Lecturer
5 bulan lalu · 325 view · 5 min baca menit baca · Politik 59596_20422.jpg
Magician in Action, Drawn By Rasha Putra Permata

Muslihat alias Tipu Daya

Semua pemenang dari segala masa pasti kenal, paham, dan mahir mempraktikkan kata-kata dalam judul tulisan ini. Siapa saja dia, jika dia telah, akan, dan ingin menang di hidup ini, maka pastilah muslihat menjadi metode meraih kemenangan itu. 

Dari era modern, saya yakin tak ada yang tak kenal Diego Maradona, yang dengan muslihat berbalut kata-kata agung, “Tangan Tuhan”, yang berhasil membawa negaranya, Argentina menjuarai Piala Dunia sepak bola tahun 1986 di Mexico.

Contoh lain, mungkin adalah orang yang tak asing dan teramat dirindukan bagi para pemuja Orde Baru, orang yang menggelari dirinya sendiri sebagai Jenderal Besar, yaitu Soeharto.

Pemimpin besar Orde Baru itu, dengan muslihat yang teramat canggih, bisa membalikkan sebuah aksi petualangan yang bernama Gerakan 30 September menjadi sebuah jalan tol menuju kekuasaan bagi dirinya (lihat buku Materialisme Sejarah Peristiwa Gerakan 30 September 1965 karangan Harsa Permata, 2015)

Bagaimana tidak? Sebagian besar pelaku G30S adalah orang-orang yang telah bersentuhan secara akrab dengannya. Letkol Untung adalah anak buahnya. Bahkan saking akrabnya, Soeharto rela datang ke pesta pernikahan Untung di Purworejo sana. 


Selain itu, ada Kolonel Latief yang juga merupakan orang yang dikenal akrab olehnya. Saking akrabnya, Latief bahkan terang-terangan membongkar aksi petualangan G30S pada Soeharto sebelum aksi tersebut dilaksanakan (lihat buku Kesaksianku tentang G30S karangan Soebandrio).

Mau contoh yang lain lagi? Apa sudah cukup puas dengan dua contoh tadi? Kalau belum puas, baiklah, saya beri satu contoh lagi. 

Tim nasional sepak bola Italia, pada tahun 2006, secara tak terduga berhasil menjuarai Piala Dunia sepak bola di Jerman. Mau tahu kenapa mereka berhasil? Salah satu faktor keberhasilan Italia di pertandingan final adalah muslihat dari Materazzi yang berhasil memancing emosi gelandang tengah kenamaan Prancis, Zinedine Zidane, untuk menyeruduknya. 

Pengakuan Zidane pasca pertandingan membongkar aksi muslihat Materazzi. Sumpah serapah dan hinaan Materazzi terhadap dirinya dan keluarganyalah yang membuat Zidane mengamuk dan melakukan aksi seruduk.

Ada banyak sekali contoh pengguna “muslihat” yang berhasil menjadi pemenang. Boleh dikata, manusia atau kelompok, yang tidak bisa atau kurang lihai memainkan muslihat, hanya akan berujung menjadi pecundang yang terkalahkan. 

Inggris contohnya, tim sepak bolanya sering kali menjadi pecundang di berbagai kompetisi level Eropa maupun dunia. Mengapa begitu? Mereka terlalu polos, terlalu dipengaruhi jiwa kesatria. Tidak terbiasa bermain curang. Walaupun mereka memiliki banyak pemain bertalenta, Inggris selalu menjadi pecundang, karena tak lihai memainkan muslihat.

Kalau boleh menyimpulkan, secara umum para pecundang, orang-orang yang kalah, adalah mereka yang kurang canggih muslihatnya, tak paham menggunakan muslihat, atau orang-orang polos, yang gampang ditipu mentah-mentah. Begitulah muslihat. '

Di berbagai lini kehidupan, semua pemenang pasti menggunakannya. Baik itu di gelanggang politik, ekonomi, olahraga, bahkan dalam bidang seni budaya, juga ada para pengguna muslihat. Mereka yang menyuarakan “seni untuk seni” ketika rakyat dan negara-negara dunia ketiga, bekas jajahan negara-negara dunia pertama, alias negara adikuasa, menyuarakan seni untuk rakyat, yang anti imperialisme, kolonialisme, dan kapitalisme. 

Mungkin sangat sedikit yang tahu dulunya bahwa beberapa anggota geng Manikebu (Manifes Kebudayaan), yang salah satunya adalah Goenawan Mohamad, pernah menjalin kontak dengan antek CIA (Central Intelligence Agency), Ivan Kats, yang bekerja untuk lembaga bentukan CIA yang bernama Congress for Cultural Freedom (CCF). 

Adalah Wijaya Herlambang, salah seorang aktivis pers mahasiswa di era 90-an, yang berhasil melakukan penelitian ilmiah untuk membongkar tipu daya para seniman Manikebu dalam bidang seni budaya pada era pemerintahan Bung Karno. Penelitian ilmiah tersebut dibukukan dengan judul Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme melalui Sastra dan Film.

Dalam sejarah nusantara pun kita bisa lihat bagaimana muslihat digunakan oleh Kepala Garong yang bernama Ken Arok untuk mengambil alih kekuasaan dari Tunggul Ametung. Ken Arok yang kemudian mendirikan Kerajaan Singosari berhasil membunuh Tunggul Ametung dengan keris yang dibuat oleh Mpu Gandring, yang juga dibunuh olehnya. 


Setelah membunuh Tunggul Ametung, keris tersebut diletakkannya di genggaman Kebo Ijo yang sudah dibuat mabuk oleh Ken Arok. Kebo Ijo kemudian yang dipersalahkan atas kematian Tunggul Ametung, sementara Ken Arok berhasil berkuasa dan mempersunting janda Tunggul Ametung, yaitu Ken Dedes. 

Kisah ini bisa dibaca pada buku karangan Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Arok Dedes. Kudeta merangkak Ken Arok ini pada dasarnya mirip dengan kudeta merangkak Soeharto terhadap Soekarno pada tahun 65-66.

Terkadang kita hanya bisa menyadari setelah terkena muslihat. Semisal dalam sebuah wawancara kerja atau beasiswa, kita dicecar pertanyaan yang tidak masuk akal, bahkan cenderung rasis. 

Ada seorang teman saya yang ikut sebuah wawancara untuk mendapat beasiswa S3 ke luar negeri. Seperti lazimnya universitas di negara-negara Eropa, calon mahasiswa tingkat doktoral bisa langsung berkorespondensi dengan calon supervisor untuk menyusun proposal guna mengirim aplikasi pendaftaran. 

Hal yang lucu, aneh, dan tidak logis kemudian adalah ketika salah seorang pewawancara keberatan dengan latar etnis dari supervisor teman saya, yang kebetulan adalah seseorang yang berlatar etnis Tionghoa. Si pewawancara bahkan nyeletuk, “Cina, kan, komunis?”

Teman saya saat itu agak shock dan kecewa sedalam-dalamnya. “Mengapa orang goblok ini bisa terpilih menjadi pewawancaraku, ya?” begitu katanya dalam hati. 

Itulah muslihat yang dirasakan teman saya. Semua pernyataannya dibantah dengan segala macam cara. Tujuannya adalah supaya orang-orang pesanan, yang sudah direncanakan untuk lulus ujian beasiswa, akan dengan mudah mendapatkannya.

Dari pemahaman akan muslihat inilah maka kita bisa paham bahwa, boleh dikata, hampir tidak ada orang yang tidak beruntung dalam hidup ini. Pada dasarnya, mereka yang “tidak beruntung” itu sebenarnya adalah orang-orang yang tak mau atau tak bisa menggunakan muslihat. Pengecualian, mungkin, untuk mereka yang benar-benar apes.

Untuk pemilu presiden tahun 2019, prediksi saya, yang menang adalah yang pintar memainkan muslihat. Entah seperti apa bentuk muslihatnya. Pasangan capres dan cawapres yang polos akan kalah dan takkan mendapat apa-apa. 

Akan tetapi, harus dibedakan yang terlihat polos dan yang benar-benar polos. Belum tentu yang terlihat polos tidak menyiapkan suatu muslihat pula untuk kemenangannya.


Dalam berbagai kasus hoaks, yang mengemuka pada drama politik Indonesia akhir-akhir ini, misalnya, baik itu hoaks Ratna Sarumpaet maupun hoaks 7 kontainer surat suara, kita benar-benar harus berpikir dalam, untuk paham siapa dan pihak mana yang sebenarnya sedang memainkan muslihatnya? 

Pihak mana yang diuntungkan kalau dilihat dari permukaan, dan pihak mana pula yang diuntungkan kalau kita perhatikan lebih dalam? Karena dengan situasi seperti ini pulalah Donald Trump, yang sebelumnya tidak masuk hitungan, bisa memenangi Pemilu Presiden Amerika Serikat tahun 2016. 

Begitulah hidup ini berjalan. Yang pintar dan baik belum tentu menang. Yang pintar-pintar dan kelihatan baik, itulah yang selalu menang. Oleh karena itu, jika ingin selalu menang, maka pintar-pintarlah dalam hidup.

Artikel Terkait