Sepuluh tahun lebih yang lalu, saya mendaftar program nasional pengiriman guru ke luar jawa yang dikirim oleh ikatan alumni kampus via sms. Bonek, bondo nekat memang waktu itu karena saya tidak meminta ijin Mama. 

Setelah ada pengumuman diterima barulah saya memohon doa restu beliau agar rela melepas saya pergi merantau selama setahun. 

Berhasil melalui berbagai seleksi, kami akhirnya diberangkatkan secara resmi ke berbagai penjuru negeri yang kemudian disebut daerah 3t (terdepan, terluar dan tertinggal). 

Setelah sebelumnya kami dididik dan dilatih ala militer selama seminggu lebih sebagai bekal agar jiwa ketahanmalangan kami terasah. Ini adalah salah satu program terobosan pemerintah untuk menyetarakan pendidikan di nusantara yang memakan tidak sedikit anggaran.

Bahkan kami digadang-gadang menjadi solusi peningkatan SDM guru Indonesia. Harapan yang terlalu tinggi menurut saya. Padahal kalau dibandingkan, jumlah kami adalah bagian yang sangat kecil dari himpunan raksasa guru-guru di Indonesia Raya.

Kami menyetujui perjanjian pengabdian selama setahun. Memperoleh fasilitas yang lumayan terjamin juga teman-teman seperjuangan dari kampus lain di tempat pengabdian menjadikan waktu yang kami lewati berjalan sedikit lebih cepat. 

Tentu saja rindu pada keluarga tak dapat terobati dengan bertukar kabar via telepon, tak ada video call seperti saat ini. Saya hanya bisa bersabar dan bertahan sambil menghitung hari.

Kami bertujuh menempati sebuah rumah mungil semi permanen di dataran tinggi di desa Benteng Todo, kecamatan Cibal, kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Beratap seng dan berdinding bambu juga tidur beralaskan papan kayu. 

Air bersih hanya menyala dari pagi sampai sore. Kalau musim hujan, kami senang bukan kepalang karena persediaan air melimpah. Kami menampung air hujan dalam timba dan bak untuk mandi, cuci baju dan cuci piring.

Budaya, agama, adat dan geografis yang berbeda membuat saya semakin mencintai Indonesia yang sangat kaya. Bertoleransi dan berbaur dengan masyarakat menjadikan kami dan penduduk sekitar cepat akrab. Kami sudah fasih berbahasa dan berlogat lokal dalam hitungan minggu. Ibu guru molas jawa kata mereka. Artinya ibu guru cantik dari jawa.

Saya orang pesisir yang dipaksa beradaptasi dengan udara dingin. Tiap malam harus bergelut dengan selimut tipis dan kaus kaki yang sepertinya tak banyak membantu menghangatkan badan. Tidur menggigil dan ditemani nyanyian nyamuk dan jangkrik.

Jauh dari sanak saudara, menjalani hidup sederhana dan terasing membuat saya lebih bersyukur menjalani kehidupan saya selama ini. Kami masih jauh lebih beruntung ditempatkan di daerah yang ramai penduduk. Teman-teman kami bahkan harus menyekat ruang kelasnya untuk dijadikan kamar. 

Mengangkut jerigen-jerigen air, mengungsi ke desa lain untuk sekedar mandi dan bersuci adalah cerita yang sering kami dengar dari rekan kami. Mengerjakan shalat dengan berpatok pada jam, karena kami tidak mendengar suara adzan dari masjid. Memang kami sedang menjadi kaum minoritas dalam masyarakat Katolik.

Berjalan kaki berpuluh kilometer jaraknya untuk mencari pohon sinyal demi lancarnya komunikasi dengan keluarga di kampung halaman biasa dilakukan di hari Minggu. Handphone juga harus rajin di charge karena listrik di tempat kami tidak bisa diprediksi. 

Jika sedang padam, kami akan menyalakan publik yang kami buat sendiri dari botol kaca bekas minuman bervitamin. Praktis pada pagi hari saat kami bangun tidur, hidung kami sudah hitam penuh jelaga. Hahaha.

Jika sedang ada pesta di kampung, entah itu Sambut Baru (anak menerima komuni suci pertama, istilah umumnya aqil baligh), Masuk Minta (lamaran) dan Antar Belis (mengantar mas kawin) kami dipersilakan untuk memasak sendiri makanan kami karena dalam menu mereka sudah pasti ada daging babi.

Transportasi yang digunakan masyarakat NTT pada umumnya adalah truk yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga badan truk penuh terisi bangku kayu. Otokol, itulah namanya. 

Mengangkut tak hanya manusia, otokol multifungsi sekali menerima berbagai jenis penumpang, mulai dari manuk (ayam), ella (babi) dan barang-barang dagangan lainnya. Tak lupa sepanjang perjalanan kami disuguhi oleh dentuman musik DJ yang menghentak seiring jalanan berbatu yang seolah membuat kami bergoyang dan menari.

Pasar yang hanya ada seminggu sekali yaitu setiap hari Kamis sangat ramai dikunjungi penduduk sekitar dari pagi sampai siang menjelang. Uniknya, di sana tak akan kita temui timbangan untuk mengukur satuan berat. Barang dagangan diukur dengan genggaman tangan (lombok) atau menurut keratan (daging ikan, babi). 

Manggarai terkenal dengan hasil kopinya. Bahkan rumah kontrakan kami terletak di tengah kebun kopi dan bersebelahan dengan kandang babi. Berhubung saya bukan penikmat kopi sejati, saya tidak bisa membedakan dan menilai kualitas kopi Manggarai dibandingkan dengan kopi dari daerah lain.

Untuk mengusir rasa jenuh, saat liburan panjang kami bersafari mengunjungi tempat wisata terkenal di NTT seperti Danau Tiga Warna Kelimutu, Pulau Komodo, Kepulauan Riung dan Desa Adat Wae Rebo. 

Bahkan saya sempat naik kapal laut ke Makassar dan Tana Toraja dengan naik kapal laut (tilong). Mumpung masih muda dan ada kesempatan, semangat ngeluyur ini saya turuti.

Berkat program tersebut, kini saya menjadi PNS jalur khusus karena lebih dulu mengantongi sertifikat pendidik dari beasiswa PPG prajabatan angkatan pertama. Allah sungguh telah mengatur sebaik-baiknya jalan rizqi masing-masing. Tetap berbaik sangka kepada putusanNya walaupun awalnya terasa getir dan hambar. Tugas kita adalah mengambil hikmah atas yang peristiwa terjadi.