Hai namaku Meisa Chira, bisa dibilang aku adalah seorang introvert, orang-orang bilang aku itu sombong, sangat pendiam, aku lebih suka menyendiri dan menghindari keramaian. Sebenarnya itu bukan kemauanku namun faktor lingkungan keluarga yang membuatku menjadi pribadi yang seperti itu. 

Cerita ini dimulai sejak aku menempati bangku SMP hingga SMA. Dari sejak SMP orang tuaku sangat mengatur aktivitasku, bahkan caraku berpakaian ditentukan oleh mereka, jika aku tidak menuruti kata-katanya aku akan dimarahi seharian penuh.

Pada suatu hari ada tugas kelompok di rumah temanku, namun sering kali aku tidak diperbolehkan untuk pergi, sekalinya boleh aku akan diantar dan ditemani hingga selesai. Pada saat libur-libur semester pun aku selalu di rumah tidak ada aktivitas sama sekali selama itu, aku merasa sangat tertekan dengan kehidupanku, aku hampir putus asa dengan keadaan yang aku jalani.

Hingga pada akhirnya aku memasuki bangku SMA itu pun sekolah yang sudah ditentukan oleh kedua orang tuaku, dari sinilah aku mulai menemukan kembali cahaya kehidupanku, saat itu usiaku memasuki tujuh belas tahun dan aku mulai berani memberontak kepada orang tuaku karena aku merasa bahwa aku sudah dewasa dan tidak perlu diatur lagi dalam perihal apa pun.

Di sinilah aku bertemu dengan teman laki-laki anggap saja namanya Iki kebetulan kita menjadi teman satu kelas, dia sangat baik kepadaku, dia perhatian dan aku sangat menyukainya, baru kali ini ada orang lain yang sangat peduli denganku, tiga bulan berlalu aku dan Iki menjadi lebih dekat dari seorang teman biasanya. 

Aku sangat senang bisa kenal dengan Iki, aku yakin Iki bisa menjadi teman yang sangat baik untukku, namun keceriaanku hanya berlaku saat aku bersama Iki dan di rumah aku menjadi seorang pendiam dan pemurung. Aku bercerita sedikit tentang Iki dan orang tuaku mulai mempercayaiku bahwa aku aman bersama Iki.

Aku merasa semakin senang dan sangat nyaman bersama Iki, rasanya aku tidak mau berpisah sedetik pun dengan dia. Dua tahun sudah berlalu bersama Iki, disekolah setiap hari aku bisa bertemu dengan Iki namun setiap pulang sekolah kita selalu menyempatkan untuk bermain keluar.

Hampir seluruh wisata alam dan wisata kota pernah aku datangi bersama Iki, aku sangat bahagia bertemu dengan orang baik dan perhatian kepadaku, Iki seperti malaikat bagiku, berkat kedatangannya ke dalam hidupku aku dapat pergi ke mana pun yang aku mau, padahal dulu aku hanya berdiam diri di rumah. Aku sangat bergantung pada lki.

Pada suatu saat Iki memperlihatkan sisi keburukannya, dia sangat marah dan memukulku hingga lebam, hanya karena aku tidak mau mendengarkannya. Itu benar-benar membuatku sangat terkejut, aku tidak menyangka Iki bisa melakukan hal seperti itu.

Mungkin aku memang salah pikirku saat itu, jadi aku memutuskan untuk memaafkannya, tetapi tidak dengan orang tuaku mereka mengetahuinya dan ingin membalas perbuatannya itu dan aku dilarang untuk bermain lagi dengan Iki, saat mendengarnya aku marah dan aku langsung pergi dari rumah untuk bertemu Iki.

Saat itu rasanya aku tidak ingin pulang, karena bagaimana pun Iki dia adalah orang yang sangat berarti dalam kehidupanku, aku belum pernah menemukan kenyamanan yang seperti itu sebelumnya. Aku selalu memaafkan semua kesalahannya dan berharap bahwa Iki dapat berubah menjadi lebih baik.

Namun pada akhirnya Iki selalu mengulangi perbuatannya itu ketika dia sedang marah bahkan lebih parah dari yang sebelumnya, aku mulai kehilangan lagi keceriaanku aku mulai diam dan murung seperti dulu, sudah hampir dua minggu aku selalu menangis dimalam hari.

Kemudian aku memutuskan untuk menjauhi Iki, sebenarnya itu sangat sulit bagiku untuk membiasakan diri tanpa orang yang selalu menemaniku setiap harinya. Tapi ternyata orang yang selama ini aku anggap malaikat dia juga bisa menyakitiku.

Tetapi aku sadar, aku harus bangkit dari keterpurukannku, aku tidak boleh stuck dengan kehadiran Iki, suatu saat aku akan menemukan orang-orang baru yang jauh lebih baik.  Sejak saat itu aku mulai terbuka dengan kedua orang tuaku, saling berbincang apa mauku agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.

Percayalah kedua orang tua itu tahu apa yang baik untuk kita meskipun terkadang mereka menggunakan cara yang kurang tepat. Tidak semua rumah memberikan kenyamanan yang sama, bisa jadi kenyamanan itu datang dari orang lain atau di tempat lain.

Dari situlah aku belajar untuk ke depannya agar lebih berhati-hati dalam memilih teman. Aku juga berusaha berubah menjadi lebih baik lagi, dan aku mulai suka berinteraksi dengan orang-orang yang aku jumpai. Apa pun itu, pasti akan dapat menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk kita.