Investor Writing
1 bulan lalu · 48 view · 7 min baca menit baca · Ekonomi 66065_36116.jpg
PINTARSAHAM.ID

Nabung Saham Agresifkan Industri Kertas

Bila menilik hasil kita menabung dalam setahun, rata-rata bunga yang mengambil uang kita sebanyak 1%, sedangkan tingkat inflasi Indonesia rata-rata 3% per tahun. Pada intinya, jika ingin uang kita berkembang, tidak terus-menerus tergerus oleh bunga, jalan satu-satunya untuk kita lakukan adalah berinvestasi. 

Tidak ada larangan bila hanya ingin menabung di bank pada umumnya, tetapi jika pemikiran ingin lebih berjangka panjang, cara seperti investasi merupakan jalan paling disarankan pemerintah untuk mampu mencapai keinginan di masa depan.

Berulang kali pemerintah menanamkan kebijakan menabung saham, bahkan saham bukan lagi memiliki arti investasi, tetapi masyarakat kali ini dikenalkan jika menabung juga bisa dilakukan dengan menanam modal di pasar modal. 

Pun dengan tagar yuk nabung saham menjadi upaya pemerintah untuk membuka jalan pemikiran masyarakat semakin luas mengenai saham. Bukan hanya tagar sebagai kampanye pemerintah, tetapi pemerintah juga telah memberikan fasilitator dengan membuka sekolah pasar modal yang hanya membayarkan uang 100.000 yang nantinya akan menjadi saldo awal untuk menabung di beberapa perusahaan yang kita inginkan.

Saham memiliki 10 indeks sektor, di antaranya; sektor pertanian, pertambangan, industri dasar dan kimia, aneka industri, barang kosumsi, properti, real estat, konstruksi bangunan, infrastruktur, utilitas, dan transportasi, keuangan, perdagangan, jasa, dan investasi, dan manufaktur. 

Saat ini, dalam dunia bursa efek, yang mengejutkan adalah keberadaan industri pulp and paper yang membawa deviden untuk investor. Melansir dari berita market.bisnis.com menjelaskan bahwa berdasarkan data kinerja emiten industri dasar, beberapa kelompok emiten yang menjadi saham penggerak indeks adalah emiten kertas, unggas, dan semen. 

Hal ini terjadi karena kinerja emiten kertas yang positif didorong oleh meningkatnya permintaan dari China, yang menguasai 26% dari total konsumsi kertas dunia, sehingga mengerek harga bubur kertas.

Ketepatan Alasan  Dari Yuk Nabung Saham Dengan Emiten Pulp and Paper

Sejak dulu industri Pulp and Paper merupakan salah satu hasil sumber daya hutan yang sangat penting, karena mampu mengambil peran dalam peningkatan devisa negara ini. Pada tingkat konsumsi kertas perkapita penduduk Indonesia yang terus meningkat dari 10 kg per kapita tahun 1992 menjadi 16,5 kg per kapita pada tahun 1997. 

Namun, krisis moneter pada pertengahan tahun 1997 sangat mempengaruhi konsumsi kertas masyarakat. Pada tahun 1998 tingkat konsumsi turun sampai dengan 13,8 kg per kapita. Hal ini disebabkan karena harga kertas sangat tinggi sehingga volume yang dikonsumsi masyarakat menurun dratis. 

Pada tahun 1999 konsumsi kertas mulai pulih pada angka 14,5 kg dan pada tahun 2000 tingkat konsumsinya dapat menyamai tingkat konsumsi sebelum krisis yaitu sebesar 16,5 kg per kapita. Pertumbuhan produksi kertas di Indonesia pada tahun 1996 mencapai 4.120.490 ton dan tahun 2000 produksi meningkat tajam menjadi 6.849.000 ton. (Arif Ramelan dan Tri Mulyaningsih , 2001).


Beberapa alasan utama yang menjadi dasar pentingnya industri kertas dan bubur kertas adalah produk pulp dan paper harganya banyak ditentukan dalam nilai dolar, komponen bahan baku impor yang digunakan dalam proses produksi nilainya tidak lebih dari 30 persen dan produk pulp and paper cenderung banyak yang ditujukan untuk pasar luar negeri sehingga dalam masa krisis ekonomi yang dihadapi Indonesia, industri ini masih dapat diandalkan dalam membantu penerimaaan devisa negara.

Acuan itulah yang membuat tagar yuk nabung saham semestinya berdampingan dengan emiten industri pulp and paper saat ini. Walaupun kita tahu bahwa saham memang merupakan golongan yang memiliki resiko tinggi, tetapi sebanrnya menabung saham juga memiliki imbal hasil yang juga sama tingginya dengan resiko yang kita ambil. 

Namun kita semestinya menilik dari sejarah kehidupan kertas dari tahun sebelumnya hingga modern ini, industri kertas memiliki resiko lebih kecil dari beberaoa sektor emiten lainnya. Karena pada hakekatnya saat kita akan menabung saham di pasar modal, yang diperlukan oleh kita adalah melihat tingkatan resiko yang akan kita ambil.

Kendatipun di modern ini industri pulp and paper mengalami kemerosotan karena era digitalisasi, bukan menjadi acuan para investor untuk tidak menanam modal terhadap sektor industri pulp and paper

Sebab lainnya, melansir dari laman cermati.com acuan di tahun 2018 indeks LQ45 (daftar 45 saham pilihan dengan kapitalisasi pasar tinggi) merosot lebih jauh 10,07%. Namun, di tengah pelemahan tersebut, ada sejumlah saham penghuni indeks LQ45 yang mencetak kenaikan harga saham tertinggi (ytd), di antaranya kenaikan harga saham tertinggi dimiliki oleh emiten Pulp and Paper dengan kelonjakan 122,22%.

Sedangkan jika terjadi kemerosotan harga saham terhadap industri pulp and paper tidak akan membuat kertas mengalami kelangkaan, justru hal ini diperkuat dengan mengembangkan wilayahnya terhadap sumber daya alam sebagai potensi terbesar pada basis lokalitasnya, dan yang akhirnya menjadikan Indonesia sebagai eksportir ke-9 di seluruh negara. 

Hasil menabung saham juga berpotensi memberi dampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja dan mendorong pengembangan wilayah dan pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain pengembangan sektor pulp and paper dalam devisa negara juga memiliki resiko lingkungan yang cukup besar. Hidup di atas kertas pada zaman modernitas ini memanifestasikan kita untuk menjunjung tinggi pertumbuhan sebagai nilai tertinggi, dan demi nilai itu kita harus berkorban apa pun. 

Sebagai individual investor kita juga didorong untuk segera meningkatkan emiten untuk menggenjot asset investor membawa deviden untuk mereka.

Dan apakah tagar yuk nabung saham dari pemerintah bisa mempengaruhi memicuh keinginan untuk ekspansi sumber daya alam dalam beberapa sektor indeks yang berhubungan dengan lingkungan? 

Deforestasi adalah ketakutan negara dan kita bila permintaan lebih banyak dipasok, tanpa memperhatikan timbal balik terhadap lingkungan. Sehingga, masyarakat pun ikut menanggung akibatnya.  Lantas bagaimana peran pemerintah menghapadapi permasalahan tersebut?

Sertifikasi Ekolabeling Green Force Hidup Di atas Agresif Emiten Kertas. 


Dari strategi produksi, Indonesia yang memiliki iklim tropis, lahan yang relatif luas, dan memiliki keanekaragam hayati, secara alami mampu dengan efisien mengahasilkan serat alam, dan dari potensi pasar pun masih memiliki celah yang cukup lebar secara nasional maupun internasional untuk melakukan perdagangan. 

Menurut APKI (2007), jumlah perusahaan pulp dan paper Indonesia terus berkembang. Peningkatan kebutuhan bahan baku dalam bidang industri perkayuan seperti pulp and paper yang menghabiskan banyak sumber daya alam sebagai bahan baku, telah mendorong pemerintah untuk menindaklanjuti prospek Ekolabeling terhadap Industri Pulp and paper.

Bila deviden dari emiten sektor Pulp and Paper berkembang pesat, maka bahan baku dalam bidang industri juga akan memasok besar-besaran. Maka terjadilah deforestasi besar-besaran. Sedangkan hutan memiliki karakteristik sebagai sumber daya alam bersifat terbuka dari publik dan barang publik. 

Menurut Ivan Yusfi Noor, “Kebutuhan kertas dunia hingga tahun 2020 diprediksi akan tumbuh rata-rata 2,1% per tahun. Atas dasar prediksi tersebut ada peluang bagi negeri ini untuk mengembangkan industri pulp dan kertas.” 

Sehingga investor dapat mempercayai bila sektor ini memberikan deviden kepada mereka, pemerintah perlu memberikan jaminan keberlanjutan bahan baku. Untuk menyiasati hal tersebut, prospek ekolabeling juga menjadi solusi untuk menekan deforestasi mengenai kehidupan di atas agresignya emiten sektor pulp and paper.

EkoLabelling merupakan metode sertifikasi yang terkait dengan lingkungan dan sertifikasi ini dipraktekkan oleh banyak negara di dunia. Eko Label merupakan label yang mengidentifikasi secara keseluruhan, membuktikan preferensi lingkungan dari produk atau jasa dalam produk/kategori layanan tertentu. 

Saat perusahaan akan mengekspor produk, yang diperlukan oleh negara memverifikasi keseluruhan produk yang bukan hanya diekspor di negara amerika, china, tetapi ke keseluruhan negara importir lainnya. 

Oleh karena itu, ekolabeling sangat diperlukan untuk mengidentifikasikan bahwa produk tersebut ramah lingkungan. Pemasaran dengan propek Ekolabeling mampu dengan efisien menarik investor lain untuk membuka saham di sektor ini.

Melakukan labeling terhadap produk Pulp and Paper dimulai dari proses pengolahan hutannya, pengangkutan kayu dari hutan ke pabrik, Proses dalam industri tidak merusak lingkungan disamping indicator lain seperti hemat air dan energi, kesejahteraan masyarakat dan karyawan pabrik.

Produk yang dihasilkan tidak merusak apabila digunakan/dimanfaatkan, Pengangkutan dan penyebaran dari produk ke konsumen tidak merusak lingkungan, Limbah dari produk yang telah selesai dipakai tidak merusak lingkungan.

Dewasa ini digitalisasi tengah semarak menjadi salah satu alasan industri pulp and paper mengalami penurunan, tetapi bila memahami bahwa bahasa tulis sangatlah amat penting, kita tahu bahwa realitas tidak akan bisa dijelaskan bila tidak menggunakan bahasa tulis-menulis. 

Apa pun atau siapa pun yang berurusan dengan otoritas perpajakan, sistem pendidikan, atau birokrasi komplek lainnya tahu bahwa kebenaranya nyaris tidak penting, melainkan apa yang tertulislah di atas kertas itu jauh lebih penting.


Jika semakin banyak investor menanam saham di dalam sektor pulp and paper, juga menjadikan Indonesia semakin meningkatkan devisa negara, dan negara akan semakin memasok bahan baku, maka yang diperlukan pemerintah semestinya semakin menggenjot sertifikasi ekolabeling. 

Sertifikasi ini bahkan mampu mengurangi deforestasi dengan menggunakan indikator yang perlu diikuti oleh badan usaha dengan mendapatkan Hak Pengusahaan Hutan dan/atau Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dihutan alam. Para pemegang Hak Pengusahaan Hutan dan/atau Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayuuntuk melakukan pengelolaan hutan alam produksi lestari. 

Pengelolaan Hutan Alam Produksi Lestari (PHAPL) adalah strategi dan pelaksanaan kegiatan untuk memproduksi hasil hutan alam yang menjamin kelestarian fungsi produksi, ekologi, sosial dankepatuhan terhadap regulasi.

Bila dunia kertas mengalami kelangkaan, yang perlu dilakukan oleh kita adalah membuka peluang di pasar modal dengan menanam modal di emiten yang telah diverifikasi bahwa emiten tersebut mendapatkan ekolabeling ramah lingkungan. Seperti halnya, menanam modal di emiten yang diberikan ijin oleh OJK. 

Sedangkan peluang tagar yuk nabung saham bisa lebih dikerucutkan terhadap sektor pulp and paper karena dewasa ini sektor ini tidak mengalami fluktuatif yang terlalu terlihat di pasar modal. Apa yang dilakukan pemerintah dan badan usaha telah berhasil membuat kertas produk Indonesia semakin jaya. 

Maka, sebagai masyarakat yang berpikiran jangka panjang, #yuknabungsahamsektorPulpAndPaper sebagai bentuk peluang Indonesia semakin jaya dalam sektor ini.

Artikel Terkait