Kita kadang meragukan apa yang kita ingat pada kejadian kemarin, tetapi kita selalu yakin terhadap apa yang kita tulis pada sepuluh tahun yang lalu.

Menulis adalah cara termudah kita untuk mengingat. Mulai dari hal sederhana seperti ketika kita disuruh ibu ke warung untuk berbelanja kita membawa kertas kecil berisi tulisan barang-barang yang akan dibeli, menulis jadwal mata pelajaran di sekolah, menulis buku harian, hingga menulis sesuatu yang sedikit rumit seperti laporan penelitian, jurnal akuntansi dan administrasi perkantoran yang berbelit-belit.

Jika kita menulis naskah di buku, maka kita akan bisa mengingat selama buku itu masih bisa dibaca dan tidak rusak. Keawetan naskah yang kita tulis bergantung kepada benda yang dipakai untuk menulis baik buku, kertas, kain, dan sebagainya.

Menurut M. Nida Fadlan, Dosen Filologi UIN Jakarta, ketika naskah itu telah berumur lima puluh tahun atau lebih, bisa dikategorikan sebagai naskah kuno atau biasa disebut "Manuskrip".

Salah satu manuskrip yang saya baca dengan judul Nadham Nasihat menjelaskan secara tidak langsung bahwa kita harus menulis untuk saling mengingatkan dalam berbuat kebaikan. Tidak hanya dalam satu dimensi horizontal yaitu kita dan orang lain tetapi juga dimensi vertikal yaitu generasi sekarang dan generasi berikutnya.

Mengenal Nadham Nasihat

Nadham Nasihat merupakan salah satu khazanah manuskrip nusantara yang telah di digitalisasi oleh Kementrian Agama Republik Indonesia. Sebenarnya itu bukan judul asli kitab tersebut karena didalam teks tidak disebutkan judulnya, nama itu diberikan oleh Kementrian Agama karena teksnya berbicara tentang nasihat dan ditulis dalam bentuk nadham.

Naskah ini adalah karya seorang ulama dari kabupaten Purworejo, Jawa Tengah yang bernama Syekh Muhammad Rasyid. Beliau menulis kitab itu dengan aksara Pegon dan berbahasa Jawa. Kini keberadaan manuskrip ini tersimpan di perpustakaan Pondok Pesantren Al-Mansur, Popongan, Klaten, Jawa Tengah. Namun kita bisa mengaksesnya Manuskrip Nusantara Kementrian Agama RI.

Dalam manuskrip ini berisi nasihat-nasihat yang diperuntukan kepada para pemuda terutama para santrinya  dalam menjalankan kehidupan sehari-hari baik dalam konteks keluarga maupun sosial kemasyarakatan.

Berikut adalah kutipan dari halaman terakhir Nadham Nasihat yang sudah di transliterasi:

Naming iki kitab kanggo ngilingaken # maring santri kang ngibadah ora laken

Wong penyakit ngaqal kurang pangeweruhe # iki kitab memoyoke sak sayahe

Naming wongkang bener jejeg i’tiqade # ilang sebel nuli mempeng ngaqaide

Nyander ngaji nora mikir leka leka # sebab kangen suwarga bumine lega

Artinya:

Kitab ini sebagai pengingat, kepada santri (muridnya) yang tidak tekun ibadahnya,

Orang yg sakit akal (jiwanya) tidak luas pengetahuannya, kitab ini memberi penerangan seluas-luasnya

Tapi orang yang kuat akidahnya pasti teguh ibadahnya, hilang rasa bencinya dan rajin ibadahnya

Saat sedang mengaji tidak memikirkan dunia, karena rindu surga (hanya mengharap balasan dari Allah swt) dunianya menjadi lega (tidak tertekan duniawi)*

*Diterjemahkan oleh K.H Sajadi SH MH.

Dalam larik pertama dijelaskan tujuan penulisan kitab tersebut yaitu sebagai pengingat terhadap para santri (murid) yang tidak tekun ibadahnya agar kembali kedalam ketekunan beribadah baik ibadah ritual dengan Tuhan ataupun ibadah sosial dengan orang lain.

Yang disebut santri disini tidaklah hanya para santri yang bertemu dengan Syekh Muhammad Rasyid, melainkan siapapun yang mempelajari kitabnya termasuk murid beliau. Manuskrip adalah sebuah tulisan pengingat lintas generasi.

Menulislah!

Kegiatan membaca dan menulis tidak bisa dipisahkan. Karena membaca akan membuatmu hidup di masa lampau sedangkan  menulis akan membuatmu hidup di masa depan.

Ketika saya membaca kitab (manuskrip) yang ditulis oleh Syekh Muhammad Rasyid, saya merasa  hidup di masa lampau dengan mempelajari latar tempat, waktu dan suasana yang membuat beliau menuliskan nadham-nadam dalam kitabnya. Kesulitan utama saya adalah dalam menerjemah karena saya tidak mengerti bahasa jawa kuno sampai saya dibantu oleh K.H Sajidi. Beliau adalah guru sekaligus sepuh yang ahli dalam bidang kitab kuning dan ahli bahasa jawa kuno. Karena beliau saya bisa menganalisis manuskrip ini.

Sedangkan bagi Syekh Muhammad Rasyid, beliau hidup dan masih bisa tetap mengajarkan ilmunya melalui manuskrip yang beliau tulis meskipun zaman telah berganti.

Kemudian di larik kedua dan ketiga dijelaskan dua tipe orang. Pertama, Orang yg sakit akal (jiwanya) tidak luas pengetahuannya yaitu orang-orang yang masih bodoh, karena itu Syekhh  Muhammad Rasyid membaca kitab ini agar menjadi pencerah dan memperluas pengetahuannya. Kedua, orang yang kuat akidahnya. pasti teguh ibadahnya, hilang rasa bencinya dan rajin ibadahnya.

Sedangkan larik ke empat menjelaskan larik ketiga yaitu salah satu sifat orang yang kuat akidahnya adalah ketika sedang mengaji tidak memikirkan dunia, karena rindu surga (hanya mengharap balasan dari Allah swt) dunianya menjadi lega (tidak tertekan duniawi)

Fokus dengan apa yang dikerjakan sekarang.

Janganlah memikirkan hal lain yang akan mengganggu. Ini berlaku dalam hal apa pun tidak hanya perkara mengaji. Dalam Islam ada istilah Ikhtiar yaitu berusaha bersungguh-sungguh sebaik mungkin dan mengoptimalkan segala daya yang kita miliki.

Dan ikhtiar tidak bisa dipisahkan dengan Tawakal, yaitu berserah diri kepada kehendak Allah swt. Atau hanya mengharap balasan dari-Nya.  Larik keempat menunjukan kesinambungan antara Ikhtiar dan Tawakal.

Syekh Muhammad Rasyid mengajarkan agar kita terus saling mengingat dalam kebaikan dan memberi warisan yang bermanfaat bagi generasi selanjutnya.

Wallahu a'lam bi shawab.