Dari kecil kalau ditanya tentang cita-cita, saya selalu menjawab tanpa ragu untuk menjadi guru. Mungkin karena pekerjaan Mama saya juga seorang guru, bukan berarti saya tiru-tiru. Mungkin lebih karena doa restu beliau saat saya akan kuliah.

Saya memilih jurusan pendidikan di fakultas sains, yang nantinya kalau sudah menyanding gelar sarjana harapannya saya akan mengajar anak SMA atau minimal SMP. Tetapi justru saat ini saya malah mengajar SD, hal yang dulu paling saya hindari karena saya merasa kurang bisa ngemong dan gak sabaran.

Saya sudah pernah mengajar di semua jenjang sekolah. Masing-masing punya plus minus tersendiri. Sekolah swasta dan negeri, pondok pesantren maupun Lembaga Bimbingan Belajar memenuhi kurikulum vitae saya. Bahkan setelah saya amati, saya tak pernah berada di satu sekolah selama lebih dari 3 tahun. Mungkin ini cuma kebetulan saja.

Pengalaman saya dimulai dari menjadi guru Bahasa Ingris di SD negeri segera setelah saya menerima ijazah. Karena dalam surat lamaran saya sertakan sertifikat dan skor TOEFL, jadilah saya didapuk mengajar mulok yang selama ini posisinya kosong. Satu semester saya mengajar paralel dari kelas rendah sampai kelas tinggi. 

Jadi guru SD memang bukan pekerjaan main-main. Saya harus menjelma menjadi orang tua kedua yang super telaten sekaligus menjadi manusia yang sempurna perilakunya karena praktis saya menjadi sosok panutan anak-anak murid.

Belum lagi menyoal honorarium yang kurang manusiawi. Sudah menjadi rahasia umum kalau pekerjaan guru dianggap remeh temeh. Padahal tanggung jawabnya sangat berat, dunia akhirat. Sungguh tak sebanding dengan upah yang dijanjikan. 

Mencari tempat yang lebih mendukung karier, saya melamar di sebuah madrasah. Alhamdulillah diterima. Guru yang mengajar sebelumnya bukan dari jurusan IPA; tidak linier.

Di madrasah ini saya menikmati mengajar bidang yang saya tekun pelajari. Menjamah torso dan alat laboratorium yang bertahun-tahun terbengkalai. Sambil lalu saya juga mengamati kehidupan pesantren dengan segala lika-likunya. Kemudian mencari-cari lagi sekolah yang lebih ideal dalam pandangan saya.

Semangat muda yang menyala membuat saya menjadi workaholic. Puncaknya, saya mengajar di tiga sekolah dan satu LBB. Pergi pagi pulang petang. Makan tak teratur, uang gajipun entah tak tahu rimbanya kemana. Tapi hati saya senang. Menjadi sibuk dan dibutuhkan orang lain adalah salah satu bentuk rahmat Allah.

Siklus krisis tiga tahunan melanda kembali. Saya merasa jenuh dengan rutinitas dan mulai protes dengan tidak disiplin mengajar. Saya tahu ini salah tapi tetap saya lakukan. Mengajar setengah hati dan tidak ada gairah lagi. Saya mulai mencari pelarian.

Keluar dari zona nyaman dengan tujuan mencari pengalaman mengajar yang anti mainstream, saya seakan tak percaya pada pilihan yang saya buat sendiri. Hal yang tak pernah saya sangka sebelumnya bahwa saya akan pergi jauh dari rumah, ke luar Jawa. Ada tulisan tersendiri tentang pergi ke NTT ini.

Sepulang dari NTT saya kembali mencari sekolah yang membutuhkan tenaga saya. Karena pepatah secapek-capeknya kerja, lebih capek menganggur itu benar adanya. Setelah mencari informasi, alhamdulillah saya  kembali disibukkan dengan aktivitas mengajar walaupun kali ini mengajar Bahasa Jawa. Lagi-lagi nggak nyambung. Nggak apa apa, yang penting bisa manggung di kelas saya happy.

Ketika ada pengumuman penerimaan CPNS guru jalur khusus, saya mendaftarkan diri karena formasi yang saya lamar ada di kabupaten tetangga. Walaupun kebanyakan memang lolos tes, tetapi untuk penempatan tugas bisa jadi di luar pilihan pelamar. Ada yang tidak sesuai jenjang sekolahnya; seperti saya, ada yang ditempatkan nun jauh disana, di pulau antah berantah. 

Bagi teman yang sudah berkeluarga, tentu ada banyak pertimbangan untuk berangkat memenuhi tugas negara. Tidak sedikit yang memilih mengundurkan diri. Bukannya tidak punya nyali, meninggalkan anak isteri butuh ketetapan hati.

Demikian juga yang terjadi dengan saya. Walaupun terbilang dekat, saya harus rela menjalani Long Distance Marriage. Pulang tiap sabtu demi bertemu suami dan anak saya yang masih berumur 4 tahun. Berat? Ya lumayan sih, masih ada yang lebih soro. Saya jalani masa LDM ini selama 2 tahun lebih, dengan berat hati.

Murid kami di sekolah totalnya 12 siswa. Ngenes banget. Sekolah ini sudah terancam di merger tapi sampai sekarang pun masih belum menjadi kenyataan. Bangunan sekolah terbengkalai tak terurus dana renovasi. Sangat wajar bila wali murid jadi ketar-ketir sewaktu-waktu gedungnya roboh, jelas kurang aman untuk penghuni sekolah.

Jumlah siswa yang sedikit membuat saya hafal di luar kepala nama-nama mereka, alamat rumah, bahkan riwayat keluarga dan sanak saudaranya. Jika hujan, murid-murid dan kadang gurunya juga kompak absen sekolah. Lokasi sekolah yang jauh dari kantor pengawas memang membuat kami sedikit lengah. 

Jika kami mengadakan upacara bendera, tidak ada paduan suara, karena untuk menjadi petugas upacara saja sudah menyita setengah jumlah siswa. Nggak lucu kalau upacara bendera tidak ada pasukannya kan. Hahahaha.

Macam-macam pengalaman yang saya dapat dari anak-anak murid. Mulai dari tips makan buah kaktus sampai mencicipi capung dan belalang bakar. Semangat mereka untuk pergi ke sekolah patut diacungi 4 jempol. 

Mudah-mudahan ke depan ada perhatian untuk memperbaiki sarana dan prasarana sekolah agar lebih banyak wali murid yang mempercayakan putra-putrinya di sana.

Keinginan untuk berkumpul dengan keluarga membuat saya dipertemukan oleh rekan dengan perjuangan yang sama dan ingin mengajukan mutasi tukar. Setelah pengajuan kami disetujui, perjuangan saya beralih menjadi pengukur jalan. 

Jarak tempuh dari rumah ke tempat kerja saya kurang lebih 30 km, 45 menit perjalanan ditempuh dengan kendaraan umum. Sudah melebihi jarak maksimum ideal pekerja. Tetapi tetap saya syukuri walaupun lelah, saya masih bisa bertemu suami dan anak saya setiap hari.

Setiap merasa jenuh, saya ingatkan diri saya kembali bahwa keadaan saya saat ini adalah keadaan yang dulu saya inginkan, usahakan dan doakan. Sabar dan tetap melakukan peran saya dengan baik. 

Semoga saya menjadi guru yang bisa menjadi teladan yang baik untuk siswa saya dan mendidik mereka dengan benar. Semoga mereka akan menjadi manusia yang bisa mengubah dunia ini menjadi lebih baik. Aamiiiiin.