Term muslim, secara bahasa menunjuk pada individu manusia yang memeluk agama Islam, di mana al-Qur’an dan hadits merupakan idealisme yang mendasari seluruh kehidupannya, baik secara multidimensional maupun kontekstual. Dalam konstruksinya sebagai kepribadian, maka term muslim lebih dekat pada dimensi religiositas (keberagamaan) daripada religius (agama) itu sendiri. 

Maksudnya, apabila istilah religius atau agama lebih mengarah pada nilai dan norma, maka religiositas lebih menunjuk pada implementasi nilai dan norma di atas. 

Salah satu keberadaan penting yang menjadi kebanggaan, sekaligus kebahagiaan seorang muslim, terletak pada spiritualisasi dan implementasi ajaran dan nilai-nilai Islam dalam kehidupannya. 

Lebih jauh, karena notabene muslim adalah seorang manusia, maka kualitas seorang muslim tidak bisa dipisahkan dari keberadaan dan peran kemanusiaannya secara utuh. 

Sederhananya, idealitas seorang muslim bukan terletak pada dimensi vertical dan ibadah ritual an sich, tetapi juga dimensi horizontal yang menuntut keterlibatan diri, baik dalam transformasi sosial maupun dalam upaya mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh umat manusia, seperti kemiskinan, korupsi, terorisme, masalah lingkungan hidup, dan sebagainya. Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa seorang muslim sejati adalah seorang muslim yang humanis. 

Konsep humanis atau humanisme dalam kepribadian muslim di atas, berangkat dari konsep-konsep al-Qur’an terkait keberadaan dan peran manusia dalam kehidupannya. Pada konteks ini, al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam, menyebut manusia dalam beberapa terminologi, yaitu abd Allah, al-basyr, al-insan, al-naas, bani adam, al-ins, dan khalifah fi al-ardl. 

Dari terminologi-terminologi tersebut, yang kemudian dikombinasikan dengan perspektif filosofis-antropologis, setidaknya didapatkan sebuah formulasi pemahaman atas keberadaan dan peran manusia dalam kehidupan secara luas, yaitu sebagai hamba Tuhan, sebagai makhluk pribadi atau individu, sebagai makhluk sosial, dan sebagai khalifah di muka bumi. 

Keberadaan manusia sebagai hamba Tuhan, memberikan pemahaman bahwa ibadah kepada-Nya merupakan tujuan diciptakannya manusia. Di samping sebagai pernyataan sikap kerendahan hati seorang hamba, ibadah dan penghambaan tersebut secara ideal mengarah pada ketakwaan kepada Tuhan. 

Karena itu, idealisme pribadi muslim dalam posisinya sebagai hamba Tuhan (abd Allah), ditunjukkan oleh keberadaan iman dan takwa kepada-Nya. Konkritisasi dari hal tersebut dapat dilihat pada intensifikasi dan implementasi seluruh ajaran-ajaran Islam, sebagai bentuk penghambaan kepada Tuhan secara total.

Secara umum, definisi takwa (taqwa) menunjuk pada upaya menjalankan seluruh perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Pada konteks ini, takwa bukan berarti takut—dalam bahasa Arab adalah khauf— atau karena terpaksa, tetapi lebih dari itu, ketakwaan merupakan komplementasi antara kerendahan diri dan hati (tawadlu’), keridlaan atas segala yang diberikan-Nya (qana’ah), menjaga diri dari perbuatan yang dilarang-Nya, baik yang syubhat maupun haram (wara’), serta pemahaman yang dibingkai dengan hikmah. 

Dalam arti lain, ketakwaan merupakan fitrah berkesadaran yang termaknai dari keberadaan manusia sebagai hamba Tuhan, dimana cinta (mahabbah) menjadi sesuatu yang menyuburkan. 

Dalam keberadaannya sebagai makhluk pribadi atau individu, manusia merupakan perpaduan dimensi yang tidak terpisahkan, sekaligus menunjukkan hakikatnya, yaitu materialitas (jasmani) dan spiritualitas (rohani). Konsekuensi dari keberadaan dua dimensi tersebut, menjadikan manusia dalam kehidupannya selalu dilibatkan dalam upaya-upaya pemenuhan berbagai kebutuhan yang muncul dari keduanya. 

Hal ini merupakan realitas yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia, dimana berbagai upaya pemenuhan kebutuhan tersebut tidak lain adalah manifestasi dari potensi-potensi dasar (fitrah) dalam rangka perkembangan dirinya. 

Potensi material manusia, secara umum termanifestasi dari kemampuan yang muncul dari postur tubuh yang sempurna, kemampuan bicara yang sempurna, dan kemampuan adaptasi yang tinggi. Dengan kemampuan di atas, setidaknya manusia dapat mengembangkan dirinya secara jasmani, memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani, berkomunikasi dan bekerjasama dengan sesamanya, mengembangkan kebudayaan fisik, mengelola sumberdaya alam, dan sebagainya. 

Sementara potensi spiritual (rohani), menunjuk pada tiga potensi, yaitu pertama, potensi rasional, yang merupakan modal dasar dalam upaya eksplorasi dan pengembangan ilmu pengetahuan serta teknologi, memahami keberadaan dirinya dan seluruh realitas yang ada di sekitarnya, serta secara dinamis mengembangkan peradabannya. 

Kedua, potensi moral, yang memberikan kesadaran kepada manusia untuk menjadi individu yang selaras dengan tujuan-tujuan hidupnya yang esensial. Dengan kesadaran tersebut, manusia mampu menentukan baik dan buruk terkait nilai-nilai keberadaannya sebagai manusia. 

Di samping itu, keberadaan hati nurani merupakan faktor signifikan yang mendekatkan manusia kepada kewajiban dan tanggungjawab, serta menuntun manusia untuk senantiasa berpihak kepada kebaikan, kebenaran, dan keadilan. 

Ketiga, potensi religius, yang mengantarkan manusia dalam hubungan transendental dengan realitas immaterial. Dari sudut manusia, hal ini dipicu oleh kesadaran atas keberadaan dirinya yang hadir dalam kondisi yang penuh keterbatasan, ketidakberdayaan, dan ketidakpastian, dimana kesemuanya menunjukkan sisi kelemahan manusia dalam kehidupannya. 

Karena itu, manusia perlu bergantung pada realitas immaterial yang Sempurna dan menguasai seluruh kehidupan, yang kemudian dikenalinya sebagai Tuhan. 

Kesatuan potensi manusia di atas, baik material (jasmani) maupun spiritual (rohani), merupakan realitas dalam sifatnya yang dinamis. Maksudnya, potensi-potensi di atas berkembang sesuai dengan perkembangan manusia sebagai makhluk individu. 

Berkaitan dengan hal tersebut, maka seorang muslim memiliki kewajiban untuk mengembangkan dirinya menjadi pribadi yang sehat jasmani dan rohani, memiliki kecakapan yang dibutuhkan dalam hidup, mampu menyesuaikan diri dalam segala kondisi dan kreatif, berakhlak mulia, memiliki kesadaran tinggi terkait posisi dan perannya dalam kehidupan, mencintai ilmu, serta bertanggungjawab. 

Di sisi lain, adalah menghindari hal-hal yang bisa menghambat, bahkan menghancurkan potensi-potensi kemanusiaannya, seperti malas-malasan, mengkonsumsi narkoba dan minuman keras, melakukan bunuh diri, bersikap sombong, mencintai diri secara berlebihan, dan sebagainya.

Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial, menunjuk pada keberadaannya yang tidak bisa hidup tanpa kehadiran manusia lain. Diawali dengan kelahirannya, proses perkembangan hidupnya dalam berbagai dimensi kehidupannya, dan kelanjutan aspek biologisnya atau keturunannya, manusia secara mutlak membutuhkan orang lain. 

Sederhananya, posisi manusia sebagai makhluk individu yang unik dan satu-satunya, disebabkan oleh keberadaan individu-individu lainnya. Dari kumpulan individu tersebut kemudian lahir konsep sosial atau masyarakat, yang di dalamnya tidak bisa dilepaskan dari proses-proses sosial. 

Dalam kehidupan sosial di masyarakat, cinta kepada sesama manusia merupakan hal penting, terutama dalam membangun proses sosial asosiatif dan mengembangkan kepedulian kepada sesama manusia secara konstruktif dan positif. 

Dalam banyak hal, konkritisasi cinta dan kepedulian pada level ini dapat mengarah pada bentuk filantropi dan altruisme sosial. Di samping itu, pengembangan cinta kepada sesama dapat menghindarkan dari fenomena perilaku kekerasan yang kerap menjangkiti individu-individu dalam masyarakat. 

Manifestasi lain dari cinta kepada sesama manusia dapat diarahkan pada pelibatan diri dalam organisasi-organisasi sosial, terutama dalam upaya pengembangan sumberdaya manusia, baik melalui bidang pendidikan, agama, ekonomi, budaya, dan sebagainya. 

Hal di atas, tidak dipungkiri, merupakan idealitas dari keberadaan seorang muslim sebagai makhluk sosial. Keterlibatan diri dalam menyelesaikan berbagai permasalahan, seperti kemiskinan, terorisme, korupsi, dan lain-lain, serta upaya transformasi sosial, tidak hanya sebagai tanggungjawab moral dan sosial, tetapi juga diperintahkan oleh Islam. 

Pada titik inilah, dapat dipahami bahwa keberadaan ibadah dalam Islam tidak hanya mengarah pada ibadah ritual (mahdhah), tetapi juga ibadah sosial (ghairu mahdhah), dimana keduanya merupakan komplementasi dari religiositas seorang muslim.  

Manusia dalam posisi khalifah di muka bumi (khalifah fi al-ard), menunjuk pada keberadaan dan perannya sebagai makhluk lingkungan. Pada konteks ini, hubungan antara manusia dengan lingkungan tidak bisa dipisahkan. Manusia membutuhkan lingkungan sebagai tempat melangsungkan kehidupan dan eksistensi dirinya. 

Di sisi lain, lingkungan juga membutuhkan manusia, yang mana dengan potensi-potensi dasar (fitrah) yang ada pada dirinya, manusia merupakan makhluk yang paling berpotensi dalam tindak pelestarian lingkungan. Pada tataran filosofis, hubungan antara manusia dengan lingkungan merupakan sebuah kesadaran yang termaknai dan menjadi dasar serta inti dari eksistensi dan kepribadian manusia. 

Hubungan antara manusia dengan lingkungan, secara umum, memberikan dua makna kepada kehidupan manusia. Di satu sisi, makna yang dirasakan adalah meningkatnya kesejahteraan dan kualitas hidup manusia. Sementara di sisi lain, adalah terjadinya bencana dan sekaligus penurunan kualitas hidup manusia. 

Kedua hal tersebut merupakan realitas historis dalam kehidupan manusia, di mana keduanya berkaitan erat dengan perspektif atau sudut pandang manusia tentang lingkungan yang pada gilirannya termanifestasikan oleh perilaku-perilaku manusia dalam pengelolaan lingkungan. 

Dari sini dapat dikatakan bahwa kerusakan lingkungan hidup, baik yang ditunjukkan oleh berbagai fenomena alam, seperti tanah longsor, banjir, global warming, perubahan iklim (climate change), krisis air bersih, dan sebagainya, maupun pada penurunan kualitas sumberdayanya, tidak lain merupakan akibat dari perilaku manusia. 

Secara teologis, Islam menyatakan bahwa Tuhan merupakan pencipta sekaligus pemilik lingkungan hidup, dimana manusia diberi tugas dalam pengelolaannya secara proporsional. 

Dalam arti, meskipun manusia diberi kebebasan dalam pemanfaatan sumberdaya lingkungan hidup untuk kesejahteraannya, namun hal itu tidak bisa dilepaskan dari konsekuensi yang dikandungnya, yaitu tanggungjawab dalam konservasi lingkungan hidup. 

Kemudian dalam seluruh prosesnya, pengelolaan lingkungan hidup tidak boleh mengurangi, atau bahkan, menghilangkan hakikat kemanusiaan sebagaimana yang dimaksudkan oleh dasar teologis Islam di atas. Pengelolaan lingkungan hidup tersebut juga harus menyentuh dimensi kehidupan manusia, baik material maupun spiritual, serta diarahkan pada konstruksinya sebagai ibadah dan penghambaan kepada Tuhan. 

Karena itu, berbagai kampanye dan upaya dalam konservasi lingkungan harus didasarkan, digerakkan, dan diarahkan oleh keimanan dan ketakwaan kepada-Nya. 

Kemudian dalam kaitannya dengan kesejahteraan manusia, nilai-nilai Islam secara umum memberikan dasar bahwa pengelolaan dan konservasi lingkungan hidup harus bermanfaat bagi kemanusiaan secara luas, serta diarahkan pada peningkatan harkat dan martabat, serta kualitas religiositas manusia. 

Pada titik inilah, terletak idealisme kepribadian muslim dalam keberadaannya sebagai khalifah fi al-ard atau makhluk lingkungan. Maka wajar, jika seorang muslim dan umat Islam pada umumnya, diharapkan menjadi kelompok terdepan dalam berbagai kegiatan konservasi lingkungan hidup. 

Konsep humanisme dalam al-Qur’an di atas merupakan kesatuan integral dari kepribadian muslim yang mengiringi historisitas dan keberadaannya sebagai manusia. Dalam cakupan ini pula, kualitas seorang muslim menemukan relevansinya sebagai pribadi yang dituntut oleh Islam. 

Karena itu dapat dikatakan bahwa kebanggaan dan kebahagiaan menjadi seorang muslim terletak pada keberhasilan dalam menjalankan seluruh peran kemanusiaan di atas, baik sebagai hamba Tuhan, makhluk pribadi, makluk sosial, maupun khalifah di muka bumi. [*]