12 Rabiul Awwal 1443 H, tepatnya 19 Oktober 2021 umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. Hari Besar Islam ini merupakan memperingati hari lahir tokoh nomor satu paling berpengaruh sepanjang masa merupakan hari rasa cinta dan mengenang perjuangan dalam menyebarkan risalah kepada manusia.

Lahir di Mekah pada tahun Gajah, ibu Aminah dan Ayah Abdullah. Ditinggal orang tua sejak kecil, kemudian diasuh kakeknya Abdul Muthalib. Istri Khadijah binti Khuwailid, berjuang bersama Rasulullah dalam menyebarkan misi dakwah. Cucu kesayangan Hasan Husein, buah hati dari Fatimah dan Ali bin Abi Thalib.

Memperingati Maulid, di Aceh sangat semarak dan acaranya sampai tiga bulan ke depan. Tamu diundang dari kampung tetangga untuk bersilaturahmi dan makan bersama ke kampung yang mengadakan acara maulid dan dilanjutkan dengan syiar dakwah. Semaraknya Maulid di Aceh terasa bernuansa Islami.

Nah, dalam memperingati Maulid 1443 H, saya akan menggoreskan pena tentang Nabi Muhammad bin Abdullah. Menulis segala sesuatu yang berkenaan dengan kehidupan Rasulullah dapat mewujudkan rasa cinta dan penghargaan yang tinggi serta mengukuhkan nilai dan pengaruh dalam kehidupan umat.

Hal itu disampaikan peneliti dan penulis sejarah kehidupan Rasulullah, di antara penulis itu ada Shan’a Ubaid bin Syiriah al-Jarhami. (Samih Kariyyam, Indahnya Ramadhan Rasulullah, 2005: 4).  Dilanjutkan dalam buku ini, ada tiga pakar dalam bidangnya masing-masing menulis tentang Nabi Muhammad, yaitu:

Ahmad Amin, menulis sisi pemikiran berdirinya Negara Islam yang dibentuk oleh Rasulullah. Dalam tulisan ini Ahmad Amin menghasilkan kesimpulan bahwa sisi pemikiran dalam Islam sangat kuat dan tumbuh subur, dan juga sisi kehidupan pemikiran ini memengaruhi wawasan keagamaan, kesusastraan, dan filsafat.

Abdul Hamid, menulis kehidupan politik bangsa Arab pada abad pertama hijriah. Bangsa Arab pada masa kehidupan nabi memiliki kebijakan luar negeri yang sangat rinci dan politik dalam negeri yang aktif. Kedua kebijakan itu dipengaruhi oleh kehidupan bangsa Arab sendiri dan juga bangsa Asing.

Thaha Husein, menulis tentang sisi kehidupan kesusastraan di dalam Islam. Hal ini merupakan permasalahan yang membutuhkan penelitian seni dan bahasa yang terjadi pada masa nabi dan setelahnya. Sehingga dapat memberikan kesimpulan dan gambaran yang beraneka warna dalam kehidupan umat Islam.

Nabi Muhammad menempati posisi unik di muka bumi, karena cucu kesayangan Abdul Muththalib ini sebagai pemimpin spiritual undang-undang Ketuhanan juga sebagai kepala negara atau pemimpin pemerintahan Islam yang tidak dapat dibantah (unquestionable leader). (Khalid Ibrahim Jindan. 1994: 1).

Kepemimpinan nabi identik dengan perjanjian, di sini betapa piawainya Nabi Muhammad dalam berdiplomatik. Satu di antara perjanjian tersebut adalah Perjanjian Politik Piagam Madinah. Perjanjian ini dibuat untuk menjaga keamanan, ketenteraman, dan perdamaian dengan kaum Yahudi.

Perjanjian ini ditetapkan hak kemerdekaan tiap-tiap golongan memeluk dan menjalankan agamanya, hak kemerdekaan berpikir, hak kehormatan jiwa, negeri, dan harta. Ini salah satu perjanjian politik yang belum pernah dilakukan oleh nabi-nabi terdahulu yang merupakan suatu peristiwa baru dalam lapangan politik dan peradaban. (Rus’an, 1981: 97-98).

Menurut Akram Dhiyauddin Umari (dalam Jaih Mubarok, 2004: 49-50) isi Piagam Madinah secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: perjanjian Nabi Muhammad dengan Yahudi dan perjanjian dengan Muhajirin dan Anshar.

Dengan adanya piagam tersebut penduduk Madinah bisa hidup dengan tenang dan damai serta setiap pemeluk agama saling menghormati. Suku Auz dan Khazraj sebelumnya saling bertikai, didamaikan oleh nabi. Yahudi (Bani Quraiza, Nazhir, dan Bani Qainuka) bersatu dengan kaum muslim, muhajirin dan anshar.

Perjanjian Piagam Madinah, dewasa ini dikenal dengan istilah toleransi. Jeffrie Geovanie, di buku “Civil Religion: Dimensi Sosial  Politik Islam” menyebutkan bahwa toleransi adalah rintisan jalan ke arah inclusivisness: keterbukaan untuk melihat kemungkinan pendapat orang lain benar dan kemungkinan pendapat kita salah.

Kesadaran ini merupakan bentuk kesadaran pikiran dan hati yang dapat dicapai melalui paduan serasi antara kematangan rasional (akal sehat), kearifan diri, dan kebijaksanaan hati. Inilah sejatinya toleransi secara inklusif, yang menjadi salah satu nilai fondasi dasar demokrasi modern.

Karena itu, pencapaian nabi pada periode Madinah dinilai sosiolog terkemuka Amerika, Robert N. Bellah sebagai suatu pencapaian yang luar biasa modern karena menjunjung tinggi prinsip toleransi dan egalitarianisme antarwarga.

Sebagai pemimpin spiritual, nabi membawa risalah dari Allah untuk disampaikan kepada manusia. Dalam hal ini banyak nabi-nabi palsu bermunculan dari sejak awal Islam hingga hari ini. Kenapa nabi-nabi palsu terus bermunculan?

Dari masa ke masa terus muncul nabi nabi-nabi palsu, pada masa nabi orang yang mengaku sebagai nabi adalah Musailamah al-Kadzdzab, di Indonesia pun ada yang mengaku sebagi nabi bernama Lia Aminuddin dan Ahmad Musaddiq.

Dalam Islam, soal kenabian adalah ajaran yang final. Nabi Muhammad adalah nabi terakhir dan tidak ada lagi nabi setelahnya. Dalil yang menegaskan hal ini adalah (QS. 33: 40). Sir Muhammad Iqbal mengatakan “Gagasan utama Khatamul Anbiya adalah tidak adanya penyerahan diri secara spiritual kepada siapa pun setelah Nabi Muhammad.

Pemikir Islam kelahiran kota Sialkot, India yang mempopulerkan konsep filsafat khudi ini menyampaikan bahwa secara teologis ajaran yang disebut Islam telah sempurna dan abadi. Sementara orang yang mengaku nabi merupakan orang yang tidak patuh kepada Islam. (Armansyah, Jejak Nabi Palsu, 2007: 30).

Menjawab pertanyaan di atas, kenapa nabi-nabi palsu bermunculan? Konsep ini bisa diperdalami dalam konsep Khatamul Anbiya'.

Melalui goresan pena ini bahwa keteladanan kehidupan Nabi Muhammad dapat diteladani dan diamalkan dalam kehidupan berbangsa dan beragama, terkhusus bagi pemimpin atau pemangku jabatan yang hidup di negeri pluralitas sehingga dapat mewujudkan kehidupan damai dan harmoni.

Sementara itu orang yang mengku sebagai nabi dan utusan Allah untuk manusia setelah Nabi Muhammad merupakan orang yang tidak taat pada Islam ataupun memahami Islam secara berlebihan, pemikiran seperti ini perlu diwaspadai agar tidak jatuh ke jalan yang salah.