Gusdurian
1 tahun lalu · 19090 view · 5 min baca · Cerpen 82246_94089.jpg
Ilustrasi: BBC

Nak, Kita Tak Perlu ke Surga

Saya tatap ketiga anak saya satu per satu. Kegembiraan masih terpancar dari wajah mereka sepulang salat magrib berjamaah di musala dekat rumah. Saya kumpulkan mereka di ruang keluarga, ruangan yang biasa kami jadikan sebagai tempat diskusi.

Fadli, anak sulung saya, duduk berhadapan dengan saya. Fahira dan Firza, anak kedua dan ketiga, memilih tempat duduk sebelah kiri dan kanan saya. Sementara Umi (istri saya) masih sibuk di belakang menyiapkan makan malam.

“Anak-anakku, waktunya sudah tiba untuk kita. Panggilan suci sudah datang.” Anak-anak menatap saya dengan serius. “Kalian paham maksud Abi, kan?" tanya saya.

“Paham, Abi. Kami telah siap,” jawab mereka hampir serentak.

“Kalian anak-anak pilihan. Kalian Jundullah, calon penghuni surga!”

Serentak mereka bertakbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.”

“Abi dan Umi sudah menyiapkan semuanya untuk menghancurkan para thoghut, para kafir laknattullah!”

“Abi, saya berjanji akan membuat para kafir itu ketakutan dan menjadikan tubuh mereka berantakan!” ucap Fadli dengan lantang.


 “Abi, aku dan Firza akan menjadikan tempat menyembah para kafir itu sebagai kuburan mereka!” Fahira tidak kalah garang.

“Abi, walaupun nanti tubuhku hancur, tapi tubuh para kafirun akan lebih banyak yang hancur. Alllahu Akbar!" Suara istriku yang tiba-tiba masuk ke ruangan.

“Anak-anak, mari kita makan dulu. Umi masak makanan kesukaan kalian, nasi kebuli dan ayam goreng.”

Subhanallah. Syukran, Umi,” jawab anak-anak kegirangan.

Malam itu bukan makan malam terakhir bagi kami. Masih ada dua hari lagi untuk melakukan amaliah suci. Setelah makan malam, diskusi kecil masih berlangsung. Saya dan istri masih melakukan penguatan dan meyakinkan anak-anak agar saat melakukan misi suci itu mereka tidak ragu.

“Anak-anakku, saat hari itu tiba, bayangkanlah diri kalian seperti Khalid bin Walid, panglima perang yang ditakuti, panglima perang yang meluluhlantakkan benteng musuh!"

“Allahu Akbar! Allahu Akbar!"

“Nak, masih ada waktu dua hari untuk kita. Besok hari Jumat, Abi dan Umi akan menghadap Ustaz Abu untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Silakan gunakan waktu dua hari ini untuk kegiatan yang bermanfaat. Barangkali kalian mau menikmati atau melihat dunia yang terakhir kali. Abi dan Umi tidak melarang, tapi harus hati-hati dan waspada.”

“Abi, izinkan waktu dua hari ini saya manfaatkan untuk jalan-jalan ke Mall untuk yang terakhir kalinya. Sudah sepuluh tahun lebih saya tidak ke Mall, Abi,” kata si Fadli.

“Baiklah, Abi tidak melarang.”

“Abi dan Umi, saya hanya mau main-main di sekitar kompleks perumahan ini saja,” ujar si bungsu, tidak terlalu bersemangat.

“Baiklah. Tidak apa-apa.”

“Fahira, kamu mau ke mana?” Uminya bertanya.


“Umi, kalau diperbolehkan, dua hari ini aku di rumah saja. Tapi izinkan aku mangakses internet.”

“Oke. Tidak masalah.”

 “Baiklah, anak-anakku, jaga diri kalian baik-baik selagi Abi dan Umi pergi.”

“Istirahatlah agar tubuh kalian tetap fit. Jangan lupa sebelum tidur minum madu dan habbatussauda dulu.”

“Baik, Abi, Umi,” jawab mereka.

“Ini malam Jumat, Abi dan Umi mau Sunnah Rasul dulu, biar segar dan bersemangat juga, he..he..”

“Selamat bersenang-senang, Abi dan Umi”

Dua hari kemudian, selepas salat isya, kami sekeluarga berkumpul kembali, di ruang yang sama.

“Anak-anakku, Ustaz Abu sudah merestui. Besok hari Ahad pagi adalah amaliah suci kita. Ini malam terakhir kita berkumpul di dunia. Setelah aksi, kita akan berkumpul di surga. Takbir!”

“Allahu Akbar, Allahu Akbar.”

“Besok pagi kita akan kabarkan ke dunia bahwa kita masih ada. Kita hancurkan thoghut. Panji Islam akan segera berkibar di negeri ini. Takbir!"

“Allahu Akbar…Allahu Akbar..”

“Oh iya, Abi dan Umi ingin tahu, dua hari kemarin ngapain aja kalian?"

“Abi, Umi, saya kemarin tetap jalan-jalan ke mall. Subhanallah, ramai sekali, Abi. Anak-anak seumuran saya bersenang-senang, nonton bioskop, beli baju, makan bersama keluarga. Ada juga yang main game. Di mall lagi banyak diskon, Umi.”

“Terus, kamu ngapain?”

“Maaf, Abi, maaf, Umi. Karena haus dan saya ingin sekali minum kopi untuk yang terakhir kalinya, saya terpaksa ke Starbucks. Subhanallah, caramel frappuccino-nya nikmat sekali. Umi, Abi, apakah nanti kita di surga bisa menikmati minuman seperti itu?"

“Di surga, minumannya lebih nikmat daripada di dunia, nak,” jawab istri saya.

“Firza, kamu bagaimana, nak, kemarin?" tanya sang Umi

“Umi….Abi…" Suara terbata-bata, kemudian sesenggukan.

“Astaghfirullah. Kamu kenapa, nak?"

“Kemarin, waktu aku jalan-jalan keliling kompleks, aku dipanggil sama Pak Haji Usman. Aku disuruh mampir ke rumahnya. Ternyata anak Pak Haji, si Syifa, lagi ulang tahun. Aku diajak ke dalam rumah untuk ikut pesta ulang tahunnya. Aku tidak berani menolak. Pak haji orang baik dan Syifa juga temanku."

“Terus?” tanya uminya lagi

“Di rumahnya ramai sekali. Semua anak-anak kompleks datang semua. Dari yang Cina, Arab, Batak, Padang, dan Ambon, ngumpul semua di rumah Pak Haji. Kami bergembira, nyanyi, makan-makan, dan ada hiburan badut lucu. Kami sangat bahagia. Umi, Abi, apakah di surga nanti saya bisa berkumpul seperti mereka, bernyanyi, makan-makan, dan mempunyai teman dari berbagai suku?"

Saya dan istri terdiam.

“Fahira, kamu ngapain?” tanya Umi.


“Abi, Umi, maaf, aku main game online. Sebelum aku ke surga, aku ingin bermain game online dulu. Main game online ternyata mengasyikkan. Aku jadi stylist di game Style Me Gril. Aku suka sekali mendandani model. Umi, apakah di surga nanti aku boleh mendandani para bidadari?"

Saya dan istri terdiam sejenak, kemudian...

“Anak-anakku, besok pagi hari yang sudah kita tunggu-tunggu sejak lama. Persiapkan diri kalian. Setelah aksi, kita akan berkumpul di surga untuk selama-lamanya.”

“Kenapa kalian tidak bersemangat?” tanya saya lagi.

“Maaf, Abi, ada yang mau saya tanyakan. Kalau kita pergi ke surga tapi hati kita tidak bahagia, apakah di surga kita bisa tetap bahagia?" tanya Fadli dengan wajah agak tegang.

“Iya, Abi, sementara kita bisa ke surga, tetapi dengan jalan mengorbankan kebahagiaan orang lain?” Firza menambahkan.

“Umi, Abi, kami anak-anakmu ingin bahagia, kebahagiaan yang didapat dengan cara bahagia,” jelas Fahira.

“Anak-anakku, tidak ada waktu lagi untuk berdiskusi. Siapkan diri kalian. Setelah subuh, kita berangkat!”

Anak-anak terdiam, menunduk.

Pagi itu, sekitar jam 07.30, terdengar suara benturan keras dua kali.

Braaakkkk…..Braaak….

Dan teriakan anak kecil tepat di telinga saya.

“Papaaaa….bangun, sudah siang. Jangan tidur terus!”

Saya mengusap mata. Anakku yang ke-3 sudah berdiri di samping tempat tidurku. Sudah berpakaian rapi dan cantik.

“Pa, jalan-jalan, yuk. Ini hari Minggu, lho. Aku kan libur?”

“Iya, cantik. Papa mandi dulu, ya.”

Saya cium keningnya yang wangi dan berbisik dalam hati, “Nak, kita tidak perlu  ke surga andai jalan menuju surga itu akan mengorbankan kebahagiaanmu.”

Artikel Terkait