Twitter agaknya masih menduduki posisi pertama dalam kategori media sosial ter-magic. Apalagi kalau menyangkut hal-ihwal perpolitikan.

Meski tanpa menyertakan #TwitterDoYourMagic, cuitan berbau politis kemudian disertakan pula jargon dalam bentuk tagar secara otomatis akan diritwit oleh kolega-kolega mayanya. Tak lama kemudian, boom, masuk kolom trending. Sepertinya kata "lidah" pada ungkapan lidah lebih tajam dari pedang perlu diganti dengan twit(war).

Sama halnya saat ini (13/01, Pukul 10 malam di bawah lampu warung kopi yang remang). Entah kenapa dalam daftar trending topic kali ini tagar #MuslimPernahJaya, #Remember1453, dan #TheReturnofKhilafah mendadak trending. Tak ada angin, tak ada hujan masih aja banjir, tagar tersebut telah ditwit sebanyak ratusan ribu kali.

Seperti pada akun @Lantang51051721 yang mencuitkan, “Cahaya fajar ltu akan datang, meningkatkan kegelapan >> #Remember1453 << #MuslimPernahJaya - #TheSecondRevivalofIslam #ZA1J @oposisi_JKW”

Selain akun tersebut, masih banyak lainnya yang mencuitkan twit-twit senada. Banyak dari mereka yang mencuitkan tentang kejayaan islam hingga menyuarakan (kembali) khilafah.

Usut punya usut, salah satu yang melatarbelakangi cuitan-cuitan tersebut adalah hasil penelitian dari National Intelligent Council, pusat studi jangka menengah dan strategis jangka panjang dalam United States Intelligence Community (IC), yang menyebutkan bahwa kekuatan islam akan bangkit pada tahun 2020.

In particular, political Islam will have a significant global impact leading to 2020, rallying disparate ethnic and national groups and perhaps even creating an authority that transcends national boundaries. A combination of factors—youth bulges in many Arab states, poor economic prospects, the influence of religious education, and the Islamization of such institutions as trade unions, nongovernmental organizations, and political parties—will ensure that political Islam remains a major force.” (Mapping the Global Future, 2004)

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa kekuatan politik islam akan memiliki dampak global yang signifikan, yang akan turut memengaruhi tatanan politik internasional Amerika Serikat.

Hal ini yang kemudian di-rewind oleh para netizen sebagai peringatan pada kejayaan islam pada tahun 1453 ketika Mehmed II, Muhammad Al-Fatih Sultan Ottoman, melakukan penakhlukkan kota Konstantinopel – saat ini bernama Istanbul, Turki – yang pada saat itu dikuasai oleh kekaisaran Byzantium.

Berdasarkan peristiwa tersebut, maka pada hari ini netizen Twitter serentak turut menyuarakan #TheSecondRevivalofIslam dan #TheReturnofKhilafah dan ditujukan kepada... Pemerintah. 

Eits, sebentar... Kok tiba-tiba nembak pemerintah? Ada Apa Dengan Milea Pemerintah?

Beberapa cuitan mengungkapkan bahwa mereka kurang puas dengan kinerja pemerintah saat ini. Mulai dari korupsi yang merajalela, konflik Natuna, hingga kebobrokan demokrasi. Dari cuitan-cuitan tersebut mereka seakan menyatakan bahwa pemerintah saat ini telah gagal.

Kemudian mereka menawarkan satu solusi konkrit: Khilafah. Titik.

Sebelum menakar tingkat kesesuaian solusi tersebut, maka kita perlu melakukan QC- quallity control terhadap solusi tersebut dengan melihat konteks latar belakang dari peristiwa yang terjadi 587 tahun lalu itu.  

Konstantinopel memang memiliki letak yang sangat stategis. Kota ini menjadi titk penting dalam rangkaian Jalur Sutra, rute perdagangan utama yang mempertautkan India, Cina, Timur Tengah, dengan Eropa pada waktu itu. Hingga pada 11 Mei 330 Masehi Kekaisaran Byznatium menetapkannya sebagai ibu kota. 

Roger Crowley dalam Constantinople: The Last Great Siege (2006) menyatakan dalam rentang waktu yang panjang tersebut, 800 tahun di antaranya menjadi periode usaha kubu Islam untuk merebut kota tersebut, meskipun selalu gagal. (Iswara. Sejarah Kejatuhan Pusat Perang Salib Konstantinopel: tirto.id)

Hingga pada masa Kerajaan Ottoman Turki, Kota Konstantinopel dapat dikuasai. Setelah selama 14 abad lebih dikuasai oleh Byzantium. Sesuai dengan salah satu hadis Nabi SAW yang menyebutkan bahwa Kota Heraclius – Konstantinopel – yang akan dibebaskan terlebih dahulu dari pada Roma.  

Jika melihat dari latar belakang tersebut, maka penaklukan Kota Konstantinopel ditujukan untuk memperluas wilayah kekuasaan Islam. Dengan menguasai kota tersebut, jalur utama perdagangan dunia telah dikuasai. Pintu gerbang untuk memperkuat pengaruh Islam di Eropa pun terbuka lebar. 

Bisa dikatakan lewat peristiwa tersebut islam dapat tersebar ke penjuru dunia. Pengaruhnya bahkan sampai pada bapak dan ibu saya di rumah.

Dari latar belakang tersebut, maka ketika di-cocokologi-kan dengan konteks situasi yang ada saat ini, maka, mmmm... gimana, ya? Kok ya rasa-rasanya terlalu dipaksakan. CMIW!!11!!1!!! 

Penaklukkan Kota Konstantinopel ditujukan agar pengaruh Islam dapat merambah benua biru, yang notabenenya kebanyakan dikuasai oleh kerajaan-kerajaan beragama kristen. Selain itu, posisi kota tersebut yang sangat strategis menjadikan jalur perdagangan utama dikuasai oleh Islam. Pada periode tersebut, bisa dibilang merupakan periode kejayaan Islam.

Ketika dikomparasikan dengan sikon dari negara kita tercinta ini, memang tidak bisa dimungkiri bahwa Indonesia memiliki letak yang strategis. Adapun jalur perdagangan dunia yang termasuk paling sibuk dua di antaranya terdapat di Indonesia: Selat Malaka dan Selat Makassar. Hal ini sedikit mashook.

Tapi...

Ketika penaklukan Konstantinopel direfleksikan terhadap usaha untuk menguasai Indonesia (menjadikannya Negara Islam nyel) bisa-bisa hasil yang diharapkan tidak akan sama. Alih-alih menjadi pusat peradaban dunia, malah akan terjadi perang saudara. Akibatnya, ketidakstabilan sistem pemerintahan, digonjang-ganjing negara-negara besar, lalu bubar. Yeay, konspirasi menang! Ulululululu

Lha kan, dengan sistem khilafah dapat menyatukan umat islam, Bong. Eh, Bang.

Boro-boro khilafah, pake sistem demokrasi aja antar umat Islam masih gontok-gontok’an. Apalagi khilafah. Bisa-bisa nggak hanya umat islam. Semua umat beragama, berkepercayaan, hingga ber-Tuhan-namun-tidak-terikat-kepercayaan pun akan saling memerangi satu sama lain. 

Kita yang baku hantam, mereka yang tepuk tangan. Hore, Konspirasi menang lagi! Ululululu

FYI. Sebenarnya saya agak penasaran dengan akun-akun tersebut. Satu per satu saya stalking.

Berdasarkan penelusuran tersebut, saya dapati bahwa beberapa di antaranya mulai joined beberapa bulan yang lalu: April sampai Desember 2019. Dan (ini yang paling istimewa) beberapa akun rata-rata men-twit dengan tagar tersebut kurang lebih 30-50 kali pada kurun 10 jam sejak mulai trending tagar tersebut. Bahkan ada yang sampai 100 twit lebih. Itu yang nge-twit loh ya, belum lagi yang nge-ritwit dari akun lain. Eh, Bajiak. Banyak kale!