2 tahun lalu · 620 view · 5 menit baca · Hiburan najwa.png
Foto: pinterest.com

Najwa Shihab, Presenter Cantik yang Membuat Laki-Laki Terpana

Kalau saya diberi pertanyaan terkait sosok wanita seperti apa yang menjadi impian saya, kira-kira kalau harus diringkas dalam satu-dua kata, jawabannya paling hanya terangkai dari lima huruf saja; diawali dengan huruf N, dan diakhiri dengan huruf A, jadilah Najwa.

Nama yang sungguh indah dan memesona, persis seperti pemiliknya yang cantik jelita. Ya yang saya maksudkan artinya bukan sekadar singkatan kata, tapi memang betul-betul merujuk pada sosok Najwa Shihab yang sering tampil di layar kaca.

Mengapa harus Najwa? Jawabannya tentu tak bisa diringkas seringkas namanya. Tapi intinya, dalam kacamata saya, Najwa tak hanya merupakan presenter cantik jelita penuh pesona, tapi ia juga merupakan sosok wanita cerdas berwibawa dengan intelektualitas dan integritas yang tak bisa dianggap remeh begitu saja.

Saya sangat suka sekali dengan gaya dia senyum ceria, berbicara, bercanda, tertawa, bercengkerama, melangsungkan wawancara, apalagi ketika dia membawakan acara Mata Najwa yang sering menghadirkan para pejabat Negara. Kritisismenya luar biasa. Pertanyaan-pertanyaannya tajam dan mengena. Sudah begitu, sisi humornya pun selalu ada-ada saja. Sungguh, saya sangat suka.

Di luar acara, tampak dari perilaku dan gaya bicaranya bahwa Najwa orangnya baik-baik saja. Dia tak suka jual mahal dengan orang-orang yang ingin mengenalnya. Orangnya tak jumawa meskipun sudah menggembol sejumlah penghargaan di berbagai acara.

Jika bersalaman orangnya santun luar biasa. Jika bertemu para koruptor keberaniannya bisa mengalahkan pria. Jika pulang ke rumah ia merupakan sosok ibu yang penyayang sama buah hatinya. Wes pokoknya banyaklah sisi baiknya.

Ya mungkin maklum saja, wong ayahnya sendiri seorang ulama, apalagi seluruh keluarganya adalah orang-orang terdidik semua. Sejak kecil pasti pendidikannya sudah tertata. Tak heran jika ketika tumbuh dewasa, sosoknya menjadi idaman para pria dan mampu membuat mereka terpana. Ini di mata saya loh ya.

Meskipun kini dia sudah beranjak tua, tapi ketertarikan saya kepada Najwa tak luntur begitu saja. Saya masih menginginkan perempuan dengan karakter seperti dia. Aduh kalau ditanya alasannya apa, rasa suka itu tak selamanya mampu diterjemahkan oleh kata. Karena sejauh menyangkut rasa suka—kata anak muda—hanya rasa yang bisa meraba, sedangkan kata tak selamanya mampu menerka.

Dalam imajinasi saya, kalau kelak Tuhan menakdirkan saya untuk mempersunting wanita seperti mba Nana—demikian ia biasa disapa—sepertinya isi rumah akan penuh canda tawa, aman, bahagia, dan sentosa sepanjang masa.

Orang cerdas seperti mba Nana kalau diajak berdiskusi pasti serunya luar biasa. Orang ceria seperti dia kalau diajak jalan bersama pasti tak akan … aduh, apa ya, sudahlah, nanti aku berkhayal yang tidak-tidak. Jangan sampai ketertarikanku pada Nana menceburkanku kedalam dosa yang tak disangka. Haha. Ya intinya begitulah kira-kira.

Sebagian orang mungkin akan mempersoalkan rambut Najwa yang terurai tanpa mengenakan busana jilbab seperti yang dilakukan oleh para wanita Muslimah pada umumnya.

Tapi, bagi saya—meskipun saya lebih suka dan pasti akan memilih perempuan berjilbab—yang menjadi pertimbangan utama dalam menakar kebaikan seseorang ialah kepribadiannya, bukan aspek lahiriahnya. Karena kepribadian itu adalah terjemahan hatinya. Sementara hal-hal yang berdimensi lahiriah tak jarang membuat kita tertipu dan terlena begitu saja.

Orang itu kalau kepribadiannya sudah baik, jangankan soal jilbab, soal busana yang tak sesuai dengan tuntunan Agama pun bisa dirubah tanpa berat kata. Apalagi kalau dia sudah dimabuk cinta. Anda tahu sendiri, kalau cinta sudah berkuasa, istri mau disuruh pakai dan melepaskan apapun tak perlu menggunakan kata paksa. Iya enggak? Haha. Eh, awas loh ya, jangan berpikir yang tidak-tidak.

Prinsip ini, saya kira, perlu dijadikan pertimbangan oleh para laki-laki dalam memilih dan menakar kebaikan kaum Hawa yang hendak disuntingnya. Bahwa kita tak cukup hanya dengan melorotkan celana (eh, maksudnya memelototkan mata) di hadapan kecantikan dan keanggunannya semata.

Tapi kita juga perlu menerawang dan mengidentifikasi kepribadiannya seperti apa dan bagaimana, agar kelak kita tak dirundung penyesalan hanya karena terlena dengan yang tampak-tampak saja.

Ingat, soal luaran orang bisa berpura-pura, tapi soal kepribadian itu akan tampak dengan sendirinya. Yang tampak suka mengelabui mata, tapi yang dalam tak bisa berdusta. Yang tampak kadang menunjukan sebaliknya, tapi yang dalam pasti akan mengekspresikan yang sesungguhnya. Alah sudahlah. Semua orang tahu ini semua. Sekarang mending kita kembali lagi ke Ustadzah Nana.

Sisi lain yang menarik dari Nana, dalam kaca mata saya—di samping kecerdasan dan kritisismenya yang luar biasa—dia merupakan sosok wanita yang ceria dan penuh canda-tawa. Ini saya suka. Wanita seperti ini akan mampu menyulap rumah sepi bak kuburan di tengah hutan belantara menjadi taman indah yang membuat kita nyaman dan bahagia.

Dalam bingkai hubungan rumah tangga, keceriaan wanita merupakan permata termahal di tengah keletihan pria selepas pulang kerja. Sebagai tulang punggung keluarga, laki-laki dibebani sejumlah tuntutan demi menghidupi wanita dan anak-anaknya. Dan di tengah kerja keras yang menguras tenaga itu tak jarang mereka merasa letih, lemas, kesal, jengkel, muak dan perasaan-perasaan sejenisnya.

Nah, pada titik inilah keceriaan wanita harus ada. Wanita ceria akan mampu membuat suasana suram-buram menjadi nyaman dengan iringan canda-tawa. Sementara wanita yang kurang ceria, meskipun yang ditempati adalah rumah mewah-megah lantai lima, sepertinya sih akan terasa datar-datar saja. Ya tentunya selera orang beda-beda. Ini hanya selera saya saja.

Sosok wanita cerdas-ceria semacam ini, dalam kacamata saya, ada pada diri Najwa. Kalau para politisi dan pejabat Negara saja bisa dia hibur dan dibuat tertawa, apalagi suami yang dia cinta dengan sepenuh jiwa-raga dan menjadi teman hidupnya. Bukan hanya canda dan tawa, orang seperti ini pasti akan memberikan hal yang lebih indah mempesona sepertii … itu … apa tuh namanya ….

Aduh, malu saya bilangnya, takutnya merangsang kemungkaran yang tak disangka. Kalau dilanjutkan bisa-bisa kepala saya juga terbang dengan arah yang tidak-tidak. Haha. Ya sudahlah itu saja.

Andai mba Nana masih muda, mungkin saya akan mengutarakan kata cinta. Tapi berhubung dia sudah hampir menua, kalau saya bertemu dia, ya paling saya hanya akan berkata: "Mba Nana, aduh, semoga nanti saya bisa mendapatkan istri yang kecantikan, kecerdasan dan keceriannya seperti mba ya."

Kalau saja mba Nana mampu meresapi apa yang kurasa, paling-paling dia akan menjawab dengan riang-gembira: "Iya, jujur sih aku juga mau sebetulnya punya suami seperti kamu na, tapi ya apa mau dikata, jarak usia telah memisahkan kita. Sekarang biarlah jasad kita tersekat usia, tapi cinta kita, akan terpatri selamanya di dalam dada." Bahahaha.

Dasar khayalan setengah gila. Eh, tapi siapa tahu, kalau diamini menjadi kejadian nyata. Tentunya dengan Najwa yang berbeda dan lebih muda. Soalnya kalau sudah tua aku tak kuasa, tapi kalau masih muda, pasti rasanya gurih dan luar biasa. Bukankah begitu saudara?

Kairo, Zahra-Medinat Nasr, 07 Oktober 2016