51723_99964.jpg
https://twitter.com/NobelPrize/status/915205225446821888
Saintek · 3 menit baca

Musuh Abadi Sains

Jika anda bertanya pada saya apakah sains memiliki musuh? Maka, saya akan jawab: Ya!

Satu-satunya yang saya anggap paling pantas mendapat predikat sebagai musuh bagi sains adalah ketidakpedulian! Bagi saya, sains itu ibarat ibu yang wajib kita beri perhatian. Jadi, apapun yang membuat kita durhaka pada ibu, itulah musuhnya, yang juga sepatutnya menjadi musuh kita bersama.

Namun, seperti yang kita tahu, ibu tidak pernah mengajarkan kita untuk memusuhi, tidak pernah sekalipun! Kepada siapapun dan apapun itu. Ibu selalu mengajarkan kita tentang cinta, kasih sayang, dan segala nilai-nilai luhur dalam kehidupan.

Yang selalu saya ingat dari ucapan ibu: “Jika kamu ingin berbakti pada ibu, berbaktilah pada kehidupan. Berjuanglah demi kehidupan, jadilah anak yang bermanfaat bagi kehidupan. Maka, ibu akan selalu menyertaimu.”

Dari metafor tersebut, sains atau ilmu pengetahuan, sebagai ‘ibu’, selalu membawa hati dan pikiran kita pada hal-hal yang membangun. Tentang membangun cara berpikir, membangun suatu pemikiran, membangun solusi, membangun kesadaran untuk kita memberikan manfaat bagi kehidupan. Dan ending-nya, membangun kesadaran kita untuk memaknai kehidupan. Sains menyadarkan kita tentang tujuan dasar hidup ini, yakni kepedulian.

Jika dipahami lebih mendalam, kepedulian atau rasa peduli ini memiliki peran yang sangat mendasar bagi kehidupan, seperti manusia yang membangun peradabannya. Manusia merasa peduli memaknai, memberikan suatu nilai pada sesuatu yang diamatinya.

Misalnya, ketika manusia mulai berinteraksi dengan yang lain, manusia memiliki cara yang unik dalam berkomunikasi, yakni dengan memberikan nama pada setiap benda yang ada di sekitarnya, lalu melekatkan suatu nilai padanya.

Kita bisa bayangkan apa yang akan terjadi jika manusia tidak peduli pada lingkungan sekitarnya. Kita sesama manusia tidak akan pernah ngobrol antara satu dengan yang lainnya. Ya, akan seperti itu jika manusianya tidak peduli untuk menciptakan bahasa sebagai alat komunikasi. Karena manusianya peduli, terciptalah kata, bahasa; lalu, ngobrol-lah kita.

Ketidakpedulian manusia pada apa pun itu, pada dasarnya membuat manusia kehilangan nilai. Manusia menjadi bernilai jika mereka menggunakan akal-budinya dalam menyikapi kehidupan. Jika tidak peduli, lalu dikemanakan akal-budinya itu?

Mereka berpikir, tapi mati rasa. Tentu segalanya akan menjadi hambar. Mereka berpikir, tapi mereka kebingungan mau diapakan pikiran mereka ini. Segalanya akan terlihat monoton jika sebagian manusianya ini tetap keukeuh memantapkan ketidakpeduliannya itu.

Pemandangan seperti itu tentu akan jadi tontonan lucu bagi mereka yang ada di posisi sebaliknya. Ya, lucu, sekaligus menyedihkan. Seperti yang kita lihat dan kita rasakan saat ini.

Perlu kita akui bahwa banyak dari kita memilih untuk tidak peduli pada segala macam kekacauan, kekerasan, kerusakan yang terjadi di lingkungan kita. Selain itu, tentunya kita juga tidak dapat menafikan bahwa tingkat kepedulian manusia itu memiliki level yang berbeda. Disesuaikan dengan kemampuan yang mereka miliki saat itu. Kemampuan untuk hanya sekadar comment doang bahkan sampai pada level menyelesaikan setiap persoalan.

Bicara soal tingkat kepedulian. Baru-baru ini, tepatnya masih di bulan ini, 3 Oktober 2017, tiga saintis, yaitu Rainer Weiss, Barry C. Barish, dan Kip S. Thorne mendapatkan Penghargaan Nobel Fisika atas temuan mutakhir yang bisa dibilang sebagai awal kebangkitan sains di planet ini. Mereka berhasil melakukan pembuktian ilmiah dalam pendeteksian Gelombang Gravitasi, seperti yang pernah dinyatakan oleh Einstein.

Ini yang perlu kita pahami. Optimisme dalam sains mewujudkan suatu pernyataan ilmiah menjadi kenyataan. Menyaksikan hal tersebut, sebagai penduduk bumi, apa tidak ada greget dari kita sedikitpun untuk memberikan kontribusi bagi peradaban kita seperti yang dilakukan ketiga orang itu?

Lebih dari itu, sains bukan hanya sekadar urusan Penghargaan Nobel. Sains memiliki rahim yang Maha Besar, ruang tak terbatas yang melahirkan berbagai solusi bagi setiap persoalan, ruang tak terbatas untuk manusia terus berkreasi.

Berkreasi dalam banyak turunannya, dalam ruang teknologi, ilmu alam, matematika, dan segala hal keilmuan yang menyangkut peradaban kita, menyangkut masa depan kita, manusia. Karena itu, manusia yang beradab cerminan dari akal-budinya, manusia yang berakal-budi cerminan dari kepeduliannya.

Karena itu, tidak berlebihan jika saya menyimpulkan bahwa manusia dan sains sebagai satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan, yang saya ibaratkan seperti hubungan antara anak dengan ibunya.

Ketika manusia kehilangan arah, sains-lah yang memberi kita petunjuk. Petunjuk tentang bagaimana kita menghadapi setiap rintangan yang setiap waktunya, level dari setiap rintangan itu semakin sulit. Sulit, jika manusia-nya tidak mau bangkit untuk peduli, terhadap apa pun itu.

Tentunya, ketidakpedulian pada sains bukanlah pilihan beradab pada kondisi kehidupan di abad ini. Jika pun ada pilihan untuk tetap tidak peduli, saya akan pilih tidak peduli untuk tidak peduli.