Mungkin kalian sudah tidak asing lagi dengan kata “Cinta”. Sebuah kata yang dapat dirasakan tetapi tidak dapat diraba, yang dapat membuat hati berbunga-bunga dan seolah olah dapat terbang melayang di antara awan kebahagiaan. Cinta itu aneh, mengapa disebut aneh? Karena dia dapat muncul kapan saja dan dapat membuat hidup lebih berwarna.

Namun, terkadang cinta tidak seperti yang diharapkan. Cinta yang dikenal sebagai sumber dari kebahagiaan ternyata bisa juga menimbulkan rasa sakit tetapi tidak berdarah. Rasa sakit yang begitu mendalam dan dapat membekas sampai kapanpun ataupun sampai ditemukan sumber kebahagiaan baru lainnya.

Sebenarnya cinta itu datang untuk menyatukan berbagai perbedaan. Karena sebuah perbedaan itu ibarat sebuah pelangi yang memiliki warna yang berbeda-beda dan bersatu menghasilkan sebuah keindahan yang luar biasa. Bahkan, sebuah pelangi pun akan memunculkan keindahannya setelah hujan badai menerpa.

Ini tentang kesempurnaan cinta, tentang akhir dari sebuah cinta terhalang kasta ataupun cinta terhalang restu dari kedua orang tua. Sebuah cerita cinta yang mungkin diharapkan akan berakhir sempurna dengan ending yang bahagia, tetapi bagaimana akhir dari kesempurnaan cinta bila cinta terhalang kasta dan cinta terhalang restu dari kedua orang tua?

Cinta terhalang kasta butuh perjuangan yang luar biasa agar keduanya dapat bersatu dan menua bersama selamanya. Akankah berakhir dengan bahagia atau berakhir dengan perpisahan dengan saling merelakan dan membiarkan dia menjadi milik orang lain?

Sebuah film terbaru dengan genre romansa bercampur komedi dari Indonesia yang  disutradarai oleh Rizki Balki dan skenarionya ditulis oleh Queen B bersama dengan Endik Koeswoyo. Film ini akan tayang mulai 8 Desembar 2022 di bioskop kesayangan anda.

Di dalam film ini akan diceritakan betapa luar biasanya perjuangan sebuah cerita cinta yang terhalang kasta. Nagih janji cinta, itulah judul dari film yang menceritakan tentang kisah cinta terhalang kasta yang diperankan oleh tokoh utama yaitu Irzan Faiq sebagai Bagas dan Marsha Aruan sebagai Ajeng.

Bagas dan Ajeng, mereka berdua merupakan mahasiswa baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Negeri di Kota Surakarta yaitu Universitas Sebelas Maret. Keduanya berteman baik dan sering bersama. Tanpa disadari kebersamaan mereka menimbulkan rasa saling mencintai tetapi mereka lebih memilih memendam perasaannya selama enam semester.

Namun, siapa yang mengira jika cinta mereka itu tidak mudah dan harus berusaha keras untuk memperjuangkan cinta mereka. Mungkin karena latar belakang mereka yang begitu jelas perbedaannya. Perbedaan antara keluarga mereka yang meliputi tradisi, budaya ataupun kasta yang menjadi tantangan untuk hubungan yang mereka jalani.

Bagas adalah seorang anak dari keluarga sederhana yang bermata pencarian sebagai petani dan saat kuliah pun dia berusaha mendapatkan gelar dari beasiswa. Sedangkan, Ajeng adalah seorang gadis cantik yang kaya, famous, dan dia merupakan keturunan dari keluarga berdarah biru atau dapat disebut juga keluarga keraton (bangsawan).

Dikarenakan perbedaan latar belakang tersebut, Bagas merasa belum berani mengakui bahwa dia menyukai Ajeng. Sedangkan Ajeng hanya dapat memberanikan diri sebatas memberikan kode untuk Bagas, agar mereka dapat menjalin hubungan yang lebih serius.

Seiring berjalannya waktu, Bagas dan Ajeng semakin dekat dan semakin yakin dengan perasaan mereka masing-masing. Namun, tenyata terjadi hal yang tidak diharapkan. RM Cokrodiningrat dan Rahayu selaku orang tua Ajeng, memperkenalkan Ajeng dengan seorang calon dokter muda berdarah biru bernama Satrio yang bertujuan ingin menjodohkan mereka berdua.

Keluarga Cokrodiningrat yang merupakan keluarga Ajeng sudah dekat dan sangat akrab dengan keluarga Satrio. Kedekatan keluarga Ajeng dan Keluarga Satrio dikarenakan ayah Satrio adalah seorang dokter spesialis jantung yang selama ini merawat dan mengobati ayahnya Ajeng.

Setelah mendengar berita tentang perjodohan antara Ajeng dan Satrio, Bagas pun berniat langsung memberanikan diri untuk memperkenalkan dirinya kepada kedua orang tua Ajeng. Di saat waktu yang tepat, Bagas membuat janji cinta di depan kedua orang tua Ajeng agar merestui hubungan mereka.

Orang tua Ajeng sebenarnya menerima niat baik dari Bagas, tetapi karena perbedaan kasta dan latar belakang, Bagas diberikan beberapa syarat dan ketentuan. Namun, jika syarat dan ketentuan yang dijalani Bagas gagal, perjodohan antara Ajeng dan Satrio akan tetap dilanjutkan.

Bagas ingin membuktikan bahwa dirinya pantas menjadi calon menantu di Keluarga Cokrodiningrat. Namun, berbagai usaha yang dilakukan Bagas berakhir dengan sia-sia. RM Cokrodiningrat selaku Ayah Ajeng menentang hubungan mereka karena calon menantu Keluarga Cokrodiningrat harus memiliki bibit, bebet, dan bobot yang jelas.

Lalu apakah Bagas memilih mundur karena ayah Ajeng yang telah menentang hubungan mereka selama ini? Ataukah Bagas tetap memperjuangkan cintanya kepada Ajeng dengan membuktikan janji cinta yang telah dia buat di depan kedua orang tua Ajeng?

Berawal dari temen ngampus berujung menjalin hubungan serius. Itulah yang sedang dialami Bagas dan Ajeng. Sebuah hubungan yang dibangun harus diperjuangkan agar hubungan tersebut tidak kandas di tengah jalan. Walaupun jalan yang dilalui terdapat banyak rintangan, tetaplah berjalan dan menghadapi rintangan itu bersama-sama.

Hari gini kok masih ada yang memandang kasta dan melakukan perjodohan? Mungkin kebanyakan orang tua menginginkan sesuatu yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun, apabila sesuatu tersebut dilakukan dengan cara terpaksa maka sama saja tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik untuk anak-anaknya.

Sebuah perjalanan cerita cinta tidak selalu mulus perjalanannya, banyak lika-liku perjalanan yang harus dilalui dan diperjuangkan. Namun, percayalah bahwa perjuangan tidak akan mengkhianati hasil. Dan jika suatu hal yang diperjuangkan dengan niat baik akan menghasilkan sesuatu yang baik juga.