Terma ‘khalifah’ memang cukup kontroversi. Ketika kata ini diucap, pikiran kita sering kali langsung terbayang pada slogan yang cukup heroik dari akhi wa ukhti HTI. Apa pun problemnya, solusinya hanya satu, khilafah. Bahkan ampuh juga untuk mengurangi angka kejombloan, loh. 

Teman saya yang dahulunya aktivis HTI (sebelum dibubarkan secara legal-formal meski secara ideologi masih bergentayangan) tidak mau ta’aruf dengan ukhti di luar haloqah mereka. Luar biasa, bukan? HTI sudah mempersiapkan jodoh untuk kadernya, tidak seperti NU dan Muhammadiyah, he.

Tulisan ini tidak berkepentingan membahas konsep khilafah yang sudah tereduksi menjadi sistem politik teokrasi agama semacam itu, tapi melihat beberapa tawaran interpretasi atasnya. Ayat yang sering dijadikan pijakan adalah surah al-Baqarah ayat 30.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat sesungguhnya Aku hendak seorang khalifah dimuka bumi ini”

Dalam beberapa karya tafsir, kata khilafah setidaknya mengarah kepada dua kemungkinan makna, yaitu yang berkaitan dengan ‘penggantian’ dan ‘kekuasaan’. Terkait makna yang pertama, Imam al-Thabari dalam magnum opus-nya Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an mengatakan bahwa seseorang disebut khalifah

أنه خـلف الذي كان قبله، فقام بـالأمر مقامه، فكان منه خـلفـاً

“karena ia menggantikan orang sebelumnya, melaksanakan perkaranya, maka dia menjadi pengganti dari orang tersebut.”

Ada diskusi yang cukup menarik di kalangan mufasir mengenai siapa yang digantikan dari penciptaan Adam ini. Imam al-Thabari menyuguhkan beberapa riwayat. 

Di antaranya dari Ibn ‘Abbas yang berpendapat bahwa sebelumnya Allah telah menciptakan makhluk dari bangsa jin. Mereka  saling menumpahkan darah, lalu Allah ciptakan Adam sebagai pengganti. 

Riwayat lain menjelaskan, yang dimaksud pengganti adalah bahwa umat manusia saling menggantikan satu sama lain. Generasi belakangan akan menggantikan umat terdahulu, dan begitu seterusnya ila yaumil qiyamah. Dalam pengertian ini, maka semua manusia (muslim dan non muslim) adalah khalifah.

Adalah Shahrour yang mencoba menawarkan interpretasi yang cukup unik terhadap makna pertama tersebut. Baginya, peniupan ruh kepada Adam menandakan bahwa Adam menjadi pengganti makhluk sebelumnya yang berasal dari alam hewan (al-mamlakah al-hayawaniyah). 

Di sini, ia coba mendamaikan antara penciptaan manusia pertama dalam teologi Islam dan teori Evolusi Darwin dalam dunia sains. Sebelum Adam, telah hidup makhluk yang disebut Homo Erectus (al-basyar), lalu Tuhan tiupkan ruh kepada Adam sehingga al-basyar naik derajatnya menjadi al-insan (Homo Sapiens).

Terkait makna kedua dari kata khalifah, saya akan mengutip pendapat almarhum Shahrour lagi, sosok yang pernah jadi sorotan karena disertasi Abdul Aziz yang kontroversial itu. 

Anda boleh tidak setuju dengan beberapa pendapat Shahrour, tapi sebagai kaum pembelajar kita tak boleh ‘alergi’ lalu melakukan generalisasi seakan-akan semua pendapatnya harus dibuang ke tempat sampah begitu saja. 

Dengan kajian objektif (bukan emosional), kita coba memilah mana yang disetujui dan bagian mana yang ditinggalkan.

Dalam mengomentasi surah al-Baqarah ayat 30, Shahrour dalam karyanya al-Kitab wa al-Qur’an Qiraah Mu’ashirah menuliskan

فخلافة الإنسان لله فى الأرض هي أن أعطاه سلطة من سلطاته

“Kekhalifahan manusia terhadap Allah di bumi adalah (ketika) Dia memberikan kepada manusia sejumlah kekuasaan dari kekuasaan-Nya”.  

Dalam pengertian ini, semua manusia baik Muslim atau bukan sama-sama diberi kesempatan yang sama untuk menjadi khalifah di muka bumi karena al-Baqarah ayat 30 di atas merupakan ayat rububiyyah. Pembedaan konsep antara rububiyyah dan uluhiyyah harus dilakukan terlebih dahulu.

Dalam pandangan Shahrour, rububiyyah merujuk kepada posisi Allah sebagai Tuhan Penguasa jagat raya, Dialah rabb al-‘alamin (Tuhan sekalian alam). Dialah Tuhan Penguasa atas seluruh makhluk-Nya, baik mereka mengakui-Nya atau tidak. Dia adalah rabb Nabi Muhammad sekaligus rabb Abu Jahal.

Sedangkan uluhiyyah merujuk kepada posisi Allah sebagai Sesembahan kaum beriman. Wa ilahukum ilahun wahid, dan Tuhan Sesembahan kalian adalah Tuhan Yang Esa. Dia adalah ilah-nya Nabi Muhammad tapi bukan ilah-nya Abu Jahal. 

Singkat kata, rububiyyah adalah hubungan penguasaan dan kepemilikan yang bersifat mutlak, sedang uluhiyyah adalah hubungan ketaatan yang bersifat pilihan.

Karena itu, seluruh manusia baik beriman atau kufur berperan sebagai khalifah Allah dalam pengertian rububiyyah. Mereka menjadi pemilik bumi, penguasa, pemanfaat, dan pengaturnya. Mereka yang paling piawai mengatur bumi adalah al-rasikhuna fi al-‘ilm, yaitu orang-orang yang mendalam ilmunya. 

Mereka tidak terbatas pada kelompok ahli syariat saja, menurut Shahrour, tetapi juga para filosof, ahli ilmu alam, ahli filsafat sejarah, pakar arkeologi, pakar elektronik, dan lain-lain. 

Di saat-saat pandemik sekarang, kita bisa sebut al-rasikhuna fi al-‘ilm adalah kelompok dokter dan tenaga medis yang berusaha keras menyelamatkan kehidupan.

Dengan pengertian ini, tidak sepantasnya kita sebagai umat beriman menutup diri dari kelompok lain. Kita bisa saling belajar dari golongan yang tidak seagama atau ateis sekalipun karena mereka sudah diberikan sejumlah kekuasaan dari kekuasaan-Nya untuk mengatur dan menjadi khalifah di muka bumi.