Buku Essence of Tawhid and Lessons from the Nahjul Balaghah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Mendaras Tauhid dan Mengeja Kenabian karya Sayid Ali Khamenei (Imam Khamenei) menjelaskan tentang pandangan dunia tauhid dan persoalan kenabian.

Buku ini merupakan isi khotbah atau perkataan Ali bin Abi Thalib yang dikenal dengan Nahjul Balaghah (Puncak Kefasihan). Imam Khamenei adalah pemikir Islam asal Iran, ia getol menyuarakan sikap anti-imperialisme Barat dan hegemoni negara adikuasa, di saat negara-negara muslim lainnya memilih dalam kepasifan.

Dalam tulisan ini kita akan berbicara tentang aspek kenabian, yang mana salah satu rukun iman umat Islam adalah mempercayai adanya nabi. Nabi merupakan manusia biasa yang dipilih Allah dan merupakan hak prerogative-Nya dalam rangka menyampaikan wahyu kepada manusia.

Misi nabi dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad sama-sama mempunyai misi dari Allah. Misi tersebut adalah dakwah dalam hal akidah yang esensinya iman kepada Allah dan misi dalam hal syariat dan akhlak.

Dalam ranah filsafat Islam, materi tentang kenabian merupakan pembahasan yang menarik untuk ditelaah secara mendalam. Aspek kenabian ada yang berpendapat bahwa nabi tidak perlu diutus ke permukaan bumi dan menolak kenabian dengan alasan akal sudah memadai untuk membedakan antara yang baik dan buruk.

Menolak kenabian berarti pengingkaran terhadap kenabian, ini yang dinamakan dengan ateis dalam Islam yang disebutkan oleh Abdurrahman Badawi di Sejarah Ateis Islam: Penyelewengan, Penyimpangan, Kemapanan. Badawi menyebutkan bahwa dalam Islam ada ateis; persoalannya bukan pengingkaran terhadap Tuhan, melainkan pengingkaran terhadap kenabian yang dilontarkan oleh filosof Islam.

Mendaras Tauhid dan Mengeja Kenabian menerangkan kepada pembaca dengan jelas tujuan dari diutusnya nabi ke permukaan bumi ini dan pentingnya peran nabi bagi kehidupan manusia.

Sebelum Nabi Muhammad diutus menjadi nabi, kondisi ketika itu berada di titik kegelapan dalam kehidupan manusia yang dikenal dengan zaman jahiliah. Pada zaman ini, kata Ali bin Abi Thalib; manusia mengalami dua jenis kekurangan, kekurangan material dan spiritual.

Jenis kekurangan material taraf kesejahteraan dan keamanan sosial sangat rendah, sementara kekurangan spiritual masyarakat kosong dari jalan hidup yang bersih. Kekosongan ini merupakan penderitaan terbesar bagi manusia dan masyarakat secara umum karena mereka tidak berusaha mencari tujuan mulia dalam hidup.

Keadaan masyarakat selama zaman jahiliah seperti masyarakat yang tanpa tujuan dan menyimpang dengan tujuan-tujuan dan keinginan-keinginan yang destruktif. Nah, dalam masyarakat yang menyimpang dan tersesat inilah, para nabi diangkat dan diutus kepada umat manusia.

Ali bin Abi Thalib, salah satu sahabat paling dekat dengan nabi menyebutkan satu demi satu tugas nabi dengan mengatakan bahwa “Memberikan peringatan melalui tanda-tanda yang jelas dan mengingatkan mereka dengan hukuman.”

Nabi datang untuk mengatakan kepada masyarakat dengan tanda-tanda peringatan dan azab yang telah menimpa bangsa terdahulu di sepanjang sejarah dan untuk mengatakan kepada manusia bahwa mereka pun akan mengalami hukuman yang sama apabila mereka mengikuti cara-cara (hidup) bangsa-bangsa sebelumnya.

Khalifah keempat ini melukiskan situasi selama zaman jahiliah dan menunjukkan kesulitan-kesulitan dan bencana-bencana yang membahayakan pikiran, hati dan spiritualitas masyarakat yang menghalangi jalan-jalan petunjuk kepada manusia dan menyesatkannya, kesulitan yang tidak berhubungan dengan kehidupan materi dan kesejahteraan manusia.

Ali bin Abi Thalib mengatakan:

“Pada waktu itu, manusia telah terjatuh ke dalam kemungkaran yang dengan itu, tali agama telah diputuskan, tiang-tiang agama telah terguncang, prinsip-prinsip telah dicemari, sistem telah jungkir balik, pintu-pintu menyempit, lorong-lorong menggelap, petunjuk sudah tidak dikenal lagi, dan kegelapan  merajalela. Allah tidak ditaati, setan diberi dukungan dan keimanan telah dilupakan. Akibatnya, tiang-tiang agama runtuh, jejak-jejaknya tak terlihat, lorong-lorongnya telah dirusakkan dan jalan-jalannya telah binasa.”

Pesan yang disampaikan di atas bahwa nabi diangkat dan diutus ke permukaan ini membawa manusia ke jalan yang lurus dari kehidupan yang gelap gulita tanpa ada tujuan dalam melangkah serta menghidupkan spiritualitas dari diri serta mencari tujuan kehidupan yang baik.

Ali bin Abi Thalib mengemukakan bahwa,

Dalam masyarakat-masyarakat yang dikuasai oleh kebodohan dan keterasingan sekalipun kehinaan dan ketaksenonohan membayang-bayangi seluruh tujuan dan aspirasi manusia, sementara kelaparan, ketakutan, penyakit, penahanan, kerusakan dan kebingungan mengancam masyarakat yang menakjubkan masyarakat tersebut begitu toleran dan berdamai dengan para penindas.

Inilah apa yang disebut dengan subversi dan ujian (fitrah), sesuatu yang membawa seseorang kepada kecemasan dan tipu daya, yang menyebabkan kerusakan hati dan manusia dan yang meluluhlantakkan kehidupannya secara utuh. Sebenarnya, di bawah kondisi inilah para nabi diutus, demikian kata Ali bin Abi Thalib.

Nabi tidak semata-mata diutus untuk menghilangkan kemiskinan, membangun kesejahteraan sosial, mengurangi kebodohan dan mengajar manusia membaca dan menulis. Namun masing-masing dari bagian ini merupakan satu keutuhan yang mengandung tujuan-tujuan para nabi.

Tujuan-tujuan misi dari nabi adalah untuk menumpas penyimpangan, alienasi (keterasingan) dan kebingungan manusia serta membangkitkan semangat spiritual manusia. Realisasi tujuan ini, bagaimanapun diikuti oleh kesejahteraan material, keamanan sosial, penghapusan kebodohan, dan perbedaan-perbedaan kelas.

Beberapa misi nabi di atas menambah keyakinan kepada kita bahwa nabi diutus ke permukaan bumi benar-benar memperbaiki kehidupan manusia melalui pesan-pesan yang disampaikannya. Walaupun manusia disempurnakan oleh akal, tidak tertutup kemungkinan manusia tidaklah sempurna. Dari itu, misi nabi diutus ialah menumpas kebodohan dan membangkitkan spiritual.

Nabi diutus ke permukaan bumi membawa kebenaran dan sebagai petunjuk jalan keselamatan, teringat dengan salah satu group qasidah Nasida Ria yang legendaris dengan judul Nabi Muhammad Mataharinya Dunia,

Di bumi ada para nabi, utusan Robbul Izzati

Membawa kebenaran, menjaga kezaliman, petunjuk jalan keselamatan

Nabi Muhammad Nabi akhiruzzaman, rahmat bagi umat di seluruh alam

Nabi Muhammad mataharinya dunia, yang bersinar abadi sepanjang zaman

Nabi Muhammad bagai purnama, di tengah malam gelap gulita

Nabi Muhammad bagai pelita, cahayanya di atas cahaya

Wahai Kaum Muslimin Muslimat, sampaikan salawat salam.

Perlu diketahui bahwa para nabi dipilih dari kelas masyarakat yang tertindas seperti Nabi Muhammad yang dilahirkan dari rumah sederhana dan nabi Musa dilahirkan dari keluarga yang tertindas di kalangan Bani Israil yang tinggal di bawah tekanan yang sulit dan pahit.

Masyarakat terbagi dua kelas, kelas yang mempunyai otoritas atas masyarakat yang dinamakan dengan mustakbirin dan kelas masyarakat yang dipandang lemah, ditindas, dan tidak memiliki otoritas apa pun yang dinamakan dengan mustadh’afin. Dari kelas tertindas inilah para nabi berasal.

Sebagaimana diungkapkan oleh Ali bin Abi Thalib dalam khotbahnya, di mana para nabi adalah termasuk golongan mustadh’afin dan orang-orang seperti mereka yang telah ditindas dan ditekan penuh kebebasan otoritasnya untuk melakukan suatu tindakan tanggung jawab pada masyarakat.