Sedari awal munculnya Covid-19, sudah membuat kalang kabut semua elemen masyarakat. Dari pucuk pimpinan negara, hingga rakyat biasa, semua dibuat tak berdaya. 

Kita semua tahu dampak hadirnya makhluk Tuhan yang tak direncana itu. Matinya banyak orang, kesehatan yang terancam, ekonomi yang terjun bebas, banyak usaha yang gulung tikar, banyak orang kehilangan pekerjaan. Belum lagi proses pendidikan yang tidak lagi normal, kegiatan ibadah yang terpaksa dirumahkan, tak ada lagi kebebasan bepergian, dan lain sebagainya.

Setelah kondisi dinyatakan new normal sekitar 2 bulan yang lalu, saat ini ketegangan bergulir kembali. Penyebaran Covid meningkat lagi. Orang-orang yang sudah merasa bahagia, sedikit bisa bernapas lega, bisa keluar rumah lagi, bisa mengeksekusi usaha baru, saat ini kembali diingatkan untuk waspada. Meskipun ada juga yang menganggapnya biasa saja. Seperti di awal Covid-19 datang, pro dan kontra selalu ada. Saat ini pun masih sama.

Namun selama masalah Covid-19 belum selesai, cepat atau lambat semua orang akan merasakan dampaknya. Efek pembatasan interaksi antarorang, demi menjaga agar tidak tertular Corona, berujung pada masalah ekonomi. Karena sebagian tonggak ekonomi berbasis pada interaksi antar manusia. 

Usaha-usaha yang masih berbasis konvensional akhirnya banyak yang gulung tikar. Juga usaha yang mengandalkan kehadiran orang, seperti pariwisata, perhotelan, rumah makan, kos-kosan, dan lainnya banyak yang collapse.

Dan banyaknya usaha yang omsetnya menurun drastis yang mengakibatkan adanya PHK karyawan besar-besaran, ini tentu menyebabkan masalah ekonomi menjadi semakin krusial. Meskipun ada bantuan dari pemerintah untuk masyarakat yang terkena dampak pandemi, namun kebutuhan hidup sehari-hari terus bergulir. Akhirnya masalah ekonomi bukan hanya sekadar kebutuhan makan untuk hidup, tetapi berimbas menjadi krisis sosial.

Seorang kawan mengabarkan, di Jakarta, ada temannya tertangkap saat mencuri beras di sebuah toko swalayan baru-baru ini. Orang itu mencuri bukan karena dia penjahat, tapi karena lapar. Dia sudah kehilangan pekerjaan sejak 3 bulan lalu, sementara anak istrinya harus tetap makan. 

Itu hanya salah satu contoh, dari krisis sosial yang mulai merebak. Bukankah itu peristiwa yang sangat memprihatinkan?

Dalam kondisi seperti ini, posisi warga yang tinggal di desa sepertinya lebih menguntungkan jika dibanding mereka yang tinggal di kota-kota besar. Di desa, masih ada kebun, sawah yang bisa ditanami untuk sekadar makan keluarga sendiri. Sementara di kota, jika tidak ada pekerjaan, kondisi akan sangat sulit sekali. Apalagi jika hunian masih ngontrak, anaknya banyak, potensi terkena covid pun tinggi. Ini pasti menjadi sebuah tekanan tersendiri bagi sebagian orang.

Potensi perceraian pun bisa meningkat. Bagaimana tidak? Dalam tekanan ekonomi dan psikologis, orang bisa kehilangan kontrol emosinya. Sehingga pertengkaran rumah tangga kemungkinan akan sering terjadi. Efek domino dari pandemi yang tengah terjadi memang berimplikasi jauh pada segala sisi kehidupan masyarakat kita.

Melihat besarnya dampak pandemi, selain masalah kesehatan yang memang perlu diperhatikan, saya rasa maslah ekonomi juga sangat penting untuk diatasi. Jika masyarakat selama pandemi ini dianjurkan untuk berhemat, demi kelangsungan kehidupan masing-masing keluarga. Saya malah berpikir sebaliknya. Mereka yang masih mampu secara ketahanan finansial, justru jangan berhemat.

Untuk kalangan masyarkat yang tengah terjepit ekonominya, baik karena efek pandemi maupun bukan, berhemat mungkin saran yang efektif.  Namun bagi mereka yang mampu, ketakutan untuk berbelanja, sehingga memilih untuk berhemat justru bisa menjadi bumerang bagi ketahanan ekonomi kita.

Bayangkan, jika anjuran berhemat ini diterapkan oleh semua orang di negeri ini, maka perputaran ekonomi akan sangat lambat. Semua orang meng-hold uangnya, tidak ada perputaran uang yang massive. Ini justru berbahaya. Bisnis-bisnis yang menjadi penopang ekonomi negara akan makin banyak yang tumbang. Tentunya itu akan mengakibatkan krisis ekonomi yang lebih parah.

Siapa yang akan membeli baju, untuk kelangsungan usaha konveksi jika bukan anda? Siapa yang akan membeli HP dan televisi, untuk kelangsungan usaha elektronik, jika bukan anda. Siapa yang akan membeli kompor, panci, piring untuk kelangsungan usaha peralatan rumah tangga jika bukan anda? Maka belanjalah sebanyak-banyaknya. Selagi casflow keuangan anda masih aman, saya rasa belanja ini justru menyelamatkan banyak orang.

Dan saat ini banyak usaha mikro bermunculan. Barangkali mereka yang kehilangan pekerjaan akhirnya membuka usaha kecil tersebut. Larisilah dagangan mereka. Teman-teman kita yang merintis usaha makanan, belilah. Saudara kita yang baru buka usaha home dress, belilah dagangannya. 

Meskipun belanjaan itu bukan untuk diri kita sendiri. Misalnya untuk disedekahkan, untuk hadiah, untuk dijual kembali, dan lain sebagainya. Meski hanya membeli nasi bungkus di warung tetangga anda, belilah.

Jangan berhemat. Karena penghematan oleh anda yang mampu akan membawa dampak yang sangat nyata bagi menurunnya perputaran uang di masyarakat. Jika hal itu dilakukan oleh sebagian besar masayarakat negara ini.

Pandemi entah sampai kapan. Kita tidak bisa berpangku tangan mengandalkan pemerintah untuk menangani semua persoalan. Jika belanja kita bisa menjadi jalan rezeki untuk saudara-saudara kita yang tengah membutuhkan, tentu itu akan sangat membantu mereka mendapatkan rezeki. 

Apalagi jika belanjaan kita dibagikan kembali kepada yang tengah terjepit ekonomi. Sembako, misalnya, itu tentu akan sangat membantu dan mengenyangkan perut mereka yang kesulitan makan saat ini.

Jadi, jangan simpan uang anda, belanjakanlah!