Peneliti
2 bulan lalu · 191 view · 6 min baca menit baca · Budaya 93550_66787.jpg
pixabay.com

Nafas Panjang Peradaban Kertas

Kertas adalah pendukung utama meluasnya budaya tulis-menulis. Salah satu produk peradaban yang turut mengantar manusia memasuki era modern. Dalam sejarah, kertas telah menjadi alat komunikasi yang efisien, sekaligus simbol bagi transformasi pendidikan.

Kertas sudah mengantar peradaban manusia lebih modern, dan terutama menjembatani tradisi lisan ke budaya tulis. Lompatan ini berhasil menyelamatkan tradisi lisan yang cenderung istana-sentris. Kertas tidak hanya telah menarik garis penghubung antara teks dan dunia. Pada sehelai kertas, manusia bisa menulis segala harapan dan imaji, lalu membagikannya ke belahan dunia lainnya.

Namun, modernitas yang dibangun di atas prinsip efisiensi, justru kini memojokkan kertas. Setidaknya saat penemuan teknologi perpaduan alat komunikasi dan komputer perlahan-lahan mengganti sebagian pekerjaan, yang dahulu mungkin hanya dilakukan dengan kertas. Apakah kertas akan segera memasuki menemu senjakalanya?   

Kemungkinan dunia tanpa kertas

Beberapa dekade sebelumnya, laptop telah menjelma menjadi metamorfosa alat yang efisien untuk mencatat, adalah kombinasi kerja komputer desktop dengan kertas kerja.

Dynabook, demikian Alan Kay menyebut konsep laptop pertamanya pada 1972. Meski teknologi saat itu belum mendukung ide Kay, namun konsep baterai tanam pada perangkat komputer, jelas menjadi titik mula revolusi salah satu produk teknologi yang mengiringi peradaban komputer makin massif.

Kemungkinan dunia tanpa kertas, sudah mulai terlihat, terutama sejak kemunculan telepon genggam berplatform internet. Otak android yang disemat ke dalam smartphone, telah menelan fungsi-fungsi kertas dalam frekuensi yang bahkan mungkin tak pernah terprediksi sebelumnya.

Surat-surat yang dikirim berlabel perangko, untuk urusan kantor juga pribadi, sebagian besar sudah diambilalih oleh e-mail, chating, bahkan video call.

Orang-orang kini berdiri terperangah menyaksikan kertas yang dahulu menjadi simbol peradaban kini makin tersisihkan. Masa depan tanpa kertas? Itu terdengar aneh. Tapi, orang-orang membicarakannya.

Ini bukan lagi prediksi. Dalam dekade terakhir, orang-orang sudah mulai berpikir dan benar-benar mewujudkan untuk tak perlu lagi antri di depan mesin ATM.

Untuk apa mengambil resiko tinggi mengantongi lembaran uang berjejal di dompet, kalau dengan e-money, bahkan bisa membeli sebungkus nasi goreng di sebuah tengah malam, diantar pula oleh tukang Ojol (ojek online). Tahun ini, sekitar 1.000 kantor cabang bank ditutup sebagai implikasi dari maraknya transaksi ditigital. (detik.com, 24/4/2019) 

Sebelum kertas


Kehilangan kertas, mungkin terdengar aneh, tapi ia bukan utophia. Hidup tanpa kertas, sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru. Dalam sejarah peradaban, manusia pernah hidup tanpa kertas, setidaknya, sebelum memasuki abad ke-2, di Cina.

Sebelum kertas ditemukan, manusia menggunakan batu, kulit hewan (perkamen), pelepah kurma, papyrus, juga daun lontar sebagai media untuk mencatat. Menulis di atas batu, bahkan masih ditemukan di masa Sekolah Rakyat (setingkat Sekolah Dasar) di akhir masa pendudukan Belanda hingga awal kemerdekaan.

Dahulu di sekolah-sekolah, setiap selesai pelajaran, tulisan di atas batu itu akan dihapus, maka setiap pelajar mutlak memilki daya ingat yang kuat. Era sebelum kertas ini menunjukkan dunia masih gagap mengeja teks. Sisi positifnya adalah tradisi tutur (lisan) masih terjaga kuat. 

Lebih jauh ke belakang, di masa kerajaan, selain menulis prasasti di atas batu, catatan-catatan penting, syair dan kisah raja-raja diabadikan di atas daun lontar, dengan menggunakan pisau sebagai alat tulis.

Meski dapat diperoleh dengan mudah, aksara-aksara di daun lontar masih sangat eksklusif. Sumber-sumber temuan tulisan di atas daun lontar umumnya hanya diperoleh di kalangan istana, atau sebagian lagi di rumah-rumah kaum bangsawan. 

Dalam sejarah peradaban Islam, pasca Nabi Muhammad Saw, Khalifah Abu Bakar telah memulai pengumpulan naskah Alquran. Ayat-ayat itu dikumpulkan dari pelepah kurma, kepingan-kepingan batu, juga dari hafalan para hafiz. 

Selanjutnya, masa kepemimpinan Usman bin Affan (sekitar abad ke-7 Masehi), membuat terobosan dengan mengumpulkan ayat-ayat Alquran dalam satu mushaf (ayat-ayat disusun beradasarkan urutannya). Tapi mushaf itu belum cukup efisien untuk jadi media pembelajaran.

Demikian hikayat penggunaan media tulisan, sebelum Tsai Lun dari Cina menemukan kertas yang berbahan bambu, sekitar tahun 101 M.

Hampir dua millenium, kertas telah ikut mendukung lahirnya temuan-temuan baru, juga meluasnya informasi dan media pendidikan. Dalam perspektif ekonomi, kertas adalah satu mata rantai bisnis yang telah menyerap jutaan tenaga kerja manusia.

Tapi, kertas tentu saja tidak hanya tentang menulis. Persoalan efisiensi, juga kampanye kelestarian lingkungan telah menginterupsi laju pertumbuhan industri kertas. Kertas kini harus berhadapan dengan tren penurunan konsumsi.

Tren negatif dan kampanye kesinambungan ekologis

Sejak 2006 hingga 2016, merujuk data FAO, rata-rata konsumsi kertas cetak dunia mengalami penurunan hingga 4,6 persen. Kertas untuk konsumsi kebutuhan tulis-menulis juga rata -rata turun atau negatif 1,3 persen. (kompas.com, 19/3/2019)

Sementara tahun ini, produksi industri kertas nasional juga diperkirakan turun 30% menjadi 7,2 juta ton tahun ini, dibanding tahun lalu sebanyak 10,4 juta ton. Sementara tingkat pemanfaatan kapasitas terpasang (utilisasi) juga tercatat mengalami tren negatif yakni 27%. (kemenperin.go.id, 18/3/2019)

Isu ekologi turut menyumbang tren negatif produksi kertas. Kertas selalu dihadapkan pada isu kesinambungan lingkungan karena bahan dasar dan paparan limbahnya. Kertas sudah lama ditunjuk sebagai biang dari penggundulan hutan, demi menyediakan bahan baku kertas. 


Faktanya, hutan makin menipis. Produksi kertas menjadi salah satu penyumbang besar bagi penggundulan hutan. Kekuatiran yang sudah lama mengancam makan malam kita. Sayangnya, kekuatiran itu tidak mengarahkan kita untuk menunjuk diri: apa yang kita lakukan untuk mencegah penggundulan hutan.

Isu ekologis yang juga banyak menuai perhatian adalah sedotan plastik. Setiap hari warga Amerika membuang sampah sedotan plastic 500 ton. Sementara di Jurnal Science mencatatuntuk tahun 2010 dunia menghasilkan plastik sebanyak 12 juta ton. (kompas.com, 1/3/2017)  

Inovasi dan adaptasi 

Namun, kabar tentang kertas tidak melulu tentang kerusakan lingkungan. Kini bahan kertas tak lagi dimonopoli pohon. Professor Bismarck berhasil mengolah kotoran hewan menjadi bahan pembuat kertas. Penemuan kertas dari kotoran hewan ini dengan sendirinya juga ramah lingkungan, yang juga dikampanyekan oleh para produsen pupuk organik.

Selulosa, bahan baku kertas, diambil dari pohon, kini bisa dicarikan alternatif pengganti. Dengan kotoran hewan, kertas bisa dibuat lebih mudah dan murah dibanding mengambilnya dari pohon. Temuan itu dipaparkan oleh Bismarck dalam 255th National Meeting & Exposition of the American Chemical Society, pada Maret 2018 lalu. (kompas.com, 2/4/18)

Jika akhirnya terwujud, kertas berbahan kotoran hewan ini adalah sebuah langkah yang efektif bagi upaya menciptakan keseimbangan kosmik. Kertas dari tinja hewan diklaim sebagai produk ramah lingkungan karena memanfaatkan yang selama ini terbuang. Selain itu, pembuatan kertas tidak membutuhkan banyak bahan kimia lantaran telah dibantu oleh proses pencernaan hewan.

Soal kelestarian lingkungan beberapa temuan kertas dan plastik sudah digagas dan diproduksi. Para perajin bambu dari Karanganyar, Jawa Tengah, memanfaatkan bambu sebagai alternatif pengganti pipa sedotanProduksi mereka kini mendunia. Sedotan bambu Karanganyar berhasil menembus pasar Korea Selatan dan Jepang (tempo.co, 4/3/19).

Inovasi lainnya, sedotan terbuat dari rumput laut yang memungkinkan langsung dimakan, bahkan dengan citara rasa vanilla atau karamel. (detik.com, 15/12/2017) Untuk mencegah bumi menjadi planet plastik, pengembangan bioplastik sudah dikenal sejak 1990. Sedotan terbuat dari jagung dan serta bunga matahari.

Di Vietnam, biodegrdabale, sedotan berbahan rumput liar digagas oleh Tran Minh Tien. Memiliki aroma alami dan tanpa bahan kimia. Sedotan yang diproduksi oleh Ong Hut Co, kini siap berkontribusi bagi upaya pengurangan dampak kerusakan lingkungan oleh limbah plastik. (mothership.sg, 2/4/2019). Alternatif-alternatif pengganti plastik, setidaknya menjawab tantangan lingkungan yang selama ini menyerang industri kertas.

Tapi kepentingan produksi selalu taat pada prinsip efisiensi dan efektivitas. Isu ekologis mungkin sangat penting, namun itu tidak selalu menyenangkan bagi semua orang. Laju revolusi industri yang kini menapak tahap 4.0, telah mempercepat mimpi manusia modern yang ditopang digitalisasi. 

Yang tak hilang dari kertas

Berapa banyak lapak-lapak bisnis yang terancam gulung tikar jika kertas benar-benar hilang? Dari usaha rumahan foto copy, percetakan, hingga perusahaan kertas, tak semua menyadari era dunia tanpa kertas kini benar-benar telah memecahkan piring mereka.


Tapi, seperti hukum abadi yang selalu berlaku dalam sejarah, perubahan tak menunggu kesiapan. Sebagaimana perubahan yang tak selalu dalam gerak simultan. Memang, keberadaan gawai lebih dari sekadar mengganti kertas, tapi ada sisi humanis yang setidaknya masih selalu dirindukan. Manusia tak ingin menjadi robot. Tulisan di atas kertas tetap tak akan sama jika ia disimpan di dunia maya.       

Apakah ini berarti nafas peradaban kertas masih panjang? Setidaknya kita menyaksikan kemampuannya dalam beradaptasi demi memenuhi kebutuhan manusia. Memang android telah merebut beberapa peran kertas, namun penemuan bahan kertas dari kotoran hewan, telah menjaga visi kertas untuk tetap ramah lingkungan.

Kertas masih akan bertahan lama menangkis isu kerusakan lingkungan, juga terutama karena sampah-sampah kertas memungkinkan didaurulang dalam ragam bentuk dan fungsi.

Nyaris 2000 tahun, kertas telah menjadi bagian dari peradaban manusia. Seribuan tahun lagi atau lebih lama lagi, mungkin kertas masih ada. Bisa jadi dalam wujud yang tak lagi sama. Tapi bau apek, kertas kusam yang robek, atau coretan harian, aroma khas, dan kenangan yang menyertainya tak akan tergantikan oleh e-paper, e-book, google drive atau iCloud.

Artikel Terkait