Ada satu kata yang seperti menjadi musuh bersama wartawan. Kata itu adalah "di". 

Sebenarnya saya tak ingin menjadi polisi bahasa. Polisi yang mengatur bagaimana orang menggunakan bahasa (dalam hal ini Bahasa Indonesia). Bila ada yang melanggar, maka akan saya semprit. 

Priiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttttttt.

Tapi lama-kelamaan, akibat seringnya menemukan ada yang salah dalam penggunaan bahasa, maka mau tidak mau saya bereaksi juga. Ibarat dendam kesumat yang sudah sampai ke ubun-ubun, perasaan ini sudah tidak dapat dibendung lagi.

Banyak wartawan, yang baru maupun yang senior, masih kerap keliru menuliskan kata "di" sebagai awalan di dalam kata kerja yang berfungsi sebagai kata kerja pasif dan "di" sebagai kata depan yang berfungsi menyatakan keterangan tempat. Nanti di bawah akan saya kemukakan contoh-contoh kesalahan penulisan "di", baik yang dilakukan media lokal di daerah maupun media nasional.

Kesalahan mempergunakan "di" dalam kalimat sampai saat ini belum saya ketahui kenapa. Padahal, sangat mudah mengingatnya. Saya selalu berpatokan pada rumus: setiap ada kata kerja yang didahului kata "di", maka dituliskan dengan cara disambung. Contohnya adalah dimakan, dibaca, disampaikan, dijanjikan, diketahui, dirayu, dicumbu, dan seterusnya. 

Ketika "di" tidak  bertemu dengan kata kerja, maka penulisan "di" harus dipisah. Contohnya adalah di depan, di langit, di air, di antaranya, di depan, di udara, di pemakaman, di Mekah, dan seterusnya.

Ivan lanin, salah satu pencinta Bahasa Indonesia yang saat ini menjadi rujukan terkait persoalan bahasa Indonesia, pernah mengunggah gambar yang bisa dijadikan pengingat bagaimana menggunakan kata "di" yang benar dalam kalimat. 

Dalam gambar itu, terdapat dua gambar, yaitu gambar gajah dan batu. Gambar itu sendiri terdiri dari dua gambar, yaitu gambar di atas dan di bawah. Format gambarnya seperti pada komik singkat berupa dua frame.

Gambar pertama menunjukkan ada gajah yang posisinya berada di belakang batu. Pada gambar itu ditulis: gajah di balik batu. Artinya, gajah berada di balik (belakang) batu.

Gambar kedua, yaitu sang batu tiba-tiba memiliki tangan lalu membalikkan si gajah. Pada gambar itu ditulis: gajah dibalik batu. Artinya, batu itulah yang membalikkan si gajah.

Apa perbedaan dari kedua gambar itu? 

Yang sudah memahami dan bisa membayangkan gambar itu tidak perlu melanjutkan penjelasan ini. Tapi bagi yang masih belum mengerti atau malah bingung, akan saya coba perjelas bagaimana maksudnya.

Pada gambar pertama, karena kata "di" dalam kalimat "gajah di balik batu" menunjukkan tempat, maka penulisan kata "di" dipisah. Sementara pada gambar kedua, karena kata "di"  dalam kalimat "gajah dibalik batu" menunjukkan kata kerja pasif, maka disambung.

Akan berbeda makna penulisan "di balik batu" dengan "dibalik batu". 

Sekarang, coba lihat berita di link ini: Di Kota Serang Baru 40 Persen Puskesmas 

Dalam berita itu, terdapat kalimat "Akreditasi ini dilakukan tiap tiga tahun sekali. Tahun ini ada dua puskesmas yang harus di akresditasi....". Padahal, semestinya "diakreditasi", dengan menyambung kata "di" dan akreditasi, karena itu menunjukkan kata kerja.

Atau baca berita ini: Walikota Serang Meracik Kopi dan Bucara Potensi Ekonominya

Ada kalimat di berita ini seperti ini, “Kedai kopi di Kota Serang ini makin banyak, makin bagus. Sebab penikmat kopi ini jangankan di Kota Serang, diluar kota saja masih saja dicari,” katanya usai menikmati kopi lokal asli Banten. 

Kalimat "diluar kota" sudah seharusnya dituliskan dengan cara dipisah menjadi "di luar kota", karena "di luar", "di dalam", "di tengah" bukan kata kerja, melainkan kata keterangan tempat. 

Mau contoh dari berita nasional? Silakan baca berita ini: Sinopsis Perempuan Tanah Jahanam; Jadwal Harga Tiket di Bogor 

Dalam berita itu, terdapat kalimat "Film Perempuan Tanah Jahanam yang ditulis dan di sutradarai oleh Joko Anwar". Semestinya, "disutradarai" bukan "di sutradarai" karena itu merupakan kata kerja pasif. 

Jokowi Ingin Istilah Radikalisme Diganti Jadi Manipulator Agama 

Dalam paragraf terakhir berita itu tertulis, "Hadir seluruh Menko Polhukam Mahfud MD dan para menteri dibawah koordinasi Kemenko Pohukam". Kalimat "dibawah" mestinya ditulis "di bawah", karena bawah bukan kata kerja melainkan menunjukkan tempat. Seperti juga menulis "di atas", "di samping", "di kiri", dan seterusnya. 

Untuk contoh kesalahan penulis "di" yang lain, silakan baca di berita-berita lain, baik berita dari media massa lokal maupun nasional. 

Cara menuliskan "di" dengan cara yang salah mungkin ada yang hanya satu di antara sekian banyak kalimat. Ada juga yang memang tidak mengerti sehingga berulang kali dituliskan secara salah.

Seorang teman yang merupakan wartawan yang cukup lama bekerja sebagai "kuli tinta" masih saja kerap diingatkan oleh redakturnya dalam kasus penulisan "di". Saya tidak mengerti mengapa sampai susah membedakan "di" menunjukkan tempat dengan "di" menunjukkan kata kerja.

Mungkin bagi sebagian wartawan "di" memang seperti musuh, yang selalu menghantuinya dan bisa membuat celaka. Sementara ia sendiri tidak tahu bagaimana melenyapkan musuh bernama "di" itu.