Nama saya Aldina Nungki Listiantina dan biasa dipanggil dengan Ina. Saya lahir tanggal 07 Agustus 2003 di Sragen. Saya adalah anak terakhir dari dua bersaudara dan memiliki 1 satu kakak laki-laki yang usianya sembilan tahun lebih tua dari saya. 

Kemudian ayah saya seorang pensiunan TNI-AD dan ibu saya seorang ibu rumah tangga. Kakak saya seorang wirausaha yang usahanya kecil-kecilan online shop di bali, saya terlahir dari keluarga yang sederhana.

Melalui nama saya yang diambil dari kata “alda”, orang tua saya mengharapkan kelak dikemudian hari menjadi seorang pemimpin yang baik. Saya masuk taman kanak-kanak saat berusia 5 tahun. Setelah lulus dari TK, saya tidak diizinkan oleh ayah masuk ke sekolah swasta. Karena ayah saya mempunyai prinsip yaitu carilah sekolah negeri, sebab sekolah negeri mengajarkan kita norma-norma dalam bermasyarakat.

Pada usia 7 tahun, saya melanjutkan sekolah SD yang tidak jauh dari rumah saya, yaitu SD NEGERI 1 SRAGEN. Sejak sekolah, saya ingin selalu berusaha mencari sesuatu yang baru, karena lingkungan sekolah tidak jauh dari rumah. 

Setelah lulus SD, saya ingin masuk ke SMP boarding school tetapi tidak diizinkan oleh ayah. Kata ayah saya carilah sekolah negeri sampai kamu kuliah nanti. Akhirnya saya masuk ke SMPN 5 SRAGEN.

Pada saat masuk ke SMPN 5 SRAGEN melalui jalur nilai ujian nasional. Pada tingkat ini, saya mencoba keterampilan non-akademik dengan mengikuti kegiatan PMR.

SMAN 1 SRAGEN, salah satu SMA terbaik  di Sragen, adalah tempat saya bersekolah setelah lulus dari SMP. Ini adalah waktu yang menyenangkan sebagai seorang remaja. 

Dipertengahan semester awal tahun 2020 waktu itu dilanda pandemic covid-19 yang dimana semua pembelajaran berbasis online selama 2 tahun. Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat masa dimana penerimaan mahasiswa baru, saya mencoba mengikuti SBMPTN dan mendaftar Polstat STIS. Tetapi, sayang sekali saya tidak lolos masuk ke universitas dan kedinasan yang sudah saya impikan sejak kelas 10.

Terlepas dari rasa kecewa, saya tidak ingin terlalu lama untuk sedih. Saya langsung mencoba mendaftar ke UNS, walaupun melalui jalur mandiri. Karena saya takut tidak mendapatkan perguruan tinggi negeri. 

Saya bangga telah diterima di sana, karena UNS salah satu perguruan tinggi negeri terbaik. Tentu saja, dari sini saya akan memulai awal dengan serius. Saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mencapai tujuan saya.

Menjadi seorang mahasiswa itu tidak semudah yang dibayangkan. Karena mulai dari sinilah kita diajarkan kehidupan yang keras dan mandiri, sudah jauh dari orang tua dan bekerja keras untuk mencapai kehidupan masa depan.

Memulai beradaptasi dengan lingkungan perkuliahan yang tidak mudah untuk dijalani. Terkadang merasa mengeluh dengan tugas-tugas yang harus dikerjakan. Serta menjadi anak kost itu kita akan dituntun untuk lebih mandiri dan dewasa.

Waktu SMA ingin sekali merasakan menjadi anak kost, setelah mengalami menjadi anak kost berat juga. Sebab menjadi anak kost akan mengalami perubahan keseharian yang mereka lakukan saat di rumah.

Banyak sekali yang mengalami perubahan setelah ngekost itu. Halnya dulu itu kita dirumah dilayani oleh orang tua tetapi tidak dengan ngekost, kita melayani diri sendiri. Dimana kita harus bisa mengatur keuangan sendiri, memanajem waktu dengan baik. Tetapi banyak mahasiswa yang gagal tentang hal itu. 

Akhirnya kita tidak ada tabungan dan tidak bisa memaknai waktu. Anak kost sangat identik dengan hidup apa adanya bukan ada apanya. Kita bisa makan itu sudah bersyukur, tetapi tidak semua anak kost begitu. 

Selain itu, masalah yang sering dialami mahasiswa adalah kost mereka yang kurang nyaman. Karena fasilitasnya kurang lengkap dan tidak bersosialisasi dengan penghuni kost lain.  Nah inilah kehidupan yang benar - benar mengharuskan kita untuk mandiri.

Kehidupan anak menjadikan perubahan besar dalam kehidupan mahasiswa yang harus berkuliah jarak jauh dengan orang tua dan daerah asalnya. Banyak hal yang dapat merubah dan berdampak positif bagi anak kost. 

Karena mereka dituntun untuk mandiri jauh dari orang tua, mengatur keuangan sendiri, dan lebih mengenal diri sendiri. Menjadikan pola pikir yang berkembang kita akan lebih banyak menilai dan melihat dari diri sendiri akhirnya kita merenung dan berpikir dengan bulat untuk masa depan, serta dapat berkonsentrasi penuh, lebih bisa menghargai waktu dan mengatur agenda. 

Karena sebagai mahasiswa waktu itulah sangat penting, sebab anak kost yang jauh dari keluarga ingin sekali rasanya untuk pulang ke rumah. Dan terdapat dampak negatifnya yaitu mereka akan merasa bebas dari peraturan orang tua dan sekarang banyak mahasiswa salah dalam bergaul. 

Sehingga mereka melakukan hal-hal yang menyimpang dari norma-norma kesusilaan dan kesopanan. Memanfaatkan uang bulanan dari orang tua untuk bersenang - senang.