Penulis
2 tahun lalu · 291 view · 8 menit baca · Sejarah 71309.jpg
Dok. Pribadi

Muslim Prancis dan Holocaust

“Les Hommes Libres” (Free Man), karya Ismael Ferroukhi, merupakan film yang bercerita tentang seorang pemeluk Yahudi, Salem Halali, dan Si Kaddour Benghabrit, salah satu elit Muslim pertama yang berinisiatif untuk membangun Masjid Raya Paris. Diceritakan dalam kisah aslinya, Salem, seorang imigran dari Algeria yang bermukim di Paris mendapatkan perlindungan dari Si Kaddour dari ancaman Nazi Jerman ketika tragedi Holocaust. Konon, Masjid ini, dahulunya, menjadi tempat berlindung bagi sekitar 500-1600 warga Yahudi ketika Perang Dunia II. Lebih dari itu, kisah di film ini juga menceritakan tentang latar belakang kehidupan komunitas Muslim pertama di Prancis.  

Dari Film inilah saya terinspirasi untuk melihat keberadaan masjid tertua di Paris yang turut mewarnai sejarah Holocaust lebih dekat. Di Berlin, Masjid Wilmersdorf atau biasa dikenal dengan Masjid Ahmadiyah Lahore dinyatakan sebagai salah satu masjid tertua di Berlin yang dibangun tahun 1924. Beberapa waktu lalu, saya sempat menilik bangunan tua ini dengan berbagai kisah, perkembangan, dan sikap komunitas Muslim saat itu ketika Nazi mulai mengambil alih kekuasaan.

Grande Mosquee de Paris dibangun sebagai rasa hormat atas ribuan umat Muslim yang turut berperang membela Prancis ketika Perang Dunia I. Mayoritas dari mereka berasal dari negara koloni, seperti Aljazair, Maroko, Tunisia dan beberapa negara di Afrika Utara. Selain itu, masjid ini juga menjadi simbol atas kehadiran Islam, yang pada akhirnya turut mewarnai identitas masyarakat di tanah Paris hingga saat ini.

Masjid Bernuansa Maghreb

Tepat di belakang Jardine des Plantes pintu kayu tebal menutup bangunan masjid yang dari luar tampak sederhana. Cat putih, dengan ornamen oriental yang sangat kental, dipadankan dengan menara putih menjulang bergaya Mudejar seakan ingin menyapa siapapun yang hendak beribadah, dan mereka yang ingin mengenal komunitas Muslim di Prancis lebih dekat.

Tidak mudah untuk menemukan masjid ini, khususnya bagi kami yang hanya mengandalkan peta dan kunjungan kami ke Prancis untuk pertama kalinya. Beberapa kali bertanya kepada warga sekitar, dan hanya menemukan jalan buntu. Namun, hal itu terbayar ketika kami melihat ujung menara, juga sesekali suara adzan yang turut menjadi penunjuk arah untuk sampai ke salah satu Masjid terbesar di negara Napoleon ini.

Tidak terlihat begitu ramai, hanya beberapa polisi Prancis nampak berjaga-jaga di sekitar area masjid. Sesekali terlihat berdiri tegak di depan pintu utama sembari memegang senapan panjang, lengkap dengan kaca mata hitam. Paling tidak itulah pemandangan yang kami lihat saat pertama kali sampai di area ini.

Ciri khas utama yang saya perhatikan dari arsitektur masjid ini adalah menara. Model Mudejar, atau biasa disebut dengan Moorish Styles, terlihat sangat kental, baik dari bentuk dan ornamen yang mengelilingi menara dengan ketinggian 33 meter. Pilar-pilar dengan mozaik khas Andalusia menghiasi beberapa sudut masjid, juga air mancur di tengah-tengah bangunan seperti memberi kesan lain di tengah situasi metropolitan kota Paris.

Konon, ubin khusus yang menghiasi dinding masjid ini dibawa langsung dari Maroko. Biasanya disebut dengan Zellij, mozaik khas Andalusia bercorak geometri, yang awalnya hanya terdiri dari tiga warna utama yaitu biru, hijau, kuning dan merah. Tidak hanya dinding, ubin ini biasanya dipakai untuk menghiasi kolam, dinding, atap, juga meja. Memasuki masjid ini seolah memasuki dimensi lain, terlebih ketika melihat taman di dalam area masjid semakin menambah kesan teduh, nyaman dan bercorak.

Masjid ini dibangun dengan berbagai tujuan, termasuk mengenalkan kepada masyarakat Prancis akan hadirnya komunitas Muslim termasuk ritual, tradisi dan kultur yang lekat dengan identitas asli mereka, Arab. Tidak hanya tempat ibadah, di dalam area masjid ini juga terdapat Hammam (Turkish Bath), restaurant dengan berbagai menu Mediterania, juga halaman utama yang dipenuhi dengan marbel biru dan taman yang kental dengan nuansa Moorish. Terlihat, beberapa pengunjung, baik turis lokal maupun asing, turut menikmati rangkaian arsitektur khas Maghreb di tengah maraknya bangunan modern kota Paris.  

Membangun Islam di Prancis

Sejarah Muslim di Eropa biasanya dikaitkan dengan dua masa yang menjadi titik balik perkembangan dan persinggungan kedua tradisi. Masa kekhalifahan Islam di Andalusia abad 9 Masehi, dan datangnya ribuan imigran dari berbagai negara Muslim di tahun 1960-an ketika beberapa negara Eropa Barat mengeluarkan kebijakan ekonomi dalam rangka pembangunan skala besar dan membutuhkan ribuan tenaga kerja. Namun, akhir-akhir ini, banyak penelitian terbaru yang mulai mengungkap akan keberadaan masyarakat Muslim di Eropa pada akhir abad 19 sampai awal abad 20 Masehi, khususnya ketika dan paska Perang Dunia I.

Building the Paris Mosque, Building France Islam”, sebuah judul artikel yang saya baca beberapa waktu lalu tentang hubungan komunitas Muslim pertama dengan segala perangkat dan realita sosial sekuler masyarakat Prancis setelah Perang Dunia I. Tanpa bisa dipungkiri, sejarah Prancis modern tidak bisa lepas dari kehadiran sejumlah pemeluk agama lain, yaitu Islam, yang tanpa disadari telah melebur menjadi identitas baru. Perdebatan hingga penelitian serius banyak dilakukan oleh beberapa kalangan, terlebih dengan aksi dan isu terorisme yang menjangkit masyarakat global akhir-akhir ini, khususnya yang terjadi di Prancis.

Adalah Si Kaddour Benghabrit, atau Abdelkader ben Ghabrit, yang disebut sebut sebagai ‘the most Parisian Muslim’. Dialah salah satu aktor yang paling berpengaruh atas hubungan awal Prancis dengan Islam. Sebelum diangkat menjadi rektor masjid, dia bekerja sebagai asisten penerjemah delegasi Prancis di Maroko. Dia juga ditugaskan ke Hijaz sebagai perwakilan guna memfasilitasi sarana Haji untuk warga Maroko dan sekitarnya. Puncak karirnya, ketika Si Kaddour menjadi pemimpin atas organisasi yang menjadi tempat berkumpulnya para Muslim elit di kawasan Maroko dan Afrika Utara yang dikenal dengan The Society of Habous. Dan, komunitas ini bekerjasama dengan pemerintah Prancis untuk mendirikan masjid yang konon terinspirasi dari Masjid dan Madrasah Bou Inania di Fes, Maroko.

Setelah diresmikan pada 15 Juli 1926 oleh Presiden Gaston Doumergue, masjid inipun digunakan Sholat untuk pertama kalinya yang di-imami oleh Ahmad Al-Alawi, seorang Sufi dari Algeria sekaligus pendiri Tarekat Darqawiyyah Alawiyyah salah satu cabang dari Tarekat Syadziliyyah.

Tidak jauh dari area masjid, tepatnya di sebuah jalan Bureau de la rue Lecomte, pemerintah Prancis juga membangun sebuah pusat administrasi pertama untuk para imigran Afrika Utara paska Perang Dunia I, termasuk Rumah Sakit. Awalnya sebuah klinik sederhana dibangun untuk merawat pasukan Muslim yang menjadi korban perang, juga sebagai ruang untuk merawat imigran Afrika Utara yang terjangkit virus Tuberkulosis, dan Venereal atau penyakit kelamin. Klinik ini akhirnya menjadi besar selaras dengan bertumbuhnya jumlah warga.  

Bureau de la rue Lecomte, seakli lagi, seakan menjadi saksi atas kehidupan awal warga Muslim khususnya keturunan Afrika Utara di Paris, bahkan hingga saat ini. Di kawasan ini, populasi masyarakat Arab semakin berkembang, dan menjadi pusat masyarakat Arab yang dikenal dengan ‘little orient’.   

Pluralitas masyarakat Paris adalah realita. Perkembangan pemeluk agama Islam yang dinilai pesat khususnya beberapa tahun belakangan ini dapat terlihat jelas dari kehidupan sehari-hari di berbagai sudut kota. Perempuan berhijab, Masjid dan toko serta produk berlabel halal bisa didapatkan dengan mudah. Bahkan, sesekali kami juga mendengar bahasa Arab menjadi bahasa komunikasi sehari-hari khususnya di daerah padat warga Muslim.

Berdirinya Masjid Raya Paris seakan ingin memberikan pesan atas kehadiran hal ‘baru’ yang sejalan dengan sekularitas dan modernitas Paris, dalam bentuknya yang ‘traditional’ yaitu dengan menampilkan kesan Islam Afrika Utara.  

Bantuan Muslim Untuk Warga Yahudi

Tragedi Holocaust, yang terjadi hampir satu abad, menjadi kisah yang terus didokumentasikan dan digali. Berbagai macam narasi dan cerita tentang aksi-aksi heroik penyelamatan warga Yahudi masa Holocaust mulai bermunculan, baik dari kisah pribadi maupun institusi keagamaan. Dari seorang veteran, Duta Besar Turki untuk Prancis, keluarga Arab Muslim, sampai seorang perempuan agen SOE untuk Paris yang bernama Nourunnisa Inayat Khan.

Dan tak terkecuali, Masjid Raya Paris. Konon, bahkan ada 500 sampai 1600 warga Yahudi yang berlindung di Masjid ini menjelang kependudukan Jerman. Ancaman yang datang dari Nazi mengharuskan warga Yahudi di Paris melarikan diri, mencari perlindungan di tempat-tempat yang tak terdeteksi.

Salem Halali, penyanyi Algeria yang juga seorang Yahudi, misalnya, diberikan kartu identitas sebagai seorang Muslim oleh Si Kaddoor. Menurut beberapa catatan sejarah, banyak warga Muslim saat itu, atas inisiatif pribadi, membawa warga Yahudi yang mereka kenal untuk mendapat perlindungan di Masjid. Selain kartu identitas, masjid ini juga menyediakan ruang-ruang khusus yang berada di area sekitar. Sayang sekali, shelter-shelter ini sekarang tidak dibuka untuk umum, hanya peneliti dan pihak-pihak berkepentingan saja yang diperbolehkan memasuki area ini.

Menjadi Muslim ketika itu jauh lebih aman ketimbang menjadi seorang Yahudi, yang pastinya akan menjadi korban penangkapan dan deportasi. Bagi Jerman, Islam, menjadi salah satu alat penting untuk mencapai kekuasaan politik sekaligus militer. Kehadiran umat Muslim bukanlah ancaman. Pembersihan etnis yang dilakukan Nazi berlaku untuk warga keturunan Yahudi, kaum homosexual, penyandang disabilitas, komunitas Gypsi, dan tawanan politik lainnya.  

Kisah lain datang dari seorang tawanan Jerman keturunan Afrika Utara, Albert Assoulin. Ia berhasil meloloskan diri dari penjara dan mengungsi di Masjid Raya Prancis, dan kemudian sempat menuliskan surat yang dimuat oleh sebuah majalah Prancis Almanach duCombattant di tahun 1983. Surat itu menceritakan tentang kondisi di shelter bawah tanah masjid, yang menampung tidak hanya tawanan Muslim yang melarikan diri, namun juga warga Kristen dan Yahudi lintas ras. Kisah ini juga pernah ditayangkan dalam sebuah dokumentasi film tahun 1991, yang berjudul ‘A Forgotten Resistance: The Mosque of Paris’.

Warga Yahudi di Paris, yang masih merupakan keturunan dari Yahudi Sefardim,  dan komunitas Muslim saat itu miliki banyak kesamaan. Baik nama, makanan, dan bahasa. Mereka memakai bahasa Arab untuk percakapan sehari-hari, mengkonsumsi makanan yang sama khas Mediterania, dan melakukan ritual sunat sebagai tradisi keagamaan yang masih dipertahankan. Untuk mengelabui pasukan Nazi merupakan hal yang mudah bagi mereka.

Di tengah kuatnya gelombang radikalisme global, pengggalan kisah-kisah ini seakan memberi angin segar. Bahwa potret Islam, bukanlah ilustrasi yang sering diwacanakan kelompok-kelompok ekstremis di belahan dunia, pun bukan seperti apa yang sering masyarakat Barat asumsikan. Jauh sebelum tragedi Holocaust, tepatnya ketika ribuan umat Yahudi mendapat ancaman dari Katolik Monarki, khususnya paska runtuhnya Dinasti Nasrid di Granada, umat Muslim juga turut membantu dan menyelamatkan nyawa mereka. Bahkan kesultanan Ottoman, dibawah rezim Sultan Sulaiman the Magnificent, juga menerima ribuan imigran Yahudi dari Spanyol.

Dalam sejarah Islam, hal ini tentu bukan hal baru. Keterlibatan, serta hubungan harmonis antar agama dan kelompok kerap kali diwujudkan. Wajah keberagamaan seperti inilah yang sepatutnya diangkat, agar menjadi acuan dalam melihat peta sejarah Islam hari ini juga di masa mendatang. 

Artikel Terkait