku ini Eko Prasetyo menyentil mahasiswa yang kemudian hari ini banyak berorientasi saat selesai kuliah akan menjadi orang sukses, memiliki pekerjaan yang mumpuni, banyak uang dan hidup mewah. 

Mahasiswa di permentasi sedemikian rupa, agar menjadi seorang kaum kapitalis tanpa memetingkan dan memikirkan nasib orang-orang di sekitarnya. Dunia mahasiswa memang sebagai dunia yang tempat berkelana, apapun gunakan waktu sebagai mahasiswa untuk menciptakan sesuatu hal. 

Dan bahkan saat bermahasiswalah kita menghabiskan jatah kegagalan serta kesalahan, bahkan tak jarang menjadi mahasiswa kita juga mendapatkan cinta di sana, untuk tujuan lebih baik kedepannya. 

Selain itu cirri khas seorang mahasiswa jangan perna redup sebagai agen perubahan, agen of control, agen of education and intelektual, karena tugas mahasiswa selain kuliah ia juga harus banyak beradu argument gagasan, bertarung dimedan laga dalam mewujudkan keadilan sosial.

Mahasiswa jangan bangga dengan nilai yang didapatkan, karena nilai itu hanya sebuah angka, masyarakat tidak membutuhkan angka dan nilai tinggi yang mereka butuhkan ialah kehadiran mahasiswa sebagai kaum intelektual, menjadi solusi bagi kehidupan ini. 

Didalam buku Eko Prasetyo bertanya kepada mahasiswa haruskah kita kuliah untuk mengejar nilai.? Tentu jawabanya tidak, kuliah bukan hanya soal nilai, kuliah menjadikan kita sebagai orang terdidik, dan dari keterdidikan kita itulah, menjadikan kita harus mampu hadir di tengah masyarakat yang sedang kebingungan dengan keadaan bangsa ini. 

Jika mendengar kisah Christopher yang mendapatkan nilai sempurna dan sempat tidur saat ujian dan ia amsuk ketika ujian saja bahkan sudah mampu memahami karya yang sulit yaitu Principia Mathematica. 

Namun menurut riset Lewas Terman meneliti nilai tinggi dan IQ tinggi ternyata hidupnya tak seberhasil yang diperkirakat (Prasetyo, 2017). Ini menunjukkan bahwa setiap orang yang memiliki nilai tinggi tidak selamanya memiliki kehidupan yang seperti apa yang dipikirkan orang.

***

Untuk membentuk mahasiswa yang memiliki nalar kritis, maka organisasilah tempatnya. Eko Prasetyo perna bertaya mengapa kita membutuhkan orang yang membangkang.? Jawabannya ialah karena banyak pandangan yang lazim dan diangap final terkait sebuah kebenaran, misalnya pandangan orang mengatakan kita sekolah maka akan pintar, padahal pada kenyataannya tidak seperti itu.

Maka eko Prasetyo mencoba memberikan pandangan bahwa mahasiswa harus perbanyak pengalaman, melalui pembangkangan dalam konotasi positif, membangkang yang bisa memberikan kreavtivitas, imajinasi dan itu semua ada di organisasi kemahasiswaan. 

Silakan para mahasiswa masuk organisasi apa saja, taat dan ulet akan menghasilkan penegtahuan yang luar biasa. Untuk membentuk nalar kritis, kampus tidak lagi menjadi pembentuk nalar kritis, melainkan sudah berubah menjadi pabrik manusia. 

Yang pada akhirnya akan menajdikan manusia sebagai, tempat penjualan hasil ke pasar dunia pekerjaan. Tidak lagi mengorientasikan menjadi mahasiswa yang bisa bermanfaat sosial kepada masyarakat sekitarnya. 

Maka organisasi mengambil alih peran itu untuk membentuk generasi pembangkang, membentuk nalar kritis mahasiswa agar mampu menjadi agen sosial control ditengah masyarakat.

Sudahi tidur yang lelap dari kaum mahasiswa gaunkan kembali gerakan mahasiswa yang sudah puluhan tahun tertidur. Kata Eko Prasetyo jangan hanya menjadi anak kuliahan sementara orang tua kita, petani kita, nelayan kita semuanya sedang mengalami kesengsaraan ditindas, dirampas haknya, siapa yang bisa membela mereka,? 

Jawabannya hanya mahasiswa, karena mahasiswa masih memiliki satu nilai yang tinggi tak bisa diukur dengan materi yaitu idealisme. Jika kita mendengar dimedia sedang hangat dibicarakan seorang pemudi asal Myanmar yang ikut berdemonstrasi menuntut aksi yang dilakukan militer mengkudeta pemerintahan

Myanmar hingga sampai ia tertembak dan mati. Bukankah itu merupakan tugas mulia memperjuangkan keadilan, memperjuangkan bangsa,? Bukankah Negara kita juga perna mengalami hal serupa,? 

Sehingga Eko Prasetyo mengatakan anak-anak muda yang segar tubuhnya tapi mati pikirannya. Mahasiswa harus berani melompat dan bangkit melawan. Kuliah dan organisasi, perlu di seimbangkan jangan ada yang condong, harus berjalan bersama. 

Satu pesan penulis bahwa kurangi diskusi-diskusi yang hanya menghabiskan ongkos dan sebungkus rokok, yang tidak menghasilkan solusi. Idealism mahasiswa, marwa organisasi harus dijaga jangan tergiur dengan baying-bayang yang akan melemahkan idealism mu. Wahai mahasiswa.!!!