Cari kerja itu nggak gampang. Bisa dilihat dari angka pengangguran di Indonesia. Data di Februari 2019 ada di angka 6,82 juta orang dan di Agustus 2019 sudah berubah ke angka 7,05 juta orang. Loncatannya cukup banyak.

Beberapa orang lulusan setara SMA tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi, tapi juga susah dapat kerja karena hanya mengandalkan ijazah SMA, yang mana memang kurang diminati oleh perusahaan-perusahaan di sini. Lulusan universitas juga belum tentu bisa dapat pekerjaan langsung, seringnya dapat kerja malah tidak sesuai dengan bidang ilmu yang sudah dipelajari bertahun-tahun di kampus. Ya, mereka biasanya mau-mau saja; daripada nganggur, kan?

Saat sudah kerja pun tidak lantas permasalahan ini hilang. Ada beberapa perusahaan yang menerapkan sistem kontrak bagi karyawannya, dengan salah satu tujuannya adalah tidak harus mempertahankan orang itu bila memang kinerjanya dianggap kurang bagus. Masa kontrak habis, ya sudah tidak diperpanjang dan tentunya perusahaan tidak perlu memberikan pesangon.

Perihal pesangon inilah yang juga jadi sebuah masalah bagi perusahaan-perusahaan yang tidak menerapkan sistem kontrak. Karena karyawan tersebut jadi terikat selamanya dengan perusahaan, kecuali meninggal atau memang mengundurkan diri. 

Hari gini mengundurkan diri? Jelas hampir tidak mungkinlah, ya. Balik lagi ke: cari kerja itu nggak gampang.

Ini yang membuat karyawan juga mencoba bertahan walau sebenarnya kurang nyaman dengan pekerjaannya. Berangkat, kerja, istirahat, pulang. Akhirnya jadi rutinitas yang begitu-begitu saja dan mereka anggap selama gaji bulanan masih lancar, ya dikuat-kuatin.

Dari pihak perusahaan sendiri juga mencoba bertahan. Mereka akan menutup mata dan telinga atas tingkah karyawannya, asalkan mereka nggak bikin masalah. Mungkin begitu.

Karena apa? Tidak bisa asal memecat. Memecat karyawan berarti harus memberikan pesangon dengan ketentuan yang sudah ada aturannya sendiri. Ada aturan yang mengharuskan perusahaan membayarkan pesangon sebesar tiga bulan gaji, ada juga yang bahkan sebesar sepuluh bulan gaji.

Aturan pemberian pesangon ini disebutkan dan dirumuskan dalam Pasal 156 ayat (2) Undang-Undang  Ketenagakerjaan. Bunyinya: “Pekerja dengan masa kerja 1 (satu) tahun atau lebih tapi kurang dari 2 (dua) tahun mendapat pesangon 2 (dua) bulan upah. Yang masa kerjanya 2 (dua) tahun atau lebih tapi kurang dari 3 (tiga) tahun mendapat 3 (tiga) bulan upah, dan seterusnya dengan selisih 1 tahun sampai masa kerja 8 (delapan) tahun atau lebih yang akan mendapatkan upah pesangion 9 (bulan)”.

Selain pesangon, karyawan juga berhak atas yang namanya uang penghargaan. Uang penghargaan ini besarnya juga didasarkan pada lamanya masa kerja di perusahaan. Rumusannya bisa dilihat di Undang-Undang No. 13 tahun 2003 pasal 156 ayat 3.

Nah, sudah kelihatan, kan, berapa yang harus dibayar oleh perusahaan?

Karena itulah ada satu trik khusus yang sering sekali dilakukan oleh perusahaan. Terutama perusahaan-perusahaan berengsek yang memang doyannya cuma memeras keringat tanpa memedulikan kesejahteraan karyawannya. Trik apa itu? Ya benar, mutasi kerja ke daerah yang jauh atau lebih kecil.

Mutasi atau pemindahan posisi kerja seorang karyawan ke luar kota atau bahkan luar pulau dianggap sebagai satu cara yang dengan sangat halusnya bisa membuat karyawan tersebut memecat dirinya sendiri alias mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja.

Karyawan yang biasanya sudah berumah tangga tentu akan merasa berat bila harus dimutasi kerja. Apalagi kalau mutasinya ternyata jauh sekali dari rumah. Frekuensi bertemu keluarga berkurang drastis juga otomatis pengeluaran akan bertambah. Untuk biaya kos, ongkos, juga untuk urusan perut yang jadinya 'dua dapur', dapur di rumah dan dapur di tempat baru. 

Seringnya memang mereka akan memilih untuk mengundurkan diri saj. Atau kalau pun mau mengambil posisi itu, akhirnya tidak bertahan lama. Tidak betah, ingin pulang, dan banyak lagi alasannya.

Cemen? Lemah? Nggaklah.

Bagi yang berkeluarga, hal ini memang wajar sekali, kecuali orang-orang yang memang blasteran antara manusia sama bajingan, ya, yang malah happy bakalan jauh dari pasangan karena bisa bebas. Ini beda lagi ceritanya.

Yang masih hidup sendiri belum nikah juga jangan dianggap mudah, gaes. Namanya hidup jauh dari keluarga, kan, pasti bakal jadi perjuangan tersendiri. Nggak semua orang betah jadi perantau.

Belum lagi masalah gaji yang biasanya menyesuaikan dengan Upah Minimum Karyawan di daerah yang baru. Kalau meningkat sih masih mending. Lah kalau malah turun? Malah ambyar.

Berarti trik mutasi kerja ini terbukti cukul efektif dong ya bagi perusahaan supaya nggak usah repot-repot memecat dan memberi pesangon ke karyawannya?

Lumayan.

Banyak juga para karyawan yang akhirnya paham bahwa dimutasi ke luar kota itu artinya disuruh resign secara halus. Apalagi kalau menyadari bahwa di posisi yang sekarang ini pernah ada masalah, ya sudahlah ya mendingan mundur alon-alon, bikin surat pengunduran diri dan jangan berharap ada pesangon.