Sudah lebih dari tujuh bulan kita dipaksa untuk di rumah saja. Bukan tanpa alasan, tapi memang karena keadaan. Saat ini dunia sedang dihebohkan dengan tamu tak diundang, korona namanya. Kasus positif korona atau COVID-19 di Indonesia masih terus bertambah, ya meskipun sudah turun dari hari kemarin. Alhamdulillah.

Bulan-bulan berlalu, banyak upaya yang dilakukan, namun belum ada penyelesaian yang benar-benar menghentikan pandemi ini. Masyarakat pun sudah bosan dengan peraturan yang ruwet dan berita yang simpang siur tak berujung.

Saking bosannya, masyarakat berlomba-lomba mencari kegiatan yang asyik di tengah pandemi ini. Baik untuk pekerjaan maupun hanya hiburan. Mulai dari berkebun, praktik memasak, membuat kerajinan, hingga bermain layang-layang.

Bermain layang-layang memang menjadi pilihan terbaik saat ini, ditambah lagi dengan kondisi angin yang sangat mendukung. Menurut BMKG, penyebab angin di Indonesia berhembus lebih kencang dari biasanya adalah badai tropis di sekitar Filipina dan musim pancaroba yang sedang berlangsung di Indonesia.

Angin kencang disambut dengan gembira oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Hal ini dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengisi waktu luangnya. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa dengan semangat membuat layang-layang dan menerbangkannya saat angin mulai bertiup kencang.

Tak hanya memainkan saja, ternyata banyak manfaat yang bisa diambil dari bermain layang-layang. Saat menerbangkan layang-layang diawali dengan berlari dan menarik benang sekuat tenaga. Tanpa disadari kegiatan ini membuat badan kita lebih sehat dan menjaga imunitas tubuh agar kebal dari virus dan penyakit.

Menerbangkan layang-layang juga dapat membantu mengurangi kecemasan dan depresi, sehingga stres akibat pandemi dapat teratasi. Selain itu, dengan bermain layang-layang kreativitas masyarakat semakin terasah. Banyak yang membuat layang-layang dengan bentuk anti mainstream.

Tidak seperti zaman dahulu yang bentuknya hanya monoton segi empat. Sekarang, layang-layang dibentuk beraneka ragam. Mulai dari bentuk kuntilanak, keranda jenazah, wajah kekeyi, hingga layang-layang model lama yang dimodifikasi menyerupai ekor naga.

Setiap sore, penerbang layang-layang dan penonton setianya berbondong-bondong menuju tanah lapang untuk menikmati indahnya langit senja yang dihiasi warna-warni layang-layang. Gemerlap lampu layang-layang yang diterbangkan hingga malam hari pun turut meramaikan angkasa.

Tak hanya dinikmati keindahannya, layang-layang pun bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Banyaknya peminat layang-layang membuat bisnis jual-beli layang-layang bisa menjadi pilihan. Peluang bisnis ini dapat dipilih sehingga ekonomi lesu akibat pandemi dapat teratasi.

Di samping keindahan layang-layang yang mengudara, ada berbagai pihak yang merasa dirugikan. Petani misalnya. Tanaman petani yang sedang bersemi sering kali rusak karena diinjak-injak para penerbang layang-layang. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi para petani jika tanamannya akan gagal panen.

Baca Juga: Bermain Layangan

Saya kerap melihat para petani sedang memarahi penerbang layang-layang. Tak hanya anak-anak, bahkan orang dewasa juga ikut dimarahi. Sayangnya, mereka tampak acuh dan tidak menggubris nasihat para petani.

Bukan petani saja yang dirugikan atas rusaknya lahan pertanian mereka. Masyarakat sekitar juga ikut terganggu dengan aksi lari-lari pengejar layang-layang putus yang tidak menghiraukan keadaan jalan yang mereka lewati. Bahkan tak jarang terjadi kecelakaan akibat kelalaian ini.

Benang layang-layang pun ikut memakan korban, di Solo Jawa Tengah, seorang pengendara motor lehernya tersayat benang layang-layang hingga meninggal dunia. Sungguh kejadian yang tak diinginkan, bukan?

Di sekitar tempat tinggal saya, tepatnya di Magetan Jawa Timur banyak yang membuat layang-layang dengan bentuk sawangan. Layang-layang ini dilengkapi dengan lampu kelap-kelip dan pita yang menimbulkan suara saat bergesekan dengan angin.

Memang menyenangkan saat melihat gemerlap dan mendengar gaungan layang-layang jenis ini. Sayangnya, para penerbang layang-layang sering menginapkan layang-layangnya hingga pagi hari. Hal ini sangat mengganggu waktu istirahat masyarakat sekitar.

Listrik PLN juga kena imbasnya. Banyak daerah di Indonesia yang dikejutkan dengan pemadaman listrik mendadak yang tidak seperti biasanya. Usut punya usut, ternyata layang-layang lagi masalahnya. Layang-layang yang tersangkut di salah satu kabel tegangan tinggi PLN menyebabkan gangguan aliran listrik PLN.

Banyak sekali kejadian yang meresahkan masyarakat akibat layang-layang. Kini pihak berwajib semakin tegas dalam mengatasi permasalahan ini. Mulai dari membuat peraturan hingga sanksi tak main-main bagi penerbang layang-layang yang membahayakan dan merugikan masyarakat.

Musim layang-layang di masa pandemi ini memang menjadi dilema masyarakat. Di satu sisi masyarakat bosan dan membutuhkan kegiatan hiburan, di sisi lain layang-layang menimbulkan banyak kejadian tak diinginkan. Untuk mengatasinya memang tidak ada cara yang instan, harus step by step.

Kita tidak bisa menyerahkan permasalahan ini sepenuhnya kepada pihak berwajib. Untuk itu, kesadaran diri masing-masing sangat dibutuhkan. Bermain boleh, tapi mematuhi peraturan dan menjaga keselamatan bersama jauh lebih penting. Hal kecil ini harus kita tanamkan dalam diri sendiri. Kalau tidak dimulai dari kita, lantas siapa lagi?